Locita

Makan Tak Makan Asal Nyirih Catatan dari Pengungsi Rohingya

Zubair dan paan miliknya (Foto: Dhihram Tenrisau)

KALAU mampir ke lokasi pengungsi, akan mudah kita dapatkan baik anak maupun dewasa dengan bibir yang merah. Mereka tidak malu tersenyum sembari memperlihatkan gusi mereka itu.

Merah itu bukanlah karena darah, namun karena mengunyah sirih. Di sini sirih dalam bahasa Bengali disebut paan. Pada dasarnya, sirih ataupun paan memang menjadi konsumsi penting bagi hampir sebagian besar penduduk Asia Selatan dan Tenggara.

Tak luput juga, paan menjadi perihal penting bagi para pengungsi Rohingya ini. Seperti halnya kretek, mengunyah paan memang sifatnya suplemen, namun di satu sisi ini dapat membuat ketagihan. Hal itu diakui oleh interpreter tim medis Indonesian Humanitarian Alliance, Zubair (25) di kamp pengungsi Blok G, Jamtoli, Ukhiya, Cox’s Bazar.

Paan ini adalah daun sirih yang dicampurkan beberapa bahan tambahan. Daun hitam, merica, tembakau, garam, kapur, dan bahan-bahan lainnya. Hampir persis yang didapatkan di Indonesia. Sang paan-ers dapat memilih campurannya di kedai-kedai yang menjual daun sirih ini.

“Setiap sudut jalan di daerah Maungdaw (daerah asalnya di Myanmar) pasti memiliki toko paan,” tuturnya kepada saya. Paan ini dikonsumsi sembari nongkrong dan ditemani secangkir kopi. Mendengar itu saya langsung membayangkan keberadaan warung-warung kopi di Indonesia yang bertabur di tiap persimpangan, tikungan, hingga emperan. Ya, keberadaan toko paan itu juga merebak di kawasan-kawasan pengungsi.

Saat itu Zubair memperlihatkan bibir dan sela giginya yang memerah. Dia mengakui bahwa hidupnya susah lepas dari paan ini. Sehari dia dapat mengunyah 10-12 paan. Dia bahkan tidak melupakan itu saat salah satu fase terkritis dalam hidupnya: saat dikejar militer bersenjata Myanmar. Saat pelariannya, paan ini kerap dia cari atau minta dari sesama pengungsi.

Sirih di salah satu warung di kamp pengungsi (Foto: Dhihram Tenrisau)

“Sakit kepala ni, kalau sehari tak makan Paan,” lanjut lelaki yang pernah bekerja di perusahaan kelapa sawit di Malaysia ini. Saya langsung teringat beberapa rekanan yang merasakan hal yang sama ketika tidak mengisap rokok barang sehari.

Paan ini nyatanya lebih berarti dari kebutuhan air bersih baginya. Tiap hari dia bersama istri dan anaknya hanya dapat mengkonsumsi air pompa mentah. Dia lebih memilih nyirih dibandingkan menyisihkan uang untuk membeli air minum. Bahkan, saya iseng-iseng menanyakan pilihannya antara makanan dan paan.

“Saya lebih pilih tak makan,” ujarnya dalam bahasa melayu sembari tertawa.

Biasanya di kampungnya dia membeli sebungkus paan yang dapat dikonsumsinya hingga seminggu. Sayangnya, harga paan di kamp pengungsi ini hampir meroket dua kali lipat. Dulu di kampungnya, dengan 5 taka (satu taka sebesar 165 rupiah), dia dapat mendapatkan selembar sirih. Di daerah pengungsi ini, satu paan dapat diperoleh dengan merogoh kocek sebesar 15 taka.

Itupun dia kadang harus sembunyi-sembunyi untuk menghindar damprat dari istrinya. Bayangkan ketika sejumlah 10 paan yang dikonsumsinya dalam sehari dikonversikan ke dalam rupiah. Dia akan seharga beberapa brand rokok.

Mengunyah paan bagi warga Rohingya dipercaya dapat menguatkan gigi. Bahkan paan ini dikonsumsi saat gigi anak atau seorang dewasa sakit atau goyang. Daun ini menjadi satu-satunya obat akan segala penyakit gigi dan mulut, di samping kayu miswak yang dipakai para tetua sebagai pengganti sakit gigi.

Kiranya memang benar, bahwa daun sirih dapat menguatkan gigi dan mulut. Beberapa penelitian memang kerap membandingkan bagaimana bahan ini dapat mengganti keberadaan pasta gigi—diantaranya adalah penelitian rekanan saya.

Daun itu memiliki kandungan kalsium hidroksida yang juga terkandung dalam pasta gigi, juga beberapa kandungan antioksidan dan antimikroba yang dapat mengatasi infeksi dari bakteri. Hal itu diaminkan juga oleh drg. Erni Marlina Sp. PM, seorang ahli penyakit mulut.

“Sirih memiliki kandungan phenol betel. Kandungan itu merupakan komponen antibiotik yang berguna terhadap bakteri yang berlebih dalam tubuh,” tutur dosen yang kini mengambil doktor di University College London ini.

Beberapa penelitian juga menunjukkan efek buruknya dari sirih. Sirih ini dapat meningkatkan risiko kerusakan jaringan gusi. Bahkan, beberapa temuan juga menemukan bahwa nyirih dapat meningkatkan risiko terpapar kanker. Namun hal itu dibantah oleh Erni (sapaan drg. Erni Marlina).

“Hubungan kanker dan mengunyah sirih masih belum dibuktikan secara molekuler. Sekalipun penderita kanker tinggi pada pemakai sirih,” lanjutnya.

Ya, kaitannya dengan medis, paan ini masih dapat diperdebatkan. Terlepas dari itu, yang pastinya, untuk orang-orang Rohingya ini, kegiatan nyirih ini dapat mengakibatkan penyakit kantong kering.

Dan di hadapan saya, Zubair sedang mengambil sirihnya yang terbungkus dalam plastik hampir. Dia hampir memasukkan paan itu ke mulutnya sembari melihat saya.

Dibukanya lembaran daun itu, dia menjelaskan bahwa dia sangat menyukai paan yang di dalamnya ada kapur dan daun hitam. Setelah itu dia menyodorkan paan itu kepada saya, seakan menggoda untuk mencicipi. Sayang, liurku enggan terbit.

“Mau coba? ” tanyanya sembari memperlihatkan gusinya yang merah gelap.

Saya hanya tersenyum tipis.

*Penulis sementara ini bertugas dalam tim Dompet Dhuafa, dan Indonesian Humanitarian Alliance untuk Pengungsi Rohingya, di Cox’s Bazar, Bangladesh.

Avatar

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Avatar

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.