Locita

Perempuan dalam Perjuangan Melestarikan Ibu Pertiwi

IMG-20191013-WA0009
Fanda Puspitasari (Wakil Ketua Bidang Pergerakan Sarinah DPP GMNI)

Gerakan perempuan dalam bingkai Ekofeminisme yang berjuang menjaga kelestarian lingkungan di Indonesia.

Seluruh dunia tak terkecuali Indonesia, memperingati tanggal 22 April sebagai Hari Bumi. Awalnya, Hari Bumi pertama kali dicanangkan pada tahun 1970 oleh Gaylord Nelson yang merupakan seorang pengajar di bidang ilmu lingkungan hidup.

Tujuan Hari Bumi, agar seluruh manusia memiliki kesadaran untuk menjaga, merawat, melestarikan tempat kehidupan seluruh makhluk termasuk manusia. Tujuan mulia yang masih urung tercapai secara masif ditengah masyarakat dunia, terlebih jika kita kontekskan dengan kondisi dewasa ini. Kerusakan alam dan lingkungan akibat ketamakan dan keegoisan manusia dalam mengelola potensi alam  masih terus terjadi tanpa ada toleransi berarti.

Sebelum lebih lanjut membahas, hari bumi mari kita mengetahui asal mulanya. Bumi, yang dalam istilah Romawi Kuno disebut sebagai Terra Mater yang berarti Mother Earth atau Ibu Bumi, harusnya dapat dimaknai secara mendalam oleh seluruh umat manusia.

Bumi, layaknya seorang Ibu atau perempuan, seyogyanya dijiwai dan ditempatkan sebagai kerahiman yang penuh arti, sebagai sumber kehidupan, penopang, penjaga, dan pemelihara keberlangsungan hidup bagi setiap makhluk di dalamnya.

Kerusakan lingkungan akibat perlakuan eksploitatif akibat keserakahan manusia memang masih menjadi problematika global, tidak terkecuali di Indonesia. Pasalnya seluruh dunia mengetahui bahwa adanya efek rumah kaca/pemanasan global, penipisan lapisan ozon, hujan asam, dan gejala lainnya merupakan wujud dari kerusakan lingkungan yang dialami bumi ini.

Keberlangsungan Ibu Pertiwi, sebagai pemaknaan Terra Mater dalam istilah nasional bangsa ini, seolah menjadi hal yang tidak patut dipedulikan. Argumen tersebut bukanlah asumsi liar yang tak berdasar. Kita tidak boleh naif dalam melihat persoalan lingkungan yang terjadi di bangsa ini.

Indonesia yang terkenal dengan negara kepulauan, telah melupakan arti penting menjaga dan merawat kehidupan lingkungannya. Di negara ini banyak sekali kita jumpai industrilisasi, pertambangan, dan pengelolaan SDA lainnya yang tidak dibarengi dengan kepedulian dan perhatian terhadap keselamatan lingkungan.

Tidak sedikit agenda pembangunan yang dilakukan kurang memiliki paradigma sensitif lingkungan dan tidak sedikit pula agenda pengelolaan lingkungan yang tidak melalui ataupun tidak sesuai dengan prinsip Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), yang merupakan syarat wajib pengelolaan lingkungan di Indonesia.

Alhasil, banyak lingkungan yang mengalami kerusakan dan kehancuran akibat proyek perindustrian, pertambangan dan pengelolaan SDA yang enggan “direpotkan” dengan berbagai macam aturan pelestarian lingkungan.

Bentuk dari kerusakan-kerusakan tersebut rasanya tidak asing lagi bagi kita yang juga menjadi bagian dari tubuh Ibu Pertiwi. Pencemaran udara (polusi) akibat pembakaran hutan dan kepulan asap mematikan dari pabrik-pabrik, pencemaran air dan kerusakan ekosistem dalam air karena limbah, longsor akibat hutan yang gundul karena penebangan liar dan tanpa adanya reboisasi, serta kerusakan lingkungan lainnya akibat proses industri dan agenda eksplorasi SDA yang bersifat eksploitatif merupakan deretan penyakit kronis yang sedang di derita Ibu Pertiwi.

