Locita

Wisuda ‘Online’, Why Not? Wisuda online akan membuat kita meninjau ulang arti wisuda.

Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Minggu kedua Mei adalah momen wisuda periode Musim Semi ‘Spring’ kampus-kampus Amerika Serikat. Tepat setahun lalu saya pun menjalani prosesi yang paling dinantikan itu. Setelah berjibaku dengan pelbagai rintangan untuk mendapat gelar master, akhirnya selesai pula. Perjuangan selama dua tahun dengan kultur akademik yang ketat mungkin saja mudah bagi mereka yang punya otak encer. Sayangnya, tidak demikian halnya dengan saya.

Selebrasi wisuda yang sama seharusnya juga seperti demikian tahun ini. Seharusnya Eugene Mainake, teman ‘roommate’ saya saat di Amrik merayakan hari wisuda ini sama seperti seperti saya tahun lalu. Naik berjalan ke panggung, berjabat tangan dengan rektor, dan suara-suara bersiul-siul seisi stadion, sambil sesekali tertawa jika nama salah diucapkan.

Anda bisa bayangkan jika pembaca nama tidak terbiasa dengan nama mahasiswa-mahasiswa internasional. Sayangnya, tahun ini wisuda ditiadakan. Wisuda dialihkan menjadi wisuda online. Virtual commencement. Ya, wisuda online. Hal yang mungkin di awal masa pandemik menjadi kelakar belaka. Saat kemudian jadwal semakin mendekati, wisuda online itu juga semakin mendekati kenyataan dan akhirnya demikianlah yang terjadi.

Para mahasiswa yang ingin berfoto dengan baju wisuda tetapi dipersilakan menyewa baju wisuda. Dengan harga yang cukup mahal. Sekitar sejuta jika dirupiahkan. Jika dibeli bisa lebih mahal dari itu. Entah, aksesoris kampus cukup mahal memang. Barangkali demikianlah kapitalisasi bekerja.

Prosesi wisuda online dilakukan dengan pemberian pemberian sambutan rektor dari rumahnya. Lengkap dengan seragamnya. Alumni menyaksikan nama-nama mereka dari layar.

Pandemi Corona (teman saya tidak ingin menyebut nama pandemi ini) memaksa kita menafsikan ulang apa arti wisuda. Wisuda adalah perayaan atau selebrasi setelah bertahun-tahun berjibaku dengan bangku perkuliahan.

Di Indonesia, banyak yang memaknai wisuda sebagai puncak. Puncak pencapaian. Proses paling puncak dari seluruh proses yang ada. Tak sedikit yang memahami bahwa wisuda sebagai kewajiban. Jika tidak berwisuda maka tidak dianggap resmi selesai.

Padahal wisuda hanyalah selebrasi. Seorang resmi menjadi alumni setelah yudisium. Yudisium adalah tanda seorang telah sah menggenggam gelar akademiknya.

Mengapa kampus-kampus Indonesia belum atau tidak melakukan wisuda online juga?
Sependek pengetahuan saya, belum ada kampus yang melakukan wisuda online. Yang ada adalah bimbingan dan ujian online.

Wisuda online memungkinkan kita untuk melihat ulang definisi wisuda. Kesempatan ini juga bisa menjadi kesempatan untuk orang-orang bahwa tanpa wisuda yang penuh dengan selebrasi dan foto-foto pun gelar akademik tetaplah sah.

Wisuda kemudian bukan suatu hal yang terlalu perlu dirayakan, yang dalam banyak hal bagi saya terlalu berlebihan. Setiap kali ada wisuda bisa dipastikan, jalan-jalan akan penuh. Macet. Seorang sarjana bisa dihadiri satu rombongan besar dari kampung. Tak heran jika wisuda bisa menjadi lautan manusia. Di Amerika Serikat hal yang sama juga begitu.

Bedanya jika para keluarga dapat masuk ke arena stadion berapa pun jumlahnya selama kapasitas stadion masih mencukupi. Di tanah air biasanya amat terbatas. Hanya saja di Amrik tidak ada jasa foto dengan wallpaper penuh buku. Meski saya tahu bahwa para mahasiswa sungguh-sungguh belajar dan harus melahap sekian banyak buku sebelum selesai.

Saya sering melihat kebiasaan berfoto dengan wallpaper buku itu seperti penipuan. Saya mengerti jika tujuannya tentu untuk membuat kesan akademik dan intelektual. Tetapi justru disitu pula letak keberlebih-lebihannya.

Dengan latar seolah penuh buku yang telah dibaca, dengan buku-buku tebal, yang syukur-syukur jika memang sebanyak dan setebal itu yang telah baca.

Jika tidak, maka foto itu seperti pembohongan bernuansa akademik. Lalu apa yang sebenarnya dirayakan? Atau memang begitu wajah akademik kita? Penuh dengan kebohongan. Penuh dengan kesan mulia dan terhormat dari luar tapi bobrok di dalamnya. Seperti tubuh banyak institusi pendidikan kita.

Wisuda online juga memungkinkan untuk memangkas biaya operasional misalnya sewa gedung. Saya tidak tahu mengapa banyak kampus yang kemudian lebih memilih melaksanakan ramah tamah dan wisuda di hotel-hotel. Tentu mereka menyewanya. Padahal beberapa dari mereka memiliki gedung sendiri yang cukup besar.

Beberapa periode wisuda belakangan misalnya, UIN Alauddin tidak lagi memfungsikan gedung auditoriumnya untuk perayaan wisuda. Mereka lebih melakukannya di hotel-hotel. Tentu semua ini membutuhkan anggaran. Mengapa mereka tidak memperbaiki gedung-gedung auditoriumnya saja?

Wisuda online akan memangkas kebiasaan yang tidak produktif seperi saya jelaskan di atas. Tetapi apa kampus-kampus kita cukup berani? Mungkin tidak. Kita adalah bangsa yang suka perayaan dan selebrasi meski seringkali tak jelas esensinya apa.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.