Locita

Mesin Pengabsen

Ilustrasi : Merdeka.com

PAGI itu hujan deras. Aku nekat menerobosnya dengan motorku. Jas hujanku kuyup hingga tembus ke jaket. Untung seragamku tidak basah. Aku sengaja bertelanjang kaki saat menempuh perjalanan menuju kantor. Sepatuku kubungkus tas plastik. Perjalanan ini terasa lamban dan banyak hambatan. Namun, aku tak boleh terlambat.

Akhirnya, pukul 07.31 aku sampai juga di kantor. Aku menjadi orang pertama yang datang. Akan tetapi, mesin pengabsen itu tak peduli. Meski hanya satu menit dan jadi orang yang pertama datang, kartu absenku tetap tercap merah yang menandakan keterlambatan. Dari peristiwa inilah kebencianku terhadap mesin pengabsen itu berawal.

Manajer kami lebih percaya pada mesin pengabsen itu ketimbang bawahannya. Dia membuat slip gaji, salah satunya, berdasarkan data kartu absen. Setiap keterlambatan datang akan dikenai denda pemotongan gaji. Besarnya nominal gaji yang dipotong berdasarkan akumulasi kelipatan seperempat jam. Jadi, untuk keterlambatan satu menit itu, aku dianggap sama seperti terlambat seperempat jam.

Jika terlambat enam belas menit berarti itu sama dengan terlambat setengah jam. Jika terlambat lebih dari setengah jam, berarti dianggap tidak masuk dan dendanya adalah pemotongan gaji selama dua hari kerja. Sementara, manajer bisa datang sesuka hatinya.

Dia tidak terlibat dengan mesin pengabsen. Di kantor cabang ini, posisinya adalah yang terpuncak. Tak ada yang bisa mengontrolnya, sedangkan kantor pusat kami berada di ibu kota yang bila ditempuh darat akan memakan waktu dua belas jam dan sejam bila dengan pesawat terbang.

Manajer kami adalah pencinta sejati olahraga senam dan jalan sehat. Demi kedua olahraga ini, dia sampai mengagendakannya sebagai kegiatan wajib di Jumat pagi.

Namun, dia tidak mau mengurangi jam kerja yang telah baku demi kegiatan favoritnya ini. Maka, seluruh karyawan diwajibkan datang lebih pagi di hari Jumat yakni satu jam lebih awal, menjadi pukul 06.30.

Jujur saja olahraga ini jadi tak lagi menyehatkan dan justru menjadi beban tambahan bagi karyawan. Bayangkan saja karyawan yang rumahnya jauh atau berada di luar kota. Mereka akan mati-matian bangun dini hari hanya untuk olahraga yang tidak mereka ingini. Atau,bagi seorang karyawati yang juga menjadi ibu rumah tangga, betapa akan tergesanya dia mengurus keperluan suami dan anaknya sebelum bergegas masuk kerja hanya untuk ‘berolahraga’.

Dan tentulah bagi pasangan muda, hal ini bisa juga berarti kezaliman biologis karena malam sebelumnya yaitu malam Jumat, biasanya mereka melaksanakan sunah rasul yang membutuhkan stamina ekstra dan istirahat yang cukup setelahnya. Agenda ini dengan sendirinya resmi menjadi program penyiksaan.

Sebagian besar karyawan mengikuti kegiatan olahraga ini dengan perasaan tidak rela yang diwujudkan dengan umpatan-umpatan yang diam-diam disamarkan di tiap hitungan jalan sehat dan senam. Hanya manajer kami yang tampak begitu bersemangat. Untuk senam, dia sendiri yang memilih istrukturnya yang melulu tipikal pria setengah buncit dengan gerakan melambai yang bikin mulas.

Padahal, kebanyakan dari kami menginginkan instruktur senam perempuan layaknya Vicky Burki, atau setingkat di bawahnya. Setidaknya seorang instruktur senam yang enak dipandang akan sedikit mengimpaskan penderitaan kami di Jumat pagi. Manajer kami akan berdiri di baris paling depan dengan gerakan kaku-kaku menyesatkan yang sungguh memuakkan.

Saat jalan sehat, dia membaur di tengah karyawan yang sebenarnya malas bercakap-cakap dengannya. Dia akan berceramah di sepanjang jalan, kebanyakan dengan tema motivasi kerja sambil menentukan rute perjalanan. Rasanya ingin kutimpuk kepalanya dengan tahi kucing garing untuk membalas sikap sok akrabnya ini.

