Locita

Keruhnya Nasib Air Minum Pengungsi Rohingya Catatan dari Pengungsi Rohingya

Air pompa sebagai sumber konsumsi pengungsi (Foto: Dhihram Tenrisau)

DI HADAPAN Dokter Pradipta Syuarsaf duduk seorang anak, Zahib Husan (3) yang kini digandeng oleh ibunya. Dia datang dalam keadaan lemas, setelah beberapa jam lalu saat buang hajat dia turut mengeluarkan darah.

Keluhan itu dirasakannya sudah hampir lebih sebulan, dan lebih lima kali darah ikut merembes bersama tinjanya yang encer, diikuti rasa mulas. Pradipta berkesimpulan bahwa anak tersebut didera infeksi saluran cerna. Saat ditanya oleh dokter dari Dompet Dhuafa ini, dia mengakui bahwa keluarganya meminum air langsung dari pompa air tanpa memasaknya terlebih dahulu.

Air adalah problematika yang kerap dialami pengungsi Rohingya, sekalipun air pompa dan air pembagian telah terdistribusi ke para pengungsi ini, di tiap sudut blok hunian. Zahib Husan adalah satu di antara ribuan para pengungsi yang mengalami permasalahan kesehatan disebabkan oleh air bersih.

Air adalah kunci

Krisis air bersih disebutkan oleh  data yang dirilis oleh MSF. Di situ disebutkan bahwa, sekitar 33 ribu orang pengungsi meminum air yang tidak layak dikonsumsi.

Banyak faktor yang kemudian menjadi penyebabnya. Pertama, kedalaman sumur. Salah satu anggota NGO Banglades, We The Dreamers yang fokus pada pengungsi ini, Kutub Tariq, mengatakan bahwa kedalaman sumur di daerah pengungsi di Cox’s Bazar ini tidak sesuai dengan standarisasi kedalaman sumur yang telah ditetapkan.

“Seharusnya kedalaman sumur di daerah pengungsi adalah 45 meter lebih, namun nyatanya hampir seluruhnya hanya mencapai 9-10 meter, sehingga kualitas airnya buruk,” tuturnya.

Hal itu juga disebabkan karena lokasi yang dekat dengan laut, sehingga ketika penggalian air yang terlalu dalam, dapat menyebabkan sumber air menjadi asin. Beberapa tempat saja yang beruntung dapat mendapatkan air dari daerah dekat sungai.

Selain dari itu, antropolog kesehatan ini berujar, bahwa sanitasi di lingkungan kamp pengungsi ini menjadi masalah. Bayangkan, jarak antara toilet dan pompa air mereka hanya berjarak sekitar 1 meter atau 2 meter. Sedangkan menurut Centres of Disease Control Prevention (CDC), jarak ideal antara septik tank dan sumber air adalah 50 kaki atau sekitar 15 meter.

Masalah lainnya adalah kebiasaan sebagian para pengungsi masih memiliki kebiasaan yang buruk, salah satunya adalah buang air dekat sumber air. Kebiasaan ini menyebabkan kontaminasi terhadap air minum.

Kelangkaan dan tidak meratanya distribusi air minum juga tidak merata. Bayangkan ketika sebuah truk yang mengangkut air minum botolan, harus dikerubungi oleh para dewasa dan anak-anak. Teknik pembagian yang secara random ini menyebabkan beberapa tenda dan keluarga tidak mendapatkan distribusi yang merata. Pun juga beberapa pembagian lainnya.

Perebutan pembagian air oleh warga pengungsi (Foto: Dhihram Tenrisau)

Walhasil, beberapa keluarga harus meminum air tanpa memasak ataupun proses higienis lainnya. Apalagi kayu bakar untuk memanaskan tungku (semua keluarga memakai tungku untuk memasak) membutuhkan waktu lama dan jumlah air yang terbatas dan tidak mampu mencukupi kebutuhan air minum rumah.

Hal itu juga diutarakan oleh Pradipta Syuarsaf, pimpinan tim medis Indonesian Humanitarian Alliance (IHA) ini. Dia menuturkan bahwa penyakit yang berhubungan dengan air minum menjadi salah satu permasalahan para pasien di posko kesehatan IHA.

“Hampir semua pasien yang kami anamnesis memiliki permasalahandengan air bersih, air minum dan sanitasi. Penyakit diare yang jelas-jelas berhubungan dengan air minum menududki posisi kedua terbanyak,” tutur dokter lulusan UIN Syarif Hidayatullah ini.

Solusi SODIS

Selasa pagi (24/10), Pradipta Syuarsaf mengambil air botolan dari atap seng toilet umum di kamp pengungsi Blok F, Jamtoli, Ukhiya. Botol air tersebut kemudian dia buka tutupnya. Air itu kemudian mengguyur tenggorokannya dan beberapa tim medis yang ada di situ. Botol air itu kemudian digilir kepada para pengungsi yang mengerubungi.

Air itu adalah air minum yang didapatkan melalui proses SODIS (Solar Water Disinfection). Sehari sebelumnya, air itu didapatkan dari air pompa yang kemudian diletakkan di seng tersebut untuk dipanaskan dengan panas matahari selama 6 jam—di sini bahkan diguyur lebih dari 6 jam.

Teknik SODIS dengan pemanasan matahari oleh Husain, salah satu pengungsi (Foto: Dhihram Tenrisau)

Teknik ini menggantikan solusi akan air bersih yang sulit didapatkan di tempat ini. Teknik tersebut adalah penggunaan sinar matahari untuk memasak air. Di beberapa negara yang terkena masalah sanitasi dan air teknik tersebut digunakan.

Untuk itu tim IHA melakukan beberapa metode untuk mengatasi permasalahan ini. Salah satunya adalah pemurnian air minum melalui SODIS. Hal itu dilakukan sebagai salah satu metode pemecahan masalah krisis air minum di kamp pengungsian ini. SODIS ini turut menjadi salah satu program tim medis dari Indonesia ini.

Rabu pagi (25/10), tim IHA kemudian mengevaluasi bagaimana hasil SODIS tersebut. Nyatanya, tidak ada seorangpun mengalami gangguan pencernaan dan diare. Sejak saat itu, para pengungsi yang mulai menggunakan teknik penyulingan air minum tersebut.

“Sekalipun rasanya tidak seenak air kemasan, setidaknya ini lebih sehat,” tutur Pradipta.

Selanjutnya dokter asal Bekasi tersebut berharap agar teknik tersebut dapat menjadi model partisipatif para pengungsi untuk memperbaiki dirinya sendiri.

“Mau mengharapkan bantuan sampai kapan? Kami cuma berusaha untuk memberikan kesadaran pada mereka,” tutupnya.

Program ini rencananya bakal menjadi program jangka panjang yang akan dilakukan hingga setahun oleh tim medis Dompet Dhuafa dan IHA.

Satu titik terang terhadap permasalahan air. Namun bukan krisis lain para pengungsi Rohingya masih kelam gelap, utamanya soal sanitasi dan air. Ya, mereka masih membutuhkan bantuan dan uluran tangan, untuk kehidupan yang lebih baik.

*Penulis sementara ini bertugas dalam tim Dompet Dhuafa, dan Indonesian Humanitarian Alliance untuk Pengungsi Rohingya, di Cox’s Bazar, Banglades.

Avatar

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Avatar

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.