Locita

Coto Garasi dan Semayam Rindu

Hari yang cerah di sebuah gang kecil kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Letaknya yang strategis di kota Jakarta menjadikannya sebagai tempat wajib perjumpaan para sejawat perantau Sulawesi Selatan. Rumah Garasi namanya, yang dalam interaksinya terdapat beberapa perantau yang memilih bekerja dan anak muda yang ingin melanjutkan jenjang kuliahnya (Pascasarjana kata orang-orang).

Bila berkunjung ke rumah garasi, maka orang pertama yang terjumpai adalah Bona. Kok bisa? Ya, Karena biasanya keaktifan penghuni rumah dimulai siang jelang sore hari di sebabkan pandemi tak berujung. Nah, orang yang terlebih dahulu bersiaga menyambut hari adalah Bona. Ya, Bona! dengan segelas kopi dan sepuntung rokok di jemarinya, hanya kurang pentungan dan pakaian dinas saja, maka sempurnalah dia seperti Alm. H. Bokir yang sedang bertugas menjaga teritorinya di film-film lawas beliau.

Siang jelang sore, keaktifan rumah berjalan. Tak hanya ada Bona melainkan beberapa penghuni rumah telah beraktivitas dalam rumah sebut, saja Kak Lia dan Kak Abbas. Tepat pukul 15.00, seorang mahasiswa Pascasarjana UI dengan perawakan rupawan yang katanya anak pejabat di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan datang ke rumah garasi, Mahasiswa itu bernama Bill. Kedatangan Bill disambut oleh Bona dan beberapa penghuni.

“Dari kampusko?”

“Tidak, darika kos. Mauka kuliah online lagi disini,” jawab Bill. Kebiasaan Bill yang sudah menjadi rutinitasnya saat datang.

“Dasar Mahasiswa, nyarinya yang gratisan,” menyela Kak Lia dengan tersenyum memandang gelagat Bill.

Kak Lia memandang sejenak lalu bertanya ke Bill, “biasako makan coto? Gimana pandanganmu tentang coto? Kalau di Jakarta warung mana biasa kau tempati?”

“Biasa dong kak, orang Sulawesi tidak makan coto seperti anak yang merindukan Ibunya” pungkas Bill. “Dalam betul perumpamaanmu, mantap lagi kau hari ini adinda” teriak Kak Abbas dengan suaranya yang keras sambil tertawa.

Lanjut Bill, “kalau saya sudah pasti kuahnya kak ditambah ketupat, pokoknya asal sudah lagi makan coto, sempurna lagi hariku.”

“Asik sekali, penikmat coto juga ternyata. Terus, di sini Jakarta adakah warung coto yang recommended menurutmu?” kak Lia mengingatkan pertanyaan sebelumnya.

“Banyak ji warung coto di Jakarta kak, dengan ciri khas masing-masing. Tapi kalau saya, biasanya di area Jakarta pusatka makan coto. Tapi begitumi, belum ada yang benar-benar sama cita rasanya dengan yang ada di Makassar, jangankan menyamai, untuk mendekatinya pun belum ada.

Selain itu, harganya juga boss, mencekik, khususnya Mahasiswa. Sampai kagetka pas pertama kali beli coto disini, untung dalam situasi lapar bercampur hasrat menggebu, jadi saya belilah. Andai tidak, pastinya kuurungkan hasratku”ungkap Bill dengan keseriusannya menjelaskan bercampur ungkapan keluh kesah demi sebuah hasrat makan coto.

Kak Lia tersenyum mendengarkan penjelasan Bill.

Kembali Kak Lia menyambar Bill dengan pertanyaan, “Pernahko makan coto buatan Abbas?”

“Tidak”

“Aduh, saya yakin akan tergiurko” kata Kak Lia. “ehmm, goreng terus (ungkapan kekinian)” menyela Kak Abbas dari dalam kamar dengan handphone di tangan.

Bill teriak dari ruang tamu, “wihh, canggih juga kita kak, penasaranku mau coba rasa coto ta’,”

“Cocok, datang mako besok, mau bikin coto lagi Abbas,” kata Kak Lia saat mengajak Bill untuk datang besok.

Kak Abbas membenarkan perkataan Kak Lia, “Iyo, datangko besok. Jadi besok itu Soft Opening Warung coto rintisanku. Namanya warung Coto Garasi Tebet.”

Bill dengan jargon andalannya, “Canggih memang ini kakandaku, rupa-rupanya sedang merintis diri jadi pengusaha.”

“Jelas”

“tapi, yakinki enak ji coto ta’?”Tanya Bill seolah memberi sindiran.

“Sialan” Kak Abbas tertawa mendengar sindiran Bill.

“Bisanya itu kau ragukan Abbas. Datangko besok jam 4, karena jam 4 mulai openingnya.” Sela Kak Lia.

“Gratis ji toh, kak”

“Dasar, nyarinya yang gratisan” celah Kak Lia menggelengkan kepala. Bill dengan kegesitannya menjawab, “Begitu memang kak kalau Mahasiswa apalagi situasi dompet yang kurang amunisi, makin gesit lah kita menyelamatkan kampung tengah.”

Sontak Kak Lia dan Kak Abbas tertawa.

Percakapan Usai, Bill pun menyelesaikan kuliah daringnya lalu pulang.

*****

Keesokan harinya, rumah yang biasanya digunakan untuk interaksi sosial perantau sulsel disulap menjadi sebuah warung Coto yang bernama Coto Garasi Tebet. Tak ingin kehilangan momentum, Bill yang memendam rasa penasarannya usai disampaikan kenikmatan coto Kak Abbas datang. Kedatangan Bill disambut oleh para tamu undangan opening yang telah ramai.

Bill mendatangi Kak Abbas yang bertempur dengan ritual ramuan cotonya di dapur berkata, “Manami coto ta’, kak. Mau sekalima makan coto ini, ku bela-belakanmi tidak makan dari kos hanya untuk persiapan makan coto ta’, kak.”

“Kau bela-belakan tidak makan demi semangkuk coto. Luar biasa kau ini adinda. Oke, tunggu nah” Celetuk kak Abbas mendengar perkataan Bill.

Bill duduk di tempat yang telah disediakan menanti hidangan semangkok cotonya. Tidak lama berselang semangkok itu pun datang.

“Akhirnya adami cotoku, makan coto lagi kita ini hari” ungkap Bill.

“Makanmi cepat, mumpung masih panas” menyela Kak Lia yang baru turun dari lantai 2.

Bill yang lahap menikmati cotonya bertanya, “bisakah tambah kuah sama ketupat, kak?” Dengan lugas kak Abbas menjawab, “Boleh dinda, tapi kuah saja ya. Kalau ketupat, memang khusus untuk 2 buah saja. Karena teknis penjualannya semangkuk coto akan di gratiskan 2 buah ketupat dengan harga yang akan ditetapkan.” Jawab Kak Abbas.

“Berapa harga yang akan kita jualkan setiap mangkuknya + 2 buah ketupat?”

Kak Abbas kembali menjawab pertanyaan Bill, “harganya itu Rp. 30.000/Mangkuk sudah sepaket dengan ketupatnya.”

“Wihh, canggih juga itu kakanda” budaya ungkapan Bill penuh ekspresif. “Lebih murah dari beberapa warung Coto yang ada di Jakarta + bonus ketupat 2. Kalau di warung lainnya, harga coto lebih mahal, belum lagi tidak ada bonus ketupatnya” kata Bill yang telah menyelesaikan mangkuk keduanya.

Kak Lia, “Gimana rasa cotonya Abbas, Bill?”

“Nikmat, harus ku akui kak. Lama tidak menikmati hidangan Coto Makassar dengan kuahnya yang kental, rempah-rempah yang khas di lidah, serta dagingnya yang lembut, rasanya seperti makan coto di Makassar. Terakhir kali saya nikmati kuah seperti ini di warung coto sewaktu mudik ke Makassar setahun lalu. Cita rasanya persis warung coto itu. Dan ini yang terbaik di Jakarta. Saya pastikan itu!

“Kenapa kak? karena lama sekalimi tidak kutemui cita rasa begini dan kini ku dapatkan yang ku mau. Semangkuk coto yang membuatku seakan berjumpa kampung halaman.” Ungkapan Bill yang tampak tulus seolah ingin menikmati semangkuk lagi.

“Bagus kayaknya buat cotoki lagi besok, kak!”

Kak Lia, Kak Abbas, dan Bona tertawa mendengar ucapan Bill.

“Ini hanya untuk soft opening, setelah opening ini usai, rencananya mulai minggu depan Coto Garasi Tebet akan mulai melayani konsumen di tempat ini setiap weekend (Sabtu-Minggu). Tetapi, Jika ada konsumen yang ingin memesan dan di antarkan (Delivery), Coto Garasi Tebet melayani tiap hari. Untuk sementara waktu sabar dulu ya, Bill.” Celetuk Kak Abbas sekaligus menjelaskan pelayanan Coto Garasi Tebet.

*****

Dua hari selanjutnya, Bill kembali datang. Dengan harapan kembali menikmati coto. Hidangan khas yang membuat rindunya tentang kampung halaman tersalurkan sepenuhnya saat dia menikmati semangkuk coto buatan Kak Abbas, walau dipastikan kesabaran akan berteduh sejenak dalam benaknya sampai di penghujung hari (weekend).

Andi Olan Sitorus

Andi Olan Sitorus

Tentang Penulis

Andi Olan Sitorus

Andi Olan Sitorus

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.