Locita

Jalan Panjang Pandemi Covid19: Alternatif Pembelajaran Yang Efektif

Ilustrasi (Foto: Republika)

Belajar di rumah dan menggunakan teknologi mungkin mudah bagi masyarakat kota, bagaimana dengan masyarakat pedesaan yang masih gagap teknologi?

Wabah Covid-19 memaksa semua aspek terganggu. Tidak ada lagi keseimbangan antara aspek yang satu dengan yang lain. Bahkan rasa kemanusiaan pun kini dipertanyakan kembali, tatkala ketika orang/perseorangan memberikan bantuan kepada masyarakat menengah kebawah menjadi bahan pembicaraan di media sosial dan media lainnya,ada yang menuai pujian dan bahkan kritikan.

Tak hanya itu segala opini publik pun semakin kencang arusnya,kemungkinan akibat himbauan #dirumah aja atay StayAtHome yang membuat para warganet bosan dan ingin mencari hal yang baru. Ya, mungkin bagi mereka yang tidak punya kerjaan.

Lalu bagaimana dengan mereka yang aktivitas atau pekerjaanya harus melalui online? pastinya mereka akan kesusahan dan ada yang gagap dengan penggunaan hal hal baru yang berhubungan dengan teknologi.

Ya, dampak Covid-19 ini menjadi ujian pertama bagi semua lapisan masyarakat di Indonesia untuk kesiapaan akan keberlangsungan era Revolusi Industri 4.0 yang beberapa tahun terakhir ini digadang gadang. Realitanya semua aktivitas pada masa Covid 19 ini beralih ke teknologi.

Berbagai aplikasi yang mendukung aktivitas pekerjaan manusia menjadi tren seketika, bahkan hampir mengalahkan aplikasi Tiktok yang tren bagi anak muda, seperti penggunaan aplikasi Zoom Meeting, Google Classrom, Ruang Guru dan aplikasi pendukung lainnya yang disiapkan oleh setiap instansi sesuai dengan peruntukannya.

Bahkan dapat dikatakan dampak pandemi ini menjadikan semua berada di genggaman hanya dengan bermodalkan paling sedikit Handphone dan kuota internet.

Namun disisi lain, fakta yang terjadi bahwa sebagian masyarakat Indonesia belum siap untuk setiap aktivitasnya beralih  dengan menggunakan Teknologi berbasis online. Terdapat adanya keluhan karena masih minimnya sarana dan prasarana pendukung untuk itu serta kebutuhan ekonomi juga sangat berpengaruh.

Melihat realita, terjadinya peralihan aktivitas yang banyak ke Online atau secara daring terjadi di bidang pendidikan. Tidak hanya Perguruan Tinggi, sekolah pun dituntut untuk melakukan pembelajaran jarak jauh melalui Online/daring dan penugasan dirumah. Yang hal itu sebagaimana termuat dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.

Konsep Pembelajaran jarak jauh, terutama melalui online/daring dimasa pandemi ini memang bagus dan relevan sebagai uji coba kesiapan akan era revolusi Industri 4.0. Akan tetapi konsep ini harus di evalusi kembali.

Karena tidak semua wilayah di Indonesia mampu menerapkan konsep pembelajaran Online/daring. Hal itu didasari karena sarana dan prasana penunjang yang minim, ditambah akses jaringan yang tidak sampai ke pelosok daerah tertentu.

Sehingga disini para pemangku jabatan di tingkat Provinsi dan Daerah  yang membidangi Pendidikan harus mencari alternatif baru guna melanjutkan proses pembelajaran yang terdampak akibat pandemi Covid-19.

Keresahan Pembelajaran Online/Daring
Melihat kondisi yang terjadi didaerah, dalam penerepan Pembelajaran jarak jauh dengan metode online/daring menjadi kegelisahan antara tenaga pendidik, siswa dan orangtua. Jika posisinya dengan akses, sarana dan lokasi yang memadai bisa saja metode pembelajaran online/daring bisa diterapkan.

Lalu sebaliknya bagaimana dengan yang tidak memiliki akses, sarana dan lokasi yang pas, mungkinkah pembelajaran online/daring terlaksana tanpa mengganggu kurikulum yang sudah tersusun? Belum tentu, maka disinilah seharusnya ada kebijakan yang harus dipikirkan bersama.