Pada Jumat lebih dini itu pula kami berebut antre di mesin pengabsen, mirip ritual mengambil beras jatah atau uang santunan di kelurahan. Kami perlu kecepatan dan kesigapan tingkat tinggi karena jika absen kami melebihi pukul 06.30 berarti gaji kami akan dipotong. Antre absen itulah yang senantiasa menjadi pemanasan derita di hari Jumat yang tidak sehat.

Sebenarnya aku adalah karyawan yang rajin dan berdedikasi. Aku sudah lima tahun bekerja sebagai editor serabutan di perusahaan penerbitan ini. Aku lumayan betah kerja di sini meski gaji yang kuperoleh tidak terlalu tinggi, tetapi cukuplah untuk menghidupiku, istri, dan anakku yang masih bayi. Cukup di sini bisa berarti benar-benar mepet dan kehidupan sejahtera sesungguhnya masih sebatas wacana.

Di suatu bulan mungkin sekali banyak hajatan yang harus kami sumbang dan hidup kami bakal sempoyongan. Lauk harus disederhanakan dan tak mungkin porsi gizi bayi kami kurangi. Di saat seperti itulah aku merasa kepalaku pening sekali.

Ditambah lagi jika gajiku harus dipotong akibat keterlambatan yang sebetulnya terjadi di luar kuasaku. Saban kali begitu, kebencianku pada mesin pengabsen itu kian menjadi-jadi.

Aku sepenuhnya paham, tak mungkin ada mesin yang toleran. Mesin tak mungkin mendengarkan alasan dan penjelasan. Mesin sudah diprogram untuk kepentingan-kepentingan tertentu dan tidak mau tahu hal di luar itu. Dan, mesin pengabsen yang tergolong lawas ini hanya memiliki dua opsi yakni tinta hitam untuk waktu kedatangan sebelum dan kepulangan setelah yang ditentukan,serta tinta merah untuk hal sebaliknya.

Kadang aku berlaku konyol pada mesin ini. Kucaci maki mesin itu jika tinta yang tercetak di kartu absenku berwarna merah. Kubayangkan mesin itu adalah manajer yang dengan bengis memotong gajiku, yang dalam kehidupan nyata tak berani kutatap langsung wajahnya.

Sebenarnya mesin pengabsen itu belum lama berada di kantor kami. Dia datang bersama manajer itu. Manajer sebelumnya adalah orang setempat yang menerapkan sistem kerja kekeluargaan. Saat itu kantor terasa nyaman seperti rumah kedua bagi karyawan. Absen pada saat itu hanya tanda tangan di sehelai kertas dan kami menulis sendiri jam kedatangan dan kepulangan.

Kami merasa dimanusiakan dengan pola seperti itu. Keterlambatan selalu bisa dimaklumi dan dapat dijelaskan secara manusiawi. Kami tak pernah mengalami pemotongan gaji. Ada kehidupan berdenyutdi kantor itu dan kami begitu menghormati manajer saat itu dengan sepenuh hati.

Namun, memang benar kata pepatah tengik itu, orang baik berumur pendek dan cepat mati. Mungkin karena dunia terlalu kotor baginya dan malaikat maut enggan melihat beliau terkontaminasi limbah duniawi. Demikianlah, beliau berpulang ke alam baka tanpa menderita sakit apa pun saat bercengkerama dengan keluarga tercinta.

Kami merasa sangat kehilangan. Dia sudah seperti bapak kami sendiri ketika berada di kantor. Dan, petaka itu akhirnya datang juga. Penggantinya adalah orang dari kantor pusat dan menerapkan mekanisasi di perusahaan ini. Dia datang dengan kata sakti ‘disiplin’ yang diterapkan hampir dengan menihilkan hati nurani. Semua karyawan dianggap sebagai sumber daya penghasil laba bagi perusahaan.

Tiap bulan kinerja kami dievaluasi. Evaluasi ini pun seperti menilai benda mati. Seorang yang menurun kinerjanya akibat sakit atau ada masalah keluarga tidak akan digubris. Dia tetap akan diberi surat peringatan dalam rangka pendisiplinan. Banyak karyawan yang telah lama mengabdi di perusahaan ini dipecat dengan pesangon yang memprihatinkan. Manajer baru seakan asing dengan istilah balas budi.

Karyawan baru pun bernasib serupa. Mereka dikenakan sistem kerja kontrak. Umur kerja mereka maksimal setahun dengan pilihan diperpanjang jika kinerja mereka memuaskan dan diberhentikan bahkan sebelum masa kontrak habis jika dinilai mengecewakan. Yang paling memilukan adalah perlakuan perusahaan terhadap karyawan kontrak perempuan yang ketahuan hamil.

