Locita

Tutorial Mudik Vs Pulang Kampung Untuk NetiZen

Ilustrasi (Foto: Youtube.com)

Mudik Vs Pulang Kampung apa bedanya? Kamu mau mudik atau pulang kampung?

Sudah hampir seminggu, video bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Acara Mata Najwa nangkring di urutan teratas trending topic youtube Indonesia. Video yang diupload channelnya mbak Najwa Shihab itu menjadi menjadi pembahasan oleh para netijen di negara +62 ini.

Penyebabnya sebenarnya cuma satu sih, pak Jokowi menerangkan soal mudik dan pulang kampung. Menurut beliau, mudik dan pulang kampung itu berbeda, sementara netijen gak nyampek pikirannya terhadap apa yang disampaikan bapak kepala negara tercinta itu.

Biar bisa nyambung dengan apa yang pak presiden, penulis (ceile..) mau menjelaskan apa sih perbedaan mudik dan pulang kampung itu. Emang ada perbedaannya atau enggak ya? Anyway penulis disini tidak dalam rangka menggurui, Cuma mau share pemahaman tentang seputar mudik dan pulang kampung berdasarkan pengamatan saja.

Jadi jangan langsung dibully yah gaes… Silakan dibaca sampai tuntas, lalu setelah itu dipahami. Jika belum paham, atau tidak sepakat dengan tulisan ini, di akhir nanti penulis akan kasi tips deh kemana hendak komplain.

Begini gaes, Mudik secara terminologi bahasa versi KBBI V online itu memiliki makna, satu (Berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman). Dua, cak pulang kampung halaman. Sementara pulang kampung menurut versi yang sama memiliki arti kembali ke kampung halaman.

Nah lho, bingung kan? Tapi apa iya cuma itu doang yang dimaksud oleh pak Presiden kita? Tentu saja bukan dong. Lalu apa yang membedakan keduanya? Sabar, imsak masih jauh, jadi sampai sini boleh deh maki-maki penulis. hehe

Gini ya perbedaannya, Mudik yang dimaksud itu pulang ‘hanya’ untuk lebaran, atau natalan, pun juga tahun baru. Ada periodenya, makanya dibuatlah semacam skema transportasi dll dengan nama Arus Mudik (+ arus balik). Biasanya arus mudik ada puncaknya, kalau lebaran sekitar H-2 sampai H+1 lebaran. Pasca itu, dimulailah arus balik dimana orang-orang yang sudah melepas kangen kembali ke tanah rantau. Sebab ada pekerjaan atau usaha yang telah menunggu.

Pemudik biasanya lama di tanah rantau dan mulai sukses, sehingga mereka mampu mudik dengan segudang kesuksesan mereka. Kebanyakan dari mereka merantau bersama istri kadang anak-anaknya diajak pula, makanya kita sering lihat laporan arus mudik itu ada sepasang suami-istri bersama anak-anaknya plus barang-barang dibawa pakai motor. Rata-rata pemudik datang dari kota-kota besar seperti wilayah Jabodetabek gitu. Kalau melihat video semacam itu, penulis gak habis pikir kenapa mereka mau ya? Tapi itu pilihan mereka juga sih ya.

Nah pulang kampung gimana? Pulang kampung itu sama-sama balik ke rumah masing-masing. Tapi, mereka tidak ada periode rutinnya. Mereka pulang karena keadaan yang mendesak, misalnya ada keluarga yang meninggal mereka pulang kampung dulu, bukan mudik dulu.

Dan saat ini orang pulang kampung karena sudah tidak memiliki pekerjaan, sehingga satu-satunya pilihan mereka melanjutkan hidup ya balik kampung dan bekerja disana. Ini yang dimaksud pak Jokowi yang enggak dilarang.

Kenapa gak dilarang juga? Ya mau gimana lagi, mereka pulang kampung karena usahanya macet atau di-PHK oleh perusahaan yang mempekerjakan mereka di tanah rantau. Sementara mereka hidup di rantau harus bayar kontrakan, harus tetap beli makan, dan pemasukan mereka sudah tidak ada.

Ya sudah mereka pulang kampung, ke rumah dimana anak dan istri mereka tinggal, karena biasanya keluarga mereka tetap di kampung dan gak ikut merantau. Masak pemerintah mau melarang? Mau membiarkan mereka tidur di emperan toko dan kelaparan? Sudah banyak lho beritanya tentang mereka yang sudah tidak mampu membayar kontrakan dll.

Lalu apa pemudik tidak ada opsi menetap di kampung halamannya? tentu ada, bagi mereka yang mungkin ‘bosan’ di tanah rantau. Apa orang yang balik kampung gak ada opsi untuk balik? tentu ada. Tapi mereka akan kembali ketika sudah ada kepastian pekerjaan dst.

Jadi sekali lagi, yang di larang itu mereka yang mau pulang ‘hanya’ lebaran, seandainya gak pulang kampung mereka masih bisa hidup sampai pandemi corona ini benar-benar selesai teratasi. Paham? Kalau belum paham mari penulis lanjutkan.

Penulis mau ngasi contoh diri sendiri. Penulis tinggal di Jakarta sejak awal tahun lalu pulang ke Madura pada pertengahan maret kemarin. Penulis ini mudik apa pulang kampung? Jelas pulang kampung, karena alasan kepulangannya disebabkan Jakarta mulai tidak kondusif. Kegiatan mandek setelah banyak agenda dibatalkan.

Dari pada penulis tidak ngapa-ngapain, tidak produktif maka balik waktu itu. Seandainya kondisi tidak seperti sekarang, tentu penulis memilih mudik di akhir ramadhan nanti. Selain itu penulis juga sering pulang ke Kampung halaman, bisa setiap bulan, dan itu tidak disebut mudik tapi pulang kampung.

Seharusnya netijen paham jika menonton secara lengkap penjelasan pak Jokowi itu. Bahkan beliau dengan detail menyampaikan, bahwa ada sebagian masyarakat yang ngontrak di tempat yang sempit diisi oleh 8-9 orang, dan mereka sudah tidak memiliki pekerjaan atau usaha.

Lebih bahaya mana, pulang kampung dengan menetap di tempat merantau? Tentu lebih lebih bahaya di tanah rantau. Lagian kata pak Jokowi, pulang kampung itu kan ada prosedurnya. Mulai dari pendaftaran, sampai di kampung halamannya dikasi pelayanan untuk karantina mandiri dst.

Penulis pikir pak Jokowi itu realistis, beliau tidak menahan orang agar tidak pulang kampung karena jika dipaksa katakanlah contoh Jakarta saja dikarantina, maka negara harus mengeluarkan biaya 550 M perhari. Di sisi lain, uang segitu negara tidak puya.

Coba 550M itu dikali 14 hari saja, berapa tuh angkanya? Bisa bangkrut ini negara kita. Itu kata pak Jokowi Jakarta doang, belum Jabodetabek. Kalau Jabodetabek yang dikarantina, biaya perharinya tiga kali lipat dari itu.

Jadi mudik dan pulang kampung itu perbedaannya di waktu, tujuan, dan kepastian. Lalu kenapa kita berdebat soal mudik dan pulang kampung? Karena kita kurang edukasi kalau tidak mau dikata gak nonton sampai selesai. Jadi yang dilarang itu mudik, apa pulang kampung? Ya mudiklah.

Masing kurang paham? Simplenya gini, di awal tulisan penulis sudah memaparkan jika mudik yang di maksud pak Jokowi itu yang ada skemanya, dari transportasi hingga skema ekonomi.

Contohnya setiap ada hari-hari besar diberlakukan operasi semeru dan dibuatkan posko pemberhentian oleh Kepolisian. Ya itu waktu mudik yang dimaksud, dan di luar dari itu di sebut pulang kampung. Coba cek sekarang, sejak beberapa hari yang lalu penerbangan, kereta atau transportasi publik sudah banyak yang dihentikan operasinya untuk sementara waktu.

Selain itu bagi mereka yang mau pulang di waktu arus mudik menggunakan kendaraan pribadi juga disuruh putar balik, kalau maksa katanya diancan dengan denda.

Memang kebijakan ini pasti menuai pro dan kontra. Dan bagi yang belum pulang kampung sebelum arus mudik dilarang, mereka menjadi korban. Sebab, mereka ‘dianggap’ bagian dari pemudik. Penulis kurang paham, apakah ada aturan tertentu bagi mereka yang kena PHK sehingga mereka bisa pulang ke kampung untuk menyelamatkan diri atau tidak.

Dari sisi kesehatan, mari mencoba menganalisa sendiri. Memang penulis bukan ahli di bidang ini, tapi ayo kita nyoba berandai-andai. Gini, dari atas penulis pikir sudah cukup jelas perbedaan mudik dan pulang kampung.

Sekali lagi, pemudik adalah mereka yang pulang ke kampung halamannya ‘hanya’ untuk lebaran saja. Sementara orang pulang kampung simplenya misi mereka menyelamatkan diri dengan berbagai aturan yang harus dijalani, seperti karantina mandiri misalnya.

Jika pemudik itu gak dilarang, kita asumsikan 10% saja dari mereka positif corona maka mereka akan menyebarkan virus ini ke daerah mereka masing-masing. Dan Kota-kota besar tempat mereka merantau sudah mengupayakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), seperti DKI Jakarta dan sekitar wilayah Jabodetabek, atau Surabaya, Sidoarjo, Gresik kalau di Jawa Timur.

Setelah masa PSBB selesai, katakanlah wilayah itu sudah selesai sementara di daerah-daerah tempat para pemudik bisa jadi sedang gawat darurat kondisinya karena salah satu penyebabnya disebarkan oleh para pemudik ini.

Di saat yang bersamaan, para pemudik ini sudah sampai pada waktu arus balik maka mereka juga balik ke tempat rantauan mereka. Asumsikan lagi 10% dari perantau yang hendak balik ini ternyata positif corona. Apa jadinya? Gak selesai-selesai jadinya. Dan kondisi ini memungkinkan, karena para pemudik ini tujuannya lebaran. Lebaran ya isinya silaturrahmi. Dan para pemudik ini beda sama mereka yang balik kampung, yang harus karantina mandiri dst.

Selain itu kalau pemudik tidak balik ke tanah rantau, usaha mereka bisa mati, atau mereka bisa dipecat dari pekerjaannya. Yang balik kampung sudah tidak ada itu semua, mereka harus menunggu pekerjaan lain kalau mau balik merantau, atau bertahan dan mencari penghidupan di kampung halamannya.

Jadi penulis ulang, perbedaan dari keduanya itu ada pada waktu, tujuan, dan kepastian penghidupan mereka. Masih belum ngerti? Kalau masih belum silakan ke Polsek atau Polres terdekat kalian, lalu tanya, apa itu arus mudik? oke? Sekian.

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Tentang Penulis

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.