Locita

Pemuda Kok Ogah Bersumpah Jadi Petani

Presiden Joko Widodo bersama petani (Foto: Merdeka.com)

PRESIDEN Jokowi di tengah pidatonya tiba-tiba melontarkan kritikan pada pemuda. “Siapa yang mau jadi petani kalau alumni kita semuanya menjadi bankir?”

Pernyataan retoris itu dia lemparkan kepada para hadirin yang memenuhi aula di kampus Insititut Pertanian Bogor (IPB). Ruangan hening, tak ada yang menjawab. Mantan Walikota Solo itu tampak geram, ia benar-benar gusar terhadap sektor pertanian yang seolah ditinggalkan pemuda.

Tak dinyana, tiba-tiba dari arah barisan paling belakang, seseorang berteriak menjawab sang presiden, “Pak Presiden, alumni pertanian jadi bankir, karena alumnus kehutanan negeri ini jadi presiden, Pak.”

Seketika para hadirin tampak cemas, khawatir suara orang yang mereka dengar benar sosok yang selama ini gemar berbuat perkara. Mereka memutar pandangan, mencari sosok yang yang dengan berani menjawab pertanyaan presiden tersebut, dan benar kekhawatiran para sivitas alumni IPB. Orang tersebut ialah Mukidi.

***

Secuplik kisah di atas berseliweran di media sosial bulan September lalu. Jawaban Mukidi itu tidak benar terjadi, hanya rekaan untuk menggambarkan kondisi pemuda dan petani kita kini. Nyaris tak pernah terdengar ada pemuda yang mencitakan profesi petani.

Kegusaran presiden beralasan mengingat data pemuda yang hendak menjadi petani memang dari tahun ke tahun semakin sedikit. Menjadi ironi karena kita hidup di negara agraris yang selalu berharap menjadi lumbung pangan dunia pada 2045. Meski untuk mencukupi kebutuhan dalam negerinya juga kepayahan.

Menurut data kementerian pertanian, rata-rata tiap tahun sebanyak 2 persen rumah tangga petani Indonesia yang berpindah profesi. Dan, sekitar 65 persen petani sudah berusia di atas 45 tahun.

Jika ingin mengambil data lebih jauh. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada  2003 rumah tangga yang anggota keluarganya berprofesi sebagai petani mencapai 31 juta. Namun, setelah sepuluh tahun kemudian yakni 2013 berkurang menjadi 26 juta rumah tangga. Berarti setiap 10 tahun, petani Indonesia berkurang sekitar 5 juta rumah tangga yang beralih ke sektor lain.

Ingin rasanya saya membisiki Pak Presiden waktu itu. Faktor tidak adanya pemuda ingin jadi petani karena profesi petani yang memang tidak menarik. Para mahasiswa yang diharapkan menyalurkan ilmunya usai menuntut ilmu di kota besar jarang yang berpikir untuk kembali  membantu para petani di desanya.

Pemuda Enggan Jadi Petani

Saya pernah menanyakan kepada seorang teman alumnus pertanian yang telah bekerja di bank. Apa yang buat dia enggan pulang kampung dan membantu petani di desa kami. Ia menjawab saya lugas, karena bertani tidak akan mengembalikan uang yang dia pakai untuk berkuliah.

Selain itu faktor klasik petani tidak benar-benar selesai seperti ketidak pastian harga jual, serta banyaknya jenis hama baru yang lebih banyak muncul ketimbang masa panen. “Selain itu, tanah di kampung sudah dijual untuk biayai kuliahku,” ketusnya.

Alasan minimnya pemuda yang hendak jadi petani tergambar melalui data yang diolah Merial Institute. Menurut lembaga yang concern pada isu-isu kepemudaan ini, tren pemuda untuk meninggalkan desanya semakin besar lima tahun terakhir.

Pada tahun 2011 persentase pemuda yang tinggal di daerah perkotaan hanya 51,3% lalu meningkat sebesar 2,5% menjadi 53,8% di tahun 2016. Lebih jauh, hasil penelitian ini menyimpulkan, terdapat beberapa faktor yang mendorong lahirnya urbanisasi pemuda ini.

Beberapa di antaranya, kesenjangan pertumbuhan ekonomi antara desa dan kota, perubahan pola minat lapangan kerja dari pertanian ke sektor industri, meningkatnya tekhnologi serta membaiknya infrastruktur transportasi kota yang mengakibatkan pemuda lebih senang di kota.

Satu hal yang patut dicermati tren berkurangnya petani dan urbanisasi para pemuda ke kota. Yakni kontribusi langsung terhadap rasio ketimpangan negara. Pasalnya para pemuda yang meninggalkan pertanian kebanyakan menjadi pengangguran di perkotaan, sementara di desanya lahan pertanian tidak ada yang mengolah.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Saya akan coba menjeaskan mengapa pertanian jadi salah satu sumber ketimpangan ekonomi negara kita.

Pertama, peranan sektor pertanian sejak dahulu sangat penting. Sektor inilah yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Peranan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) kita dari sektor pertanian telah turun dari 14,9 persen pada 2007 menjadi 12,8 persen pada 2016. Penyerapan tenaga kerja sektor pertanian turun drastis hanya 32 persen pada 2016.

Kedua, upah sektor pertanian jauh di bawah sektor lainnya dan tentu tidak menarik bagi pemuda yang sedang mencari kerja. Secara rata-rata, selama periode 2007-2016 upah sektor pertanian hanya separuh rata-rata upah nasional.

Jadi, sangat jelas terlihat ada kesenjangan upah antara pertanian dan non-pertanian. jika Anda jadi pencari kerja masihkah mengutamakan sektor ini?

Bandingkan dengan sektor finansial misalnya. Anda menjadi bankir meski rata-rata penyerapan tenaga kerjanya sangat rendah sekitar 2,2 persen. Namun, upah di sektor ini tiga kali lipat dari upah tenaga kerja di sektor pertanian. Inilah alasan terbesar mengapa alumni pertanian lebih memilih bekerja di bank.

Terakhir, perkembangan harga saham melonjak tajam belakangan ini. Periode 2010-2014, harga saham tumbuh di kisaran 2 digit.

Beberapa bulan terakhir indeks IHSG Indonesia bahkan beberapa kali menyentuh level tertinggi sepanjang negara ini berdiri. Secara rata-rata harga saham naik sekitar 13 persen sepanjang 2010-2016. Hal yang patut disyukuri, tapi tidak bagi pemuda.

Tentunya, yang menikmati keuntungan ini adalah yang bermodal besar, sehingga yang kaya makin kaya, berbeda dengan si miskin yang kenaikan pendapatannya sangat lambat.

Ekonom Perancis, Thomas  dalam bukunya Capital in the Twenty-First Century mengakui di dunia ini ada sekelompok kecil orang yang terus kaya tanpa mengeluarkan keringat.

Selain itu ia menyebutkan ada kelompok yang tidak akan bisa menembus kelompok ini. Sebagian besar khalayak hanya bisa berperan sebagai buruh, dan karyawan, kecuali satu, mereka berhasil menikahi anak dari keluarga kaum kaya ini. Hmm, patut dipertimbangkan tentunya.

Pemuda lah yang akan paling merasakan menjadi masyarakat terpinggirkan ini, mengingat prosentase pemuda terhadap populasi dunia seperti halnya Indonesia sangat besar. Tahun ini prosentase kita sebagai pemuda terhadap populasi Indonesia mencapai 24 persen atau sebanyak 62 juta jiwa.

Faktor buruk dari ketimpangan ekonomi di atas tentu dapat dihindari jika para pemuda menemukan penghidupan yang baik di desanya.

Misal, sektor pertanian yang semakin cerah atau pembangungan infrastruktur desa yang memadai seperti janji Jokowi-JK dalam Nawacita-nya. Membangun Indonesia dari pinggir yang masih harus ditunggu capaiannya.

Jadi, adakah di antara kita yang berhak meminta  pemuda bersumpah menjadi petani?

Avatar

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Tentang Penulis

Avatar

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.