Dengan bekal surat perjanjian kerja yang salah satunya berpasalkan larangan hamil semasa kontrak, perusahaan akan memecat tanpa pesangon karyawan itu begitu cuti melahirkan tiba. Perusahaan tidak mau rugi dengan menggaji buta perempuan yang cuti melahirkan selama tiga bulan. Mereka dianggap tidak produktif dan merugikan perusahaan.

Aku paling benci dengan kebijakan ini. Aku yang menunggu hampir empat tahun untuk memperoleh anak tahu betul rasanya kebahagiaan mengandung bagi ibu hamil. Itu adalah karunia besar bagi sepasang manusia karena tidak setiap pasangan bisa beruntung memiliki anak. Dan, bayangkanlah jika ibu yang hamil besar dipecat dari pekerjaannya.

Sebuah persalinan pastilah butuh biaya yang tidak sedikit dan setelah persalinan pastilah juga perlu biaya tambahan untuk menstabilkan hidup. Namun, aku hanya bisa memendam kecewa dalam hati. Aku tak berani protes atau menggerakkan demonstrasi karena aku sungguh masih butuh pekerjaan ini.

Keluargaku masih hidup dari pekerjaan yang lingkungannya serasa neraka ini. Aku juga mengerti bahwa kebanyakan karyawan juga memendam perasaan serupadan mereka juga memilih bungkam karena memang tak punya pilihan lain.

Begitulah, ritual kami pagi dan sore adalah antre di mesin pengabsen. Kami seperti pendoa yang taat dan mesin pengabsen itu seakan malaikat pencatat yang tak pernah lupa meriwayatkan kealpaan kami. Manajer kami benar-benar seperti Tuhan kecil di kantor ini.

Selain mesin pengabsen, dia juga memasang kamera CCTV di ruang kerja kami sebagai pengganti matanya. Ketika semua fungsi pengawasan telah berjalan baik, manajer itu bisa keluar kantor dengan nyaman kapan pun dia mau.

Terkadang aku berpikir, apakah aku ini sedang menyambung umur ataukah hanya membuang usia dengan bekerja di sini. Setiap hari aku merasa makin tak bahagia. Waktu kerja jadi terasa sangat lama dan menyiksa.

Aku selalu dalam tawaran simalakama, antara suasana yang tak mengenakkan dan gaji yang masih kuperlukan. Dalam kondisi seperti itu kawan-kawanku terus berganti. Karyawan datang dan pergi silih berganti.

Rasanya seperti menunggu godot. Aku seperti pendosa yang tak kunjung mendapat pencerahan. Lama aku menantinya hingga akhirnya momentum itu datang juga. Istriku tahu betul bahwa aku tidak bahagia dengan pekerjaanku ini. Dia menawariku usaha angkringan menggantikan bapak mertuaku yang sudah sakit-sakitan.

Segala perlengkapan sudah tersedia. Aku tinggal meneruskan. Peralatan dagang, lokasi strategis, dan pelanggan setia sudah ada. Aku tinggal ikut ‘magang’ sementara waktu di malam hari agar lihai meracik minuman dan akrab dengan para pelanggan.

Tanpa pikir panjang aku menyanggupinya. Setelah kuperhitungkan, ternyata keuntungan angkringan ini tidak kalah dari gajiku bekerja kantoran. Tentu ada risiko ketidaktetapan penghasilan, tetapi aku mantap menjalaninya. Lagipula,keluarga besarku telah memberikan restu.

Aku ikut membantu angkringan mertuaku sepulang kerja hingga dini hari. Waktu istirahatku kacau. Namun, aku menikmatinya. Menikmati keterlambatan datang di kantor, tidak ikut olahraga Jumat, dan tidur di meja kerja dengan diintai CCTV.

Aku ingin menikmati hari-hari terakhirku di kantor ini. Aku menginginkan akhir yang dramatis dan kenangan yang melegenda di kantor ini. Aku menginginkan pemecatan yang tidak hormat.

Dan, satu bulan yang santai dan menyenangkan itu berakhir juga. Aku berpamitan pada semua karyawan. Ada kesedihan yang tumpah, tetapi ada juga kebahagiaan lain yang menanti. Aku ingin menghadiahi mereka kado perpisahan.

Kuminta mereka semua mengikutiku atau paling tidak melihatku mendatangi ruang manajer untuk menandatangani slip gaji terakhirku. Manajer tidak tahu bahwa aku akan keluar kerja hari ini. Aku akan mendedikasikan hari terakhirku ini untuk kebaikan teman-temanku. Aku akan bikin perhitungan dengan manajer itu.

Aku memasuki ruangan itu tanpa gentar sedikit pun. Dan, di hadapanku manajer telah menanti dengan wajah yang sama sekali tak enak dilihat. Di tangannya tampak kartu absenku bulan ini yang seluruh tintanya berwarna merah.

