Locita

Corona, Puasa, dan Orang-orang yang Mempersulit Diri

Ilustrasi (Foto: Woolipop)

Ada yang berbeda dengan bulan Puasa tahun ini, termasuk perbedaan menanggapi himbauan pemerintah dan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Imbauan ini kemudian berubah menjadi perintah dalam bentuk PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Jika melanggar terancam denda dan pidana. Namun, hasilnya sama saja. Tetap saja ada orang-orang yang merasa benar sendiri, tidak peduli dan cuek dengan aturan. Ketidakpedulian dan kecuekan tersebut selanjutnya bisa dipahami sebagai bentuk pembangkangan.

Pada mulanya saya pikir orang-orang di kota saja  yang sering merasa pintar dan terdidik saja yang banyak membangkang. Di kampungpun tidak jauh berbeda.

Sebuah rapat diadakan bersama dengan warga, tokoh masyarakat, dan pemerintah. Dalam rapat tersebut hadir bersama pak gubernur (Sulawesi Selatan) melalui teleconference. Hal itu berarti hasil rapat memiliki daya yang kuat sebab diputuskan dan diarahkan langsung dari gubernur. Hasil rapat itu untuk menutup masjid sementara waktu, tidak mengadakan salat berjamaah berupa Salat Jumat, salat fardu, dan salat tarawih juga didukung sepenuhnya oleh MUI dalam bentuk fatwa sampai waktu normal kembali.

Di kampung saya, imbauan untuk tidak melaksanakan Salat Jumat dan salat berjamaah lain di masjid sudah dikeluarkan pemerintah daerah dan MUI setempat. Sosialisasi sudah dilakukan seminggu sebelumnya sebelum penetapan penutupan masjid diberlakukan.

Namun, tetap saja ada orang-orang yang tidak tunduk pada kesepakatan rapat dan memilih tidak melaksanakan. Ketika masjid tertutup, mereka membukanya sendiri. Kaset diputar dan azan dikumandangkan, memanggil orang-orang ke masjid. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan tidak ada yang perlu diwaspadai.

Pengurus masjid terbelah dua kubu. Mereka yang turut pada pemerintah dan MUI tidak akan menampakkan dirinya ke masjid. Bukan apa-apa. Di kampung ada patroli. Ketika patroli itu tiba-tiba datang dan mereka terlihat, jabatan mereka menjadi taruhannya. Pada gilirannya akan berdampak ke pemerintah desa, lanjut ke pemerintah kecamatan dan seterusnya.

Namun, di satu sisi, mereka tidak juga berani sampai menghadang mereka untuk membuka masjid. Sebab jika tensi perbedaan tersebut terus dipertahankan, perselisihan bisa terjadi, termasuk hal-hal buruk yang tidak diinginkan bisa terjadi.

Yang menarik bagi saya, misalnya, adalah mereka yang kepala batu kekeuh tetap Salat Jumat dan berjamaah di masjid dan makin hari azannya semakin lantang adalah mereka yang biasanya justru melanggar aturan-aturan agama. Justru masjid yang biasanya tidak ramai tiba-tiba lebih ramai dari hari biasanya. Dan mereka bersuara keras seolah-olah mereka siap berkelahi jika dipaksa.

Tak jarang saya temui kata-kata jika mereka tetap salat di masjid sebagai bentuk kepatuhan kepada Allah, alih-alih takut pada corona. Ada pula yang menyebut toh mau karena corona atau bukan pasti tetap saja akan meninggal. Atau masa iya masjid ditutup sementara pasar tidak.

Jika mereka membangkang pada pemerintah, pada titik tertentu saya bisa memahami. Masyarakat sudah lama kehilangan kepercayaan pada pemerintah. Tetapi jika mereka menyepelekan fatwa MUI, saya pikir ada keegoisan beragama.

Fatwa tersebut dikeluarkan tidak sekadar membalikkan tepuk tangan. Mereka adalah para ulama yang ahli di bidang masing-masing. Mereka menempuh pendidikan agama bertahun-tahun sampai ke Mesir atau Arab Saudi. Jika orang-orang yang sangat paham saja seperti mereka melakukan demikian, lalu apa dasar mereka yang kepala batu itu?

Hal ini memang perihal keyakinan, sebuah hal yang sensitif. Jika kita boleh meyakini keyakinan sendiri seyakin-yakinnya lantas mengapa mereka tidak boleh? Tetapi perlu diingat jika keyakinan tersebut tentu harus berdasar. Bukan didasarkan pada ilmu yang terpotong-potong.

Semisalnya, melaksanakan salat adalah wajib. Keyakinan bahwa hukumnya wajib dan olehnya takut terkena dosa adalah yang bagus. Namun, hal lain yang mungkin belum dipahami adalah bahwa menjaga kesehatan justru adalah fardu ‘ain, hukumnya jauh lebih penting dari fardu kifayah yang menjadi hukum wajib salat. Sebaliknya, karena sifat korona yang demikian, mereka yang salat di masjid ketika terpapar bisa membawa ke rumah. Lantas istrinya menjadi terkena atau anggota keluarga lainnya. Saat mereka meninggal dan penyebabnya karena keyakinan yang sepotong-potong tersebut maka dosanya akan terlimpahkan kepada mereka.

Para tokoh agama harus ambil bagian dan proaktif memberikan pemahaman. Karena bentuknya keyakinan yang sudah melekat dan dalam keyakinan mereka, untuk mengubahnya tentu tidak akan mudah. Namun, justru akan lebih berbahaya jika yang mereka yang juga tidak memahami akar keilmuan agama mendalam lantas mengambil alih peran tokoh agama. Jika menyangkut soal keyakinan, seorang tidak akan ragu mempertaruhkan nyawanya dan mempertahankannya demi keegoisan pribadi sama berbahayanya.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.