Locita

Ketika Kyai Saleh Berkunjung ke Tempat Pelacuran

Ilustrasi : Kosmpas.com

KYAI Saleh mengernyitkan dahi. Seusai salat subuh, semua jamaah pulang. Semua memilih kembali ke rumah. Tidak ada yang mau ikut pengajian subuh seperti biasanya. Kyai Saleh menduga-duga, para jamaahnya sedang mengerjakan sesuatu yang lebih penting dari pada ikut pengajian. Walhasil itu kali pertama Kyai Saleh tidak melakukan pengajian ba’da subuh.

Kejadian yang sama terjadi setelah magrib. Lebih parah lagi, tak satupun jamaah yang maju mencium tangannya seperti biasanya.

Ada apa?” Kyai Saleh bertanya kepada Sampara, satu-satunya jamaah yang tersisa seusai salat magrib.

“Saya juga tidak tahu Kyai”

“Cari tahulah! Sampara mengangguk. Dia pun penasaran dengan perubahan sikap para warga. Meski hanya Sampara, Kyai Saleh tetap menggelar pengajian usai salat magrib.

Seminggu berlalu. Kyai Saleh diboikot oleh jamaahnya. Kyai Saleh tersenyum setelah mendengar laporan dari Sampara. “Kyai… ada salah seorang jamaah melihat pak Kyai keluar dari salah satu kawasan pelacuran.” Sampara melaporkan hasil penyelidikannya.

“Oh…ya?”

“Mereka tidak percaya lagi sama Kyai. Katanya percuma kita mendengar kata-kata ceramah dari seorang ahli maksiat. Mereka merasa tertipu Pak Kyai”

“Apakah kamu juga merasa tertipu, Sampara?”

“Terus terang, saya tidak percaya kalau Kyai mengunjungi tempat itu.”

“Benar Sampara. Saya memang sering mengunjungi tempat prostitusi.”

“Wahhh…. Pak Kyai menipu kami?? Pak Kyai sok suci?” Sampara meninggikan suara. Marah sekaligus sedih. Kyai yang sangat dikaguminya ternyata lelaki bejat.

Kalian ini memandang kebenaran hanya dengan penglihatan mata. Ini yang merusak Islam. Kalian hanya percaya yang kalian bisa lihat dengan mata bukan yang kalian lihat dengan hati.”

“Jangan bertele-tele Pak Kyai. Pak Kyai kan sudah mengaku sering mengunjungi tempat prostitusi itu.”

“Ya… sudah untuk menghormati cara pandang kalian. Saya akan berhenti mengunjungi tempat itu. Tetapi tolong, kamu ajak dua orang terutama yang melihat saya itu ke sana. Bawa amplop ini. Disitu tertulis nama orang yang harus kalian temui.” Meski masih dongkol, Sampara menerima tugas ini.

Sejujurnya dia tidak yakin kalau Kyai Saleh berbuat maksiat tetapi pengakuan Kyai Saleh membuat kepercayaannya jatuh.Sampara dan dua orang warga menjalankan tugas. Mereka mendatangi tempat prostitusi tempat kyai Saleh sering berkunjung. Di amplop itu tertulis nama Lia. Tanpa basa-basi, Sampara dan dua orang lainnya menanyakan siapa yang bernama Lia.

Satu orang perempuan berpakaian seksi datang mendekat. Dia mengaku bernama Lia. Sampara segera memberikan amplop titipan dari Kyai Saleh. “Ini dari mana?”

“Dari Kyai Saleh?

“Kyai Saleh??? Wah beliau langganan kami.” Mata perempuan itu berbinar. Sampara dan kedua temannya menggelengkan kepala. Mereka tidak kuasa membayangkan seorang kyai yang dihormati ternyata sering ke tempat ini. Sampara benar-benar geram.

“Mana beliau?”

“Tidak sempat datang. Dia hanya menitip amplop.”

“Alhmadulillah. Hari ini giliran saya mendapatkan uang halal,” kata perempuan seksi itu kegirangan.

“Apa maksudnya?” Sampara terdengar bingung.

“Ya.. setiap bulan Kyai Saleh datang ke tempat ini, dan memilih salah satu dari kami agar mendapatkan kesempatan mendapatkan uang halal.”

Sampara makin kebingungan. Begitu juga dua orang temannya. Mereka mulai menduga-duga sesuatu.

“Saya belum mengerti apa maksud Anda.”

“Begini……” Lia mulai bercerita.

Beberapa bulan yang lalu, tempat pelacuran ini dikagetkan oleh kedatangan seorang lelaki paruh baya. Gayanya tak lazim. Dia memakai surban dan sarung. Salah seorang mengenalnya sebagai Kyai Saleh. Pihak keamanan menghalangi lelaki itu.

“Pak.. disini bukan tempat bapak. Tidak usah ceramah disini.” Kata kepala keamanan.

“Maaf. Ini tempat umum kan? Saya datang untuk menyewa salah seorang gadis disini? Apa saya tidak boleh?”

“Tapi… anda ini Kyai Saleh kan? Apa anda tidak malu?”

“Kalau anda sendiri tidak malu bekerja disini, mengapa saya harus malu” kata Kyai Saleh. Kepala Keamanan tertunduk malu.

“Berapa tarifnya…” kata Kyai Saleh kepada orang yang disebut manajer.

“Kyai mau short time atau long time

“Apa itu?”

Short time, hanya sejam. Kalau long time sepanjang malam”

“Saya mau sehari semalam” Manajer itu meski kebingungan menyebutkan harga. Kyai Saleh mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar. Kyai Saleh kemudian memilih salah seorang cewek. Karena Kyai Saleh telah membooking sehari semalam. Dia boleh membawa cewek itu keluar. Kyai Saleh mengajak cewek yang dipilih keluar.

“Dimana rumahmu, nak?”

“Kenapa Kyai?”

“Ikutlah di mobilku. Aku akan mengantarmu pulang”

“Bukankah Pak Kyai sudah membayar”

“Ya…. Aku menebusmu hari ini. Agar kamu bisa punya waktu dengan anak-anakmu. Ini uang tips. Hari ini hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Saya ingin berbagi rezeki halal. Semoga dengan rezeki halal ini, berkah dari Allah SWT datang kepadamu dan kamu diberi petunjuk”.

“Begitulah….Setiap bulan Kyai Saleh pasti datang ketempat ini. Dan menebus kami. Agar kami bisa menikmati rezeki halal.” Kata Lia mengakhiri ceritanya.

Sampara dan kedua orang temannya terperangah mendengar cerita Lia. Subuh hari, seusai salat subuh, Kyai Saleh duduk di tengah. Jamaah kembali ramai berkumpul untuk mendengar wejangan Kyai Saleh. Kyai Saleh tersenyum melihat wajah Sampara yang salah tingkah. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu. Kyai melanjutkan pengajian kitabnya.

Avatar

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Tentang Penulis

Avatar

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.