Aku duduk tanpa dipersilakan. Dia menatapku tajam dan aku balik menatapnya dengan sorot mata yang tak kalah menusuk. Dia tampak terkejut dengan reaksiku ini dan secara spontan meredupkan sorot matanya. Aku merasa di atas angin.

Lalu mulailah bibirnya mengucapkan pidatopanjang lebar tentang kedisiplinan dan menyanjung-nyanjung kemurahan hatinya sendiri, bahwa seharusnya aku sudah dipecat karena kartu absenku bulan ini merah semua,tetapi karena dia menimbang lamanya aku bekerja di sini, aku diberinya kesempatan sekali lagi.

Wajah manajer itu seakan mengharapkanku mengucapkan terima kasih, tetapi kubalas mimik itu dengan suara keras dan tegas, “Saya keluar dari pekerjaan ini!”

Manajer itu tampak terkejut mendengarnya. Lalu dengan suara melunak, dia memintaku berpikir baik-baik dan kembali memaparkan ancaman bagi orang seumuranku yang akan kesulitan mencari pekerjaan. Namun, kubentak dia dengan lebih kerasdengan intonasi seorang laskar jihad, “Peduli setan, rezeki ada di tangan Tuhan.”

Aku sengaja meninggikan volume suaraku agar teman-temanku di luar ruangan mendengar perkataanku. Manajer itu sontakterdiam dengan raut ketakutan. Dia gentar menghadapiku dan hendak memanggil satpam di depan kantor, tetapi dengan sigap telepon segera kujauhkan.

Wajahnya kian pucat dan kugunakan kesempatan ini untuk ganti menceramahinya tentang rasa kemanusiaan dan ketidakadilan yang dia terapkan di kantor ini.

Kuungkapkan bahwa kepemimpinannya sangat tidak disukai. Kusampaikan tentang senam dan jalan sehat yang membebani. Kusampaikan juga keberatanku tentang pemecatan karyawan hamil. Kukatakan padanya bahwa setiap keburukan yang dia perbuat akan berbuah doa buruk dari korbannya. Dan,doa ini akan terus terlantun seumur hidup dari bibir orang-orang teraniaya tersebut.

Dia mungkin sudah lupa pada orang-orang yang dipecatnya, tetapi orang-orang itu tak akan melupakan tindakan kejamnya ini seumur hidup. Kukatakan kalimat penutup padanya bahwa mungkin dia akan bertambah kaya dengan tindakannya ini, tetapi dia tak akan bisa bahagia karena berdiri di atas derita orang lain.

Kulihat rautnya seputih kertas. Aku mendekat. Dia bersandar pada sudut tembok sambil menggigil ketakutan. Aku mengangkat tangan dan gemericik air mengucur dari celananya membasahi lantai. Lelaki separuh baya itu mengompol. Aku hampir tertawa dengan kejadian ini, tetapi kutahan mati-matian.

Padahal aku mendekatinya dan mengangkat tangan hanya untuk berjabat tangan. Akhirnya, dia mengulurkan tangannya yang basah untuk menjabatku. Ketika berjabatan tangan itu, luruh sudah semua kebencianku padanya. Aku berpamitan padanya dengan baik-baik.

Semoga sikapnya sebagai pemimpin dapat berubah dan pesangonku tak terhambat oleh dendamnya. Aku keluar ruangan dengan perasaan lega layaknya seorang pendakwah yang telah merampungkan misi sucinya. Aku merasa seperti manusia yang dilahirkan kembali.

Di luar ruangan kawan-kawanku sudah berkerumun. Ada yang langsung memelukku, ada yang bertepuk tangan, ada yang mengepalkan tangan dan berteriak “merdeka”, bahkan ada yang terharu hingga menitikkan airmata.

Untuk terakhir kalinya aku berpamitan pada mereka. Tak terasa genangan hangat juga merebak di pelupuk mataku. Dengan langkah berat, aku menuju pintu keluar.

Langkahku terhenti sesaat di depan mesin pengabsen yang terpasang angkuh di dekat pintu. Aku menatapnya agak lama.Dalam hati, aku membatin maaf padanya kemudian menciumnya. Suatu saat pasti aku akan merindukannya. []

Avatar

Gunawan Tri Atmodjo

Gunawan Tri Atmodjo adalah penulis asal Solo. Menulis cerpen dan puisi.

Tentang Penulis

Avatar

Gunawan Tri Atmodjo

Gunawan Tri Atmodjo adalah penulis asal Solo. Menulis cerpen dan puisi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.