Penerapan konsep pembelajaran jarak jauh dengan metode online/daring menjadikan suka duka bagi tenaga pendidik, siswa dan orangtua. Mungkin bagi yang bisa menerapkan metode pembelajaran online/daring bisa menjadi kesukaan karena tidak harus bertatap muka.

Tapi kebanyakan malah duka dan keluh resah yang didapatkan baik oleh tenaga pendidik ,siswa dan orangtua.

Seperti hal nya tenaga pendidik yang harus kebingungan agar proses pembelajaran tetap tersalurkan kepada siswa siswa nya. Seperti halnya di Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara, Metode pembelajaran jarak jauh secara online/ daring masih sulit untuk diterapkan, utamanya untuk SD-SMP.

Berdasarkan survey online yang dilakukan secara online melalui media sosial faceboo disalah sat group Kabar-Kabari Humbang Hasundutan (https://m.facebook.com/groups/236431029740289?view=permalink&id=3083942801655750&comment_id=3088179997898697&notif_t=group_activity&notif_id=1587483583326397&ref=m_notif) cukup mengagetkan karena respon serta keluhan terhadap pembelajaran yang berdampak pandemi ini. Walaupun survey online dipost dengan gaya tulisan yang secara kontroversional.

Dari respon yang didapatkan bahwa untuk tetap melanjutkan proses pembelajaran yang efektifi kembali, adanya tenaga pendidik yang turun langsung ke rumah rumah siswa satu persatu untuk memberikan pembelajaran.

Di sisi lain bagi yang mendukung fasilitas jaringannya bisa melakukan pembelajaran secara jarak jauh secara online dengan kerjasama antara orang tua dan tenaga pendidik, seperti dimasukkan nya nomor watshap orang tua kedalam satu group.

Selain survey di Facebook tersebut, ada juga beberapa wawancara secara online via Watshapp terhadap beberapa orang dengan mengambil sampel 1 orang di beberapa kecamatan.

Sedikit perbedaan dari tanggapan diatas (group facebook) bahwa cara lain pembelajaran jarak jauh karena pandemi ini dilakukan dengan memberikan tugas yang banyak kepada siswa nya. Ada juga tanggapan yang berbeda dari wawancara via watshap tersebut seperti karena adanya permintaan Dinas Pendidikan sebagai data/bukti melakukan pembelajaran dimasa pandemi ini, maka tenaga pendidik nya turun menjumpai siswa nya dan memberi tugas lalu difoto.

Lantas itu hanya sebagian kecil respon dan tindakan para tenaga pendidik, yang bisa menjangkau baik secara sistem jaringan maupun turun langsung dengan banyak nya sekolah SD-SMP di wilayah kabupaten Humbang Hasundutan.

Banyak hal yang menjadi pertimbangan untuk menerapkan kebijakan sebagai solusi agar pembelajaran dimasa pandemi ini berjalan efektif dan efisien. Namun peran dinas pendidikan sejauh pandemi ini sangat lah penting. Bersinergi dengan beberapa elemen bisa saja untuk tetap menjaga ke efektifan pembelajaran. Menjadi pertanyaan sudah sejauh mana kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mensinergikan hal tersebut?.

Dengan keterbukaan informasi yang saat ini bisa diakses seharusnya pertanyaan tersebut dapat diketahui oleh masyarakat.

Masa pandemi Covid-19 tidak ada yang tau sampai kapan berakhir. Banyaknya harapan dan doa agar pandemi ini segera berakhir. Tapi disisi lain segala aspek semakin keblinger, terutama dalam aspek pendidikan.

Memang betul kembali pada pernyataan bahwa Era Revolusi Industri 4.0 yang sasarannya kepada penggunaan teknologi dam sistem jaringan sedang menguji kesiapan Indonesia. Hal itu dengan kehadiran pandemi yang ditandai dengan sistem pembelajaran jarak jauh dengan metode online.

Jika belajar dari dunia untuk mengatasi Covid-19 ini, seperti di Rusia dan Belanda dalam aspek pendidikan sangat maksimal menggunakan metode jarak jauh secara online. Ya, wajar karena fasilitas pendukung sangat terpenuhi. Dalam Diskusi Online yang di ikuti penulis, dengan tema “belajar dari dunia mengatasi Covid-19” yang dilaksanakan secara online oleh DPP GMNI pada 23 April 2020, dengan mempertanyakan bagaimana mencari alternatif pembelajaran online di daerah Indonesia.

