Locita

Sopir Truk : Dari Cita-Cita Mulia Hingga Musik Pantura

Sumber Foto: kepoworld.blogspot.com

SEKALI waktu, ketika masih bersekolah, guru meminta kami menulis esai dengan topik “Impianku” dan setengah anak laki-laki di kelas menuliskan “sopir truk”. (Di Bawah Bendera Merah, Mo Yan ( 2010 ).

Apa yang pertama kali terlintas di benak kita ketika mendengar kata truk ? Atau saat kita berada di jalan dan melihat truk melaju dengan kecepatan tinggi ? Atau saat kita melihat tulisan dan gambar yang ada di belakang truk ? Seringkali kita mendengar umpatan, gelak tawa, hingga pujian keluar dari yang menyaksikan.

Truk adalah kendaraan yang unik dan sekaligus misterius dibalik pesan-pesan yang dibawanya. Tulisan ini akan menunjukan metamorfosis truk dari kendaraan yang paling mulia hingga musik pantura.

Selain dikenal sebagai kendaraan pengangkut barang, hewan ternak, sesekali manusia, truk adalah tempat bermain bagi anak. Kedekatan mereka amat intim. Anak membayangkan truk sebagai monster yang mampu membawa mereka ke mana pun.

Anak-anak mungkin saja membayangkan di dalam truk ada ber-rak mainan, makanan dan minuman yang bisa mereka pilih. Suara truk sebagai sirine pemanggil kegembiraan. Mereka lekas bersahut-sahutan jika melihat truk.

Bahkan di Cina, sopir truk pernah menjadi cita-cita terheroik bagi anak laki-laki. Dalam buku Di Bawah Bendera Merah tulisan sastrawan Cina peraih Nobel Sastra Mo Yan (2010).

Pada masa kecilnya, pengemudi truk adalah orang terpandang kedua setelah keluarga kerajaan. Sopir truk dijadikan sebagai cita-cita hampir semua anak jelata yang bersekolah rendah di Cina pada dekade 1960-an.

Anak-anak pada masa itu tidak sempat membayangkan untuk menjadi guru, pilot, dokter, tentara dan cita-cita yang lazimnya dibanggakan oleh anak-anak masa kini. Hanya suara mesin truk yang membuat mereka berhenti makan dan berlari menonton truk yang melaju: Gaz 51.

Saat perang, kereta api perang berkobar, sementara truk telah menerjang ke depan dengan heroik di tengah hujan peluru. Si sopir yang mengendalikan truk dalam imajinasi anak adalah sosok yang penuh heroisme.

Mereka membayangkannya sebagai pahlawan dalam film peperangan, mengadopsi cara berpakaian hingga cara bertutur sang pahlawan: sopir truk.

Anak-anak lekas bergembira hanya karena melihat truk atau mendengar suara mesin truk. Mereka mendambakan dan menanti isi dari truk. Mari kita simak cerita anak berjudul Sarang yang Aman garapan Maria A. Sarjono (1983). “Mata Nina dan Ani memperhatikan kuli-kuli yang sedang sibuk bekerja itu sampai-sampai tidak melihat ada seorang anak perempuan dan anak lelaki yang keluar dari rumah dan berteriak-teriak gembira.” Anak-anak berteriak, ”Truknya sudah datang…truknya sudah datang. Pak, Bu, truknya sudah datang!” Truk adalah fajar kedatangan kemajuan, modernitas yang memasuki desa. Truk adalah teknologi canggih, dan berkecepatan tinggi.

Hari ini kita mengenal truk dalam gambaran yang lebih vulgar dan jauh dari kesan anak. kita semakin jarang menjumpai anak-anak berteriak di atas truk.

Nyanyi riang anak di kabin truk berganti dengan nyanyi genit wanita tempat persinggahan para truk. Wajah truk bak taman bermain dan pahlawan berubah menjadi jantan yang keranjingan bersyair.

Lukisan perempuan penggoda, tulisan pemanggil syahwat, hingga kata-kata nyeleneh yang seringkali mengundang gelak tawa. “Gwa ga ngiler harta dan tahta gwa ngiler kalau tidur miring”.

Mari kita simak salah satu lagu pantura berjudul Jalur Pantura yang mengisahkan kehidupan para supir truk. Dipopulerkan oleh Libertaria:

“Inilah romansa supir truk jalan pantura/ Asmara tumbuh di atas roda-roda/ Kutulis kisah/ Hidupku di jalanan/ Demi dapur ngebul? Ikhtiar jarang pulang/ Dengan diiringi/ Do’a restu Ibu/ Mandep manteb, tak pancul gasku/ Demi ora ndulit/ Setan ora doyan/ Semoga selamat sampai tujuan/ Dari Merak hingga Kota Surabaya/ asmaraku kandas di jalan Pantura/ Putus cinta itu soal biasa/ Kalau putus rem ya mati mati matilah kita/ Megal Mepol/ Merambat di jalan raya/ Kalau lagi apes/ Pasti kena razia/ Mata sepet/ Lelah melihat jalanan/ Butuh hiburan/ Mampir warung remang-remang.

Lagu tersebut menggambarkan kehidupan (malam) sopir truk yang rela hidup di jalanan demi menafkahi anak dan istri. Sekaligus, menjelaskan lelahnya bekerja sebagai sopir truk yang ditumpahkan melalui hiburan, di warung remang-remang. Jika kita mendengarkan warung remang, pemikiran kita akan melecut ke tempat pelesiran seksual.

Ahmad Tohari dalam bukunya Berkisar Merah (1993) juga menceritakan kehidupan para sopir truk yang mempunyai kebiasaan mampir di warung makan. Di dalamnya telah disiapkan para perempuan penghibur, tempat melepas lelah setelah menyelesaikan beberapa malam di perjalanan dari satu kota ke kota yang lain.

Melalui tokoh utamanya, Lisa menumpang truk ke Jakarta dan ditinggalkan di sebuah rumah makan yang juga menjadi tempat ‘jajan’ banyak sopir truk. Truk meringis di jalan sunyi saat malam. Pagi melesat mengantarkan beban dan pulang menyandarkan kesepian. Seiring pergerakan zaman, truk tidak lagi menjadi simbol kemajuan tertinggi untuk digapai bocah-bocah.

(Sumber Foto: kankkunk.wordpress.com)

Tapi jika kita bisa memperhatikannya lebih dalam, tulisan dan gambar di belakang truk tidak hanya menyimpan kesan yang ‘senonoh’ tapi juga ada pesan yang lebih baik. Sebuah keasyikan tersendiri jika kita membaca cuitan dari truk. Seperti ada kesan kurang ajar dinasehati oleh truk tapi di saat yang sama, kita bisa sambil tertawa lalu memikirkan dosa dalam hidup.

Misalnya ketika kita menemukan tulisan “Lagu kita masih sama, Indonesia Raya,” kita diajak untuk merefleksikan bagaimana Indonesia yang memiliki beragam suku, bahasa, dan agama agar bisa terus saling bersatu.

(Sumber Foto: akusenang.com)

Beberapa tulisan lainnya seperti jangan begadang jika ingin sehat, bukan profesi sekedar hobby, hindari perselingkuhan dan tulisan-tulisan yang terdengar begitu frontal, lucu, dan satire. Hanya dari truk, kita bisa menemukan kebebasan berbahasa, hanya truk yang bisa melaju kencang tanpa khawatir dihadang polisi.

Avatar

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Avatar

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.