Banyaknya praktik-praktik eksploitasi dan perusakan lingkungan hidup yang dilakukan oleh negara-negara di seluruh dunia dan oleh sebagian besar umat manusia, pada perjalanannya turut menciptakan kesadaran bergerak bagi segolongan kaum perempuan sebagai satu kesatuan entitas yang tidak terpisahkan dengan manusia secara keseluruhan.

Kesadaran tersebut mewujud dalam paham ekofeminisme yang lalu berkembang secara global. Ekofeminisme melihat keterkaitan antara manusia dengan alam, yang mengharuskan laki-laki dan perempuan membangun relasi setara untuk mencegah kekerasan dan menjaga alam lingkungan dimana mereka hidup.

Beberapa butir konsep ekofeminisme Vandana Shiva mensyaratkan perempuan  harus turut berjuang untuk menyelamatkan dasar-dasar kehidupan yaitu alam, dimanapun dan kapanpun ketika kepentingan pembangunan dan industrial mengancam. Sebab, alam bukanlah benda mati, bukanlah objek yang boleh dieksploitasi.

Searah dengan Shiva, Dwi Susilo dalam bukunya “Sosiologi Lingkungan” menuliskan bahwa gerakan ekofeminisme memberikan penghormatan atas bentuk-bentuk kehidupan non manusia. Artinya tidak hanya kehidupan manusia saja yang dihormati, tetapi juga menghormati makhluk hidup yang lain, seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain yang ada di bumi ini.

Salah satu gerakan perempuan sadar lingkungan yang dapat dijadikan sebagai teladan perjuangan terdapat di Negara Barata, India, yang dikenal dengan Gerakan Chipko. Gerakan Chipko yang dilakukan oleh 27 perempuan di India Utara pada tahun 1974 merupakan bentuk aksi protes untuk menghentikan penebangan pohon yang bertujuan mengeksploitasi hutan.

Mereka memiliki tekad kuat memperjuangkan hak-hak hutan dengan aksi protesnya, yaitu gerakan memeluk pohon. Bak pasukan berani mati, mereka melawan dan menghadapi para penebang pohon dan kontraktor ketika akan melakukan proses penebangan pohon dengan cara memeluk pohon. Aksi gerakan memeluk pohon berlangsung cukup lama.

Alhasil, gerakan mereka mampu memukul mundur para perusak lingkungan. Ini adalah titik penting dimana kesadaran gerakan perempuan muncul untuk menyelamatkan kehidupan yang lebih besar.

Jika di India terdapat gerakan memeluk pohon untuk berjuang melindungi alam, pun di Indonesia terdapat gerakan mengecor kaki dengan semen yang dilakukan oleh para perempuan kuat peduli lingkungan yaitu para perempuan petani Kendeng.

Para perempuan Kendeng merupakan perwujudan ekofeminisme di Indonesia. Hal ini dapat kita lihat dari perjuangan yang dilakukan oleh para perempuan petani Kendeng dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan di daerahnya, Rembang, Provinsi Jawa Tengah.

Para petani perempuan tersebut dikenal dengan sebutan Kartini dari Pegunungan Kendeng (Kartini Kendeng). Kartini Kendeng memprotes izin lingkungan yang ditandatangani oleh Gubernur Jawa Tengah dengan mengecor kaki mereka di depan Istana Negara pada April 2016 lalu.

Gerakan tersebut dilakukan lantaran mereka meminta kepada Presiden Jokowi untuk segera mencabut izin lingkungan yang diberikan oleh Gubernur Jawa Tengah kepada PT Semen Indonesia dan menghentikan kegiatan penambangan karst oleh pabrik semen yang dinilai merusak lingkungan.

