Locita

Begitu sulitnya menghindari neraka

cd8d69c0-1862-11ea-a58d-4b237772fa2e_800_420
Begitu Sulitnya Hindarin Neraka

Di dalam bayangan kita, neraka itu penuh dengan api. Tapi bagaimana jika neraka itu ada dan nyata di dunia? Apakah ada cara menghindarinya? Apakah akan selalu panas?

Kita mungkin agak sedikit familiar dengan kata Sartre bahwa kita dikutuk untuk bebas. Lagi dan lagi, saya tak mau lepas membahas sartre di dalam situasi mewabah ini. Karena memang inilah saatnya kita merasakan kekeringan yang begitu menampakkan keberadaan.

Yak, lanjut lagi pada persoalan kutukan. Pada dasarnya emang kita dikutuk untuk bebas, jadi biar pun PSBB diterapkan, saya gak yakin seratus persen itu bisa berjalan walaupun para aparat bakalan turun ke jalan. Buktinya waktu kampanye hashtag di rumah aja ama social distancing, hasilnya amburadul.

Berbagai alasan bermunculan. Alasan yang kita maklumi mungkin itu karena berdasarkan keterbelakangan ekonomi. Yang lain pasti malah ngeyel. Dan bahkan mencari hiburan. Saya jujur gak bisa berhenti ketawa ketika melihat meme upacara pemakaman ala ghana di sosmed. Ah malas, ujung-ujungnya gitu. Kita seolah-olah bangga dengan kutukan yang diungkapkan Sartre, bebasssssssh. Bebas mau ngapain, terserah kamu dah.

Saya tidak ingin mengkampanyekan social distancing maupun dalam artian bahasa Indonesianya, jaga jarak. Tapi bagi saya, jaga jarak merupakan ide yang tidak sangat religius melainkan ini persoalan eksistensi. Menghindari neraka mungkin adalah hal yang absurd tapi paling tidak dengan jaga jarak, neraka di dunia bisa dihindari.

Pertama, teruntuk kaum muda mudi. Sudahlah, akui imunitas yang kalian miliki itu kuat, jadi gak perlu khawatir dengan wabah ini, cukuplah membawa neraka pada orang lain. Lihat jumlah positif corona di Indonesia, makin hari makin bertambah. Hentikan ngumpul, dan sekarang alhamdulillah kafe dan mall-mall pada tutup. Jadi yo wes, kalian tetap neraka kalau gak jaga jarak. Gak dikit tuh cerita-cerita di WhatsApp, kaum muda mudi terpapar dan menyebarkannya pada keluarga masing-masing. Bahkan di suatu daerah, di kafe, ada yang bersikeras ngopi, eh tau-taunya positif. Neraka itu nyata ya?

Bahkan ada yang ngajak nikah tuh tertulis di spanduk di sebuah lorong asal wabah ini selesai dengan cepat.

Kedua, bagi orang tua (dan yang lainnya), jangan keras kepala terus beribadah di tempat-tempat ibadah. Ibadah adalah persoalan sensitif karena emang ini tentang personal antara aku dan Tuhan. Tapi kita tidak bisa salahin mereka seratus persen. Media biasanya terlalu biadap kalau berbicara. Toh itu emang kerjaannya. Ciptain neraka, padahal mereka sendiri juga neraka. Ibadah saat ini tidak dilarang. Kan ibadah bisa di rumah. Tuh kan bisa. Kasus terbaru berbicara ada yang ikutan sholat jumat di masjid di suatu daerah, cek per cek, ternyata dia pendatang baru. Itu pun diketahui setelah dia mungkin pingsan, dan dilakukan uji tes. Kita akan terus perihatin kalau jadinya begini terus. Sedih rasanya. Hiks.

Yang ketiga, teruntuk yang sok dewasa dalam berpikir. Ini biasanya terjadi. Mereka suka nyebarin pelarangan melakukan hal ini dan itu, padahal mereka juga melakukan. Komentar seseorang di sebuah grup diskusi filasat berkata bahwa semua itu tergantung kesadaran individu. Lah, kalau gini, sadarnya gimana? Dan perlu juga diketahui standar kesadaran seseorang itu dilihat apanya? Kedewasaan atau latar ekonominya? Kedewasaan itu dilihat dari kemandiriannya dalam mengambil keputusan terbaik. Tapi bagaimana kalau orangnya sendiri tidak mandiri? Nah di sini masuk lagi persoalan ekonomi. Ada yang sudah mapan ekonominya, tapi kelakuannya membawa neraka ke sana ke mari. Sadarnya di mana ya?

Kalau gini jadinya saya teringat kata Sartre dalam bukunya No Exit,

“Bagi saya, saya jahat: itu berarti bahwa saya membutuhkan penderitaan orang lain untuk eksis. Nyala api. Nyala api di hati mereka. Ketika saya sendirian, saya padam.”

Apakah jika kita menderita, untuk mengurangi penderitaan kita, maka orang lain harus menderita? Dan jika tidak, kita akan mengalami kesendirian? Jadi ini hanya karena kamu jomblo?! Saya tak bisa membayangkannya. Tentunya jaga jarak adalah solusi terbaiknya.

Jadi jaga jarak adalah solusi terbaik untuk menghindari neraka jahanam yang diisi oleh kekerasan dan kekebalan daya kepala kita. Kita ingin dimengerti dan menolak untuk mengerti orang lain. Sialnya, seberapa besar pun kita berpikir untuk mengerti orang lain, jika tak dibalas, hanya akan menghasilkan rasa mual yang tak kunjung habis. Entah rasa mual itu dikarenakan asam lambung ataukah pikiran yang menjadi stress. Intinya, Neraka adalah Orang Lain!

Sardjito Ibnuqoyyim

Sardjito Ibnuqoyyim

Hanya seorang buruh sekolah

Add comment

Tentang Penulis

Sardjito Ibnuqoyyim

Sardjito Ibnuqoyyim

Hanya seorang buruh sekolah

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.