Locita

Corona Datang, HMI Bubar!

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo
Lockdown HMI! begitu teriakan salah satu teman saya di Jakarta sembari melanjutkan memainkan game Moba kesukaannya.

Kurang lebih dua bulan sejak penyebaran virus corona di Indonesia, yang terinveksi, sembuh, dan meninggal akibat virus ini saling berlomba. Pandemic Corona kali ini merubah banyak aspek kehidupan masyarakat yang ada di Indonesia. Pun tidak ketinggalan juga merubah kehidupan khalayak HMI.

Kenapa HMI bisa bubar hanya Corona? Rasa-rasanya tidak mungkin, kata teman saya. Organisasi yang sudah membantu negeri ini dalam mempertahankan kemerdekaan dan menumpas PKI dan antek-anteknya tidak akan gentar hanya hanya karena pandemi begini, begitu kelakarnya.

Didirikan 2 tahun setelah bangsa ini mendeklarasikan kemerdekaan, yaitu pada tahun 1947, organisasi ini bisa dikatakan sudah renta. Baik secara gagasan, dan bahkan caranya bertahan hidup. HMI layaknya sebatang pohon tua yang masih sanggup berdiri bukan karena kegagahannya, tapi karena memang hanya tersisa pohon dan akarnya saja. Sementara daun-daun sudah gugur. Sedih.
Lalu, kenapa sih HMI bisa bubar karena Corona? Jawabannya sederhana, HMI tidak bisa hidup dengan kondisi seperti ini. HMI tidak akan mampu survive.

Oke, mari kita breakdown satu-persatu.
Bagaimana caranya merekrut kader?
Organisasi seperti HMI yang sifatnya sebagai organisasi kader, sangat tidak mungkin untuk bisa bertahan tanpa adanya anggota/kader. Nah, kondisi sekarang membuat HMI kebingungan, bagaimana caranya mengumpulkan orang dengan jumlah yang besar untuk diadakan kegiatan Maperca (masa perkenalan calon anggota), tanpa adanya corona sekalipun, di kampus exccelent HMI sudah kalah?

Ditengah banyaknya kampus yang juga menerapkan lockdown karena pandemi seperti sekarang ini, kegiatan ospek dan sejenisnya kemungkinan akan dilarang, dan sudah pasti jika itu terjadi, Maperca tidak akan mungkin dilaksanakan. Sementara, pintu masuk utama untuk mengenalkan HMI adalah dengan Maperca ke mahasiwa baru. Krisis anggota baru sudah didepan mata guys.

Tidak ada program kerja yang bisa jalan!
Untuk membahas ini, kita nggak perlu mengambil contoh pada kelas PB HMI. Ya tau sendirilah, jangankan untuk bicara program kerja, sesama mereka saja masih sibuk saling menelanjangi kebusukan diantaranya. Belum lagi kakanda-kakandanya di KAHMI sering mengadakan kegiatan-kegiatan berupa diskusi, seminar, dan lain sebagainya. KAHMI malah menyalip keberadaan HMI dimata publik. So, mungkin ini salah satu alternatif yang dilakukan oleh para kakanda untuk mengantisipasi apabila HMI tidak mampu bertahan, ya masih ada KAHMI sebagai penerus visi dan misi mulia para kader umat dan bangsa ini.

Dengan adanya kebijakan physical dan social distancing yang diterapkan oleh pemerintah, HMI serasa mati kutu. Organisasi ini pincang. Tidak ada lagi sowan, silaturaHMI, dan kunjungan ke senior-senior. Mesin HMI ada di silaturaHMI. Program kerja tidak akan jalan tanpa silaturaHMI. Tau sendirilah ya, proposal tidak bisa dieksekusi dengan maksimal karena tidak ada list untuk pengadaan “ini dan itu” dirincian anggarannya. Hehe

Pandemi ini berbeda dengan bencana alam seperti tanah longsor, kebakaran, dan lainnya. Bagi HMI, ini bencana yang unik. Tidak lagi ada semangat “galang dana di jalanan” untuk membantu masyarakat miskin. Sementara, virus ini tidak mengenal dari kelompok masyarakat mana kita berasal. HMI jelas kalah dari platform digital seperti kitabisa.com dalam hal penggalangan dana secara online.

Ya masyarakat mana sih yang masih percaya organisasi mahasiswa untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan seperti ini. Lagian yang sumbang selama ini kan hanya para kakanda, masyarakat umum malah lebih percaya dengan berbagai situs-situs yang dianggap kredibel. Jadi HMI bukan lagi Harapan Masyarakat Indonesia (stop gunakan frasa ini dalam visi-misi berkandidat).

Sepengetahuan saya, hanya segelintir cabang dan komisariat yang mengadakan diskusi secara virtual. Nah segelintir ini pun ngos-ngosan. Dengan menggunakan media social seperti Instagram, facebook, atau zoom, diskusinya terkesan “asal-asalan”. Wajar boss, nggak ada duitnya. Nggak ada proposal yang bisa jalan. Apalagi bulan Ramadhan seperti sekarang, biasanya ada buka puasa bersama “Kanda dan Dinda” dengan tema “mengatur masa depan bangsa”, semuanya lenyap. Entah kemana kegiatan-kegiatan seperti ini.

Apakah masih penting untuk mengadakan Kongres?

Ini adalah problem yang paling sensitif di organisasi ini. Karena itu, sengaja saya simpan di bagian akhir tulisan. Jika ada yang kurang sepakat dan hendak memaki, silahkan penuhi kolom komentar portal opini ini.

Kebiasaan kongres yang menghabiskan anggaran milyaran rupiah dengan mengkonsolidasi jumlah massa yang sangat besar, terpaksa harus diundur entah sampai kapan sejak wabah ini melanda kita semua. Ditengah ketidakjelasan dan perebutan kuasa ditingkatan PB HMI, membuat semuanya serba bingung dan tidak jelas. Para kandidat terhalang oleh kebijakan larangan menggunakan transportasi umum untuk berkunjung ke cabang-cabang diseluruh Indonesia. Mereka masih wait and see, tidak ada gagasan yang dimunculkan baik melalui media cetak maupun elektronik, dan bahkan di akun media-media sosialnya. Semuaya hening.

Ketidaksiapan infrastruktur organisasi seperti HMI secara digital dalam pendataan jumlah anggota dan kepengurusan dari tingkatan paling bawah menandakan HMI tidak siap dalam era perubahan zaman yang begitu cepat ini. Entah sampai kapan virus ini bisa dijinakkan dengan vaksin yang belum juga ditemukan, membuat HMI semakin menderita.

Sekarang, organisasi ini masih mengandalkan kekuatan photoshop (untuk yang agak canggih), canva (untuk yang nggak mau ribet), dan semua softaware editing untuk sekedar memperlihatkan eksistensi dihadapan senior-senior yang kemungkinan bisa menjadi donatur di kongres yang entah kapan mau diagendakan. Yah walaupun cuma sekedar foto pakai batik lengan panjang dengan brightness 70% dan dibumbui kata-kata “selamat lebaran” oleh “ketua PB HMI” dengan pilihan font dan size yang lebih besar dari ucapannya di poster yang mereka buat.

Untuk mengakhiri tulisan ini, bubarlah, sebelum zaman mempermalukanmu!
Avatar

Rismunandar Iskandar

Fans Arsenal, Pejalan Kaki, Penikmat Kopi dan Pegiat Lingkungan

Tentang Penulis

Avatar

Rismunandar Iskandar

Fans Arsenal, Pejalan Kaki, Penikmat Kopi dan Pegiat Lingkungan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.