Aksi penolakan yang dilakukan para Kartini Kendeng sangat beralasan. Pasalnya, kawasan tersebut secara hukum telah ditetapkan sebagai Kawasan Lindung Geologi melalui Perda Tata Ruang Kabupaten Rembang No. 14 tahun 2011.

Selain itu, berdasarkan Keppres No. 26 tahun 2011, Gunung Watuputih, sebagai pegunungan yang akan ditambang untuk memproduksi bahan baku semen, ditetapkan sebagai salah satu Cekungan Air Tanah (CAT) yang harus dilindungi. Oleh sebab itu, jika pendirian industri tersebut tetap dijalankan, maka besar kemungkinan akan merusak sumber mata air di Pegunungan Kendeng, dan hal tersebut akan memunculkan dampak yang lebih buruk terhadap masyarakat.

Hingga kini, persoalan penambangan di daerah kendeng, belum menemukan titik terang. Para Kartini Kendeng bersama dengan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPKK) menjadikan momentum Hari Kartini dan Hari Bumi tahun ini untuk kembali menyerukan pelestarian alam Kendeng.

Mereka merasa perlu ada tindakan nyata untuk menghentikan kegiatan penambangan, karena kerusakan lingkungan akibat penambangan setiap hari terjadi tiada henti. Kegiatan penambangan yang terus beroperasi dan berproduksi menyebabkan terjadi penurunan debit mata air di sekitar lokasi penambangan.

Bagaimanapun, kerusakan lingkungan yang terjadi di negara ini telah menimbulkan lara bagi Ibu Pertiwi. Ibu pertiwi yang tanpa pamrih telah menjadi penyedia sumber kehidupan, menjadi pelindung dan penopang kehidupan manusia justru mendapat imbalan perlakuan yang kejam dan bengis. Kartini Kendeng, hadir sebagai pejuang tangguh dengan semangat pembebasan demi menyelamatkan bumi dari rongrongan kehancuran.

Serupa dengan nilai yang diusung oleh ekofeminisme, Kartini Kendeng berjuang agar lingkungan tidak menjadi objek subordinasi dan eksploitasi oleh umat manusia.

Bagi mereka, alam yang asri tanpa industri adalah penopang hidup utama. Warga akan kehilangan hak hidupnya jika Pegunungan Kendeng sebagai sumber air utama diubah menjadi kawasan industri. Menurut Kartini Kendeng,  kelestarian alam sangat penting untuk dijaga, karena tanpa alam yang lestari maka musnahlah peradaban manusia.

Penolakan keberadaan pabrik semen, bukan berarti Kartini Kendeng anti pembangunan. Justru Kartini Kendeng berupaya menjaga marwah pembangunan agar tetap berjalan tanpa merusak keseimbangan lingkungan. Pembangunan yang memiliki paradigma kepedulian lingkungan dan yang berkeadilan sosial adalah harapan dari Kartini Kendeng.

Kartini Kendeng telah hadir dalam perjuangan menyelamatkan bagian dari Ibu Pertiwi demi kelangsungan kehidupan yang lebih besar. Hal ini menjadi bukti bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menjaga dan merawat kelestarian lingkungan.

Simbolisasi Terra Mater atau Ibu Pertiwi sebagai tanah air Indonesia menempatkan kedudukan Ibu Pertiwi sebagai pelindung bagi segenap isinya termasuk manusia didalamnya. Untuk itu nasib dari Ibu Pertiwi harus menjadi agenda perjuangan yang patut dikedepankan. Kartini Kendeng adalah wujud dari perempuan sebagai pelindung dan perawat kehidupan layaknya Ibu Pertiwi.

Fanda Puspitasari

Fanda Puspitasari

Wakil Ketua Bidang Pergerakan Sarinah Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia

Add comment

Tentang Penulis

Fanda Puspitasari

Fanda Puspitasari

Wakil Ketua Bidang Pergerakan Sarinah Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.