Maka Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Deen Hag Belanda, Din Wahid menyampaikan bahwa memang siap atau tidak siap pembelajaran jarak jauh online memang harus dilakukan, walaupun sarana dan prasarana pendukung minim, Pemerintah Pusat dan Daerah harus bersinergi dan memikirkan solusi agar pembelajaran online ini berjalan dengan efektif.

Anggaran negara maupun daerah dapat dipergunakan untuk mendukung metode pembelajaran online.Seperti halnya yang dilakukan oleh kampus kampus, dapat juga dilakukan kesekolah sekolah. selain itu sekolah pun bisa memaksimalkan anggaran dana BOS untuk penunjang pembelajaran dimasa pandemi ini. Untuk itu perlu adanya sinergi antara pemerintah dibidang pendidikan baik daerah dan pusat.

Melihat realita yang terjadi, perlu adanya alternatif dalam pembelajaran online/daring akibat dampak pandemi ini. Selain dengan memberikan tugas kepada siswa, tenaga pendidik yang turun ke rumah rumah siswa dan pembelajaran dari tv melalaui TVRI atas kerjasama pemerintah pusat.

Namun apabila hal itupun belum menjangkau seluruh lapisan siswa di daerah-daerah maka dapat dilakukan dengan pembelajaran melalui radio. Pemerintah daerah dapat berkordinasi dengan seluruh satuan pendidikan(Kepala sekolah dan Tenaga Pendidik) agar dapat bekerjasama dengan pihak radio untuk memberlakukan pembelajaran jarak jauh.

Teknis pelaksanaannya bisa dijadikan sama dengan teknis yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat yang bekerjasama dengan TVRI.  Pemerintah Daerah menentukan manajemen waktu setiap harinya untuk jadwal pembelajaran melalui radio dan tenaga pendidik yang akan memberikan materi dari radio, dan siswa cukup hanya mendengarkan dan mencatat apa yang disampaikam oleh tenaga pendidik tersebut dari radio.

Hal ini dirasa mampu mendukung ke efektifan proses pembelajaran dan dapat menjangkau lapisan siswa yang terkendala karena sarana dan prasarana  pembelajaran online. Selain itu juga siswa dan orang tua tidak berdampak pada kerugian ekonomi lagi.

Hanya saja kerjasama antara siswa, Orang Tua dan Tenaga Pendidik sangat di maksimalkan, terutama nya dalam manajemen kan waktu. Dengan cara ini, penggunaan radio dalam proses pembelajaran dimasa pandemi ini dapat memaksimalkan kembali peran penggunaan radio yang hampir tak diminati oleh masyarakat akibat adanya teknologi pengganti yang baru dan canggih.

Masa pandemi Covid-19 ini menjadi suatu ancaman serius bagi dunia. Mengutip pendapat Prof. Muradi, Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Padjajaran yang disampaikan pada Diskusi Online DPC GMNI Pekanbaru pada 19 April 2020, bahwa masih banyak orang orang yang menganggap sepele pandemi ini, padahal pandemi ini sudah mengancam kehidupan dunia, terutamanya dalam sisi keamanan.

Maka untuk itu dimasa pandemi ini diharapkan kerjasama yang efektif kepada seluruh warga negara indonesia tanpa terkecuali agar pemutusan mata rantai pandemi ini berakhir dan kembali beraktivitas dengan normal. Jika tidak adanya kerjasama yang baik maka pandemi ini akan berlanjut sampai tidak ada yang tau kapan berakhir.

Di sisi lain tidak hanya kerjasama yang efektif oleh seluruh warga negara Indonesia, tetapi Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah harus betul-betul memberi kan kebijakan yang tepat sasaran, jangan sampai ada penyelewengan atau ambil kesempatan dalam bencana kemanusiaan ini.

Ganda M Sihite

Ganda M Sihite

*Fakultas Hukum Universitas Riau
*Wakabid Politik, Hukum dan Ham DPC GmnI Pekanbaru
*Putera Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan
*Putera Siraja Oloan (SRO)

Tentang Penulis

Ganda M Sihite

Ganda M Sihite

*Fakultas Hukum Universitas Riau
*Wakabid Politik, Hukum dan Ham DPC GmnI Pekanbaru
*Putera Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan
*Putera Siraja Oloan (SRO)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.