Locita

Ya Tabtab dan Istri Sampara Yang Menggemari Nissa Sabyan

Meski Kyai Saleh seorang ulama, namun dia tidak pernah melarang Sampara dan istrinya mendengarkan lagu. Bagi Kyai Saleh, tidak masalah mendengarkan lagu sebagai seni apalagi bisa mendorong untuk berbuat baik. Sampara dan isterinya berbeda selera. Sampara menyenangi lagu dangdut sedangkan sang istri menyenangi lagu berirama nasyid, apalagi yang menyanyikannya adalah Nissa Sabyan.

Di mata istri Sampara, Nissa Sabyan adalah idola yang sempurna. Cantik, bersuara halus, dan lagu-lagunya bernuansa Islam. Lagu Nissa Sabyan yang berjudul Deen Salam sangat disukai oleh istrinya Sampara. Rasa suka istri Sampara semakin membuncah ketika Kyai Saleh menjelaskan bahwa isi lagu itu tentang Islam sebagai agama yang ramah dan toleran kepada semua manusia. Jadilah istri Sampara mentasbihkan diri sebagai penggemar no. 1 Nisa Sabiyan. Istri Sampara merasa mendapatkan paket lengkap, hiburan dan syiar Islam sekaligus.

“Kalau saya forsa!” Kata Sampara kepada istrinya.“

Apa itu, daeng?”

“Fans of Rhoma and Soneta”

“Janganmi saya deh. Toami Haji Rhoma Irama!”

“Biar, tapi lagu-lagunya masih enak di dengar.”

“Tapi banyak juga lagu cinta-nya. Liat Nissa Sabyan. Semua lagunya lagu Arab lagu Islam.”

“Eh, Rhomami itu pelopor lagu dakwah di Indonesia.”

“Iya.. tapi yang terkenal lagu-lagu cinta-nyaji. Kalau Nisa Sabiyan apa?

Lagu Deen Salam? Lagu Aisyah Istri Rasulullah, Ya Jamalu, Ya habibal qalbi. Itu semua lagu-lagu Islami. Apalagi berbahasa Arab, bahasa Alquran.”

“Kau tauji artinya?”

“Tidak. Tapi nabilang Kyai Saleh lagu-lagunya bernuansa religi. Sudah saya kasih liatkan.”

Sampara pun manggut-manggut. Nama Kyai Saleh cukup ampuh untuk membuatnya terdiam.

Istri Sampara merasa menang. Setelah puas dengan beberapa lagu, istri Sampara mencari satu lagu lagi dari akun Youtube Nissa Sabyan.

*****

Semenjak Ramadhan, istri Sampara pasti mengikuti acara di salah satu teve swasta yang menghadirkan Nisa Sabiyan dan band gambusnya sebagai pengisi acara. Judul acaranya Syiar Ramadhan.

Istri Sampara ikut menggoyang-goyangkan ketika Nissa Sabyan menyanyikan satu berirama gurun pasir dengan judul ya tab-tab.

“Enak mentong kalau Nissa Sabyan menyanyi. Selain menghibur, dapat pahalaki juga.”

“Hati-hati. Tidak semua lagu Arab itu lagu Islam.” Tegur Kyai Saleh.

“Iya-kah, Kyai?”

“Iya… lagu Arab banyak jenisnya. Samaji lagu Indonesia.”

“Tapi pasti lagu Islami ini Kyai. Karena selain bahasa Arab, penyanyinya juga Nisa Sabiyan. Apalagi acara teve ini namanya Syiar Ramadhan. Lagu dakwah ini pasti Kyai.”

“Bisa jadi. Tapi jangan terlalu yakin dulu.”

Keesokan harinya, Ais tiba-tiba menelpon Kyai Saleh,

“Kyai. Ada polemik tentang lagu ya tab-tab yang dinyanyikan oleh Nissa Sabyan di teve Kyai.” Kata Ais di ujung telepon.

“Oh ya kenapa?”

“Katanya itu lagu bukan lagu Islami? Benarkah?”

“Apakah dibilang lagu Islami, Ais?”

“Lagu yang bernuansa Islam, kayak salawat. Kayak lagu Bimbo kesukaanta

“Oooh, kalau Bimbo saya tidak sebut lagu Islami tetapi lagu kebaikan.”

“Jadi menurut kita bagaimana itu lagu Ya tab-tab?”

“Saya tidak tahu. Saya tidak dengar.”

Ais terdiam. Dia sedikit keki.

“Lagu apa memang itu, nak Ais?”

“Saya dengar itu lagu cinta. Bercerita tentang cewek yang marah-marah sama pacarnya.”

“Ya, lagu bernuansa cinta sah-sah saja dinyanyikan. Cinta ini kan bagian dari kemanusiaan. Kerinduan kepada kekasih sangat wajar disyairkan. Tidak ada masalah. Kecuali, kamu tanya kepada kelompok yang mengharamkan musik dan perempuan bernyanyi, ya semuanya salah! Bukan isinya tetapi nyanyinya.”

“Tapi judul acaranya Kyai Syiar Ramadhan.”

“Si penyanyi ini boleh jadi tidak tahu isi lagu dan sejarah lagunya.”

“Iye, Kyai. Lagian penyanyinya itu Nancy Ajram. Seorang Kristen orthodox.”
Kyai Saleh terdiam sejenak, “jangan biasakan bawa agama seseorang dalam seni begini. Seni ini bersifat universal. Tidak penting lagi menyebut identitas agama sebagai pembeda. Apalagi tema lagunya universal.”

“Saya lihat di Youtube banyak singgung-singgung agama penyanyi aslinya.”

“Iya, karena cap yang melekat kepada penyanyi yang menyanyikan di teve, siapa lagi namanya?”

“Nissa Sabyan, Kyai.

“Ya.. dia kan dianggap penyanyi lagu Islam. Jadi ketika menyanyi lagu lain, orang pasti protes dan menyeret-nyeret agama. Sebenarnya kasian juga agama selalu diadu-adu. Seorang penyanyi yang berlabel Islami memang harus lebih selektif karena capnya spesifik.”

“Oh iye. Kyai. Sehat-sehatjaki?.”

“Alhamdulillah.”

Ais mengakhiri percakapan.

Kyai Saleh memanggil Sampara dan istrinya ke ruang tengah.

“Ada apa, Kyai?”

“Saya barusan di telpon sama Ais. Lagu yang didengar oleh Daeng Kebo beberapa waktu lalu ternyata bukan lagu Islami tetapi lagu cinta.”

“Iya-kah Kyai?

“Lagu ya tab-tab itu ternyata lagu kasmaran. Tidak bedaji dengan lagu cinta yang sering didengar Sampara di acara teve. Maknanya sama!”

“Tapi bahasa Arabki Kyai. Jadi kukira lagu Islam” gumam istri Sampara dengan nada lemas.

Kyai Saleh tersenyum kecil. “Arab itu luas dan beragam. Bahasa Arab itu adalah bahasa kebudayaan. Orang Kristen yang Arab juga berbahasa Arab. Orang Yahudi yang keturunan Arab juga berbahasa Arab. Dulu kan saya sudah jelaskan ketika ada kasus Injil berbahasa Arab.”

“Tapi kenapa pale Nissa Sabyan nyanyikan?” Istri Sampara kembali bergumam

“Mungkin kamu dan idolamu itu sama cara berfikir. Asal lagu berbahasa Arab bernuansa gambus pastime lagu Islami. Padahal, gambus itu musik semua orang Arab.”

Istri Sampara tertunduk lesu.

“Makanya belajarki. Jangan cepat-cepat menilai dari luar!” kata Sampara dengan nada mengejek.

caradde tommoko, (sudah pintar juga kau) Sampara.” Kata Kyai Saleh dengan tersenyum.
Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.