Locita

Salat Jumat dilarang?

Sampara tersenyum girang. Hari ini, Kyai Saleh akan kembali ke Kampung Kalimana setelah tiga bulan lamanya. Untuk urusan keluarga, Kyai Saleh harus ke pulau Jawa.

Puterinya yang sudah lama menetap di Jawa sedang ada hajatan. Semula, Sampara menduga Kyai Saleh hanya pergi paling lama dua minggu, ternyata hingga tiga bulan lamanya baru kembali. Kyai Saleh sudah memberi tahu alasannya melalui telepon dua bulan yang lalu.

Sampara segera menyambut lelaki tua yang terlihat kelelahan itu.

“Janganmi dulu salaman Sampara. Lagi corona. Saya baru dari bandara ini.” Kata Kyai Saleh ketika melihat Sampara hendak menyalaminya seperti biasa.

Sampara tersenyum kecut. Dia buru-buru masuk mengambil tas Kyai Saleh dan masuk ke dalam. Sang Kyai duduk di teras rumah sembari menikmati udara sore Kampung Kalimana. Sampara kemudian kembali beberapa saat kemudian dengan membawa secangkir kopi dan pisang goreng kesukaan Kyai Saleh.

Kyai Saleh tersenyum, “Wah, sudah lama saya tidak makan pisang goreng buatanmu Sampara.”

Sampara tersenyum kecil.

Tak lama berselang, Ale dan Tesa pun datang. Mereka sangat antusias mendengar kedatangan Kyai Saleh. Seperti halnya Sampara, Kyai Saleh juga melarang kedua santrinya itu salaman. Kyai Saleh bahkan meminta keduanya untuk mengatur jarak duduk.

“Kyai. Hampir berkelahi orang minggu lalu.” Ucap Sampara.

Kyai Saleh mengernyitkan dahi, “Ada apa?”

“Gara-gara, ada yang mau salat Jumat. Sebagian warga mau tetap ada salat Jumat. Sedangkan saya, Ale dan beberapa orang tidak hadir. Dia datang cari saya. Kenapa tidak ada khatib dan muadzzin?” Sampara membuka pembicaraan.

“Trus?”

“Berdebat Kyai. Saya dan beberapa warga adu mulut.” Kata Ale.

“Sebenarnya bagaimanakah memang itu, Kyai?” tanya Tesa.

Kyai Saleh tidak segera menjawab. Dia menyeruput kopi buatan Sampara itu.

“Saya kira fatwa ulama sudah benar. Salat jumat itu beda dengan salat-salat lain. Biasanya, warga yang tidak pernah salat jamaah salat fardhu datang berjamaah saat salat Jumat. Orang-orang lewat pun biasanya singgah salat Jumat. Waktu penumpukan orang bisa berlangsung sampai satu jam. Itu bisa mempercepat penyebaran virus Corona.”

“Memang sudah pasti ada corona di masjid?”

“Mencegah. Karena kita tidak punya alat memastikan, upaya yang dapat kita lakukan adalah mencegahnya dengan cara tidak salat Jumat.”

“Tapi kan Salat Jumat wajib!”

“Iya. Wajib! Menjaga keselamatan juga wajib hukumnya. Jadi ini meninggalkan sunnah Nabi untuk mengikuti Sunnah Nabi yang lainnya.”

“Kesannya, masjid jadi tempat penyebaran virus Kyai?” Tanya Tesa lebih jauh.

“Perlu diluruskan. Masjid ini tempat pertemuan orang dalam skala besar, khususnya Salat Jumat. Kalau tidak ada tindakan seperti ini. Pencegahan tidak bisa kita lakukan. Saya pernah kasih kaidah ushul fiqhi kan? Dar elmafasid muqaddamun ala jalbil masalih.”

Para santri mengangguk-angguk.

“Tapi kalau salat lain bagaimana Kyai?”

“Lihat budayanya?”

“Maksudnya, Kyai?”

“Di kampung kita, kalau dhuhur, asar, magrib, dan isya tidak lebih dari 20 orang. Kalau tidak ada pengajian biasanya di bawah 20 orang. Yang salat biasanya orang-orang kampung disini saja. Sepanjang tidak ada positif disini, saya kira tidak apa-apa. Tetapi untuk pengajian, saya tiadakan dulu. Selain saya masih capek. Kita harus ikuti aturan pemerintah.”

“Tidak terkesan kita membenci masjid Kyai?”

“Begini. Salah satu hadis Nabi menyebutkan bahwa semua tempat di muka bumi adalah tempat bersujud. Artinya dimana saja di seluruh tempat di muka bumi ini, asalkan suci adalah tempat beribadah. Jangan sampai muncul di kepala kalian semua bahwa Tuhan hanya ada di masjid.”

“Tetapi kesan itu ada yang muncul dalam masyarakat. Saya juga pernah lihat ada perdebatan di masjid besar kota. Tetap ada yang memaksa untuk salat Jumat.”

“Sebenarnya yang perlu disepakati disitu. Bukan salat Jumatnya yang dilarang, tetapi salat Jumat ini beda dengan salat lain. Salat Jumat ini panjang waktunya dan orang berkumpul dalam keadaaan berdesak-desakan. Potensi penyebaran virus sangat besar. Tetapi kalau yang salat Jumat hanya sepuluh atau dua puluh orang. Saya kira tidak apa-apa, asalkan diatur jaraknya. Tindakan para ulama memfatwakan larang salat Jumat adalah mencegah secara umum. Tetapi, jika ada sekelompok warga yang memiliki cara untuk menghindari mudharat itu dengan tetap menjalankan ibadah Jumat, ya tidak apa-apa. Tetapi untuk kota besar, itu agak sulit. Untuk di pedesaan atau tempat yang lalu lintas orang tidak terlalu banyak, ya itu masih dibolehkan.”

Para santri terdiam. Kyai Saleh kembali menyeruput kopi. Sampara ke dapur dan kembali membawa gelas kopi untuk Ale dan Tesa.

“Pintar mentong, Sampara!” puji Ale. Sampara hanya tersenyum kecil.

“Begini, anak-anakku semua. Situasi kita ini sebenarnya sedang perang.”

“Perang apa, Kyai?”

“Perang melawan virus Sampara!” Tesa yang menjawab dengan nada agak meninggi. Sampara bersungut. Kyai Saleh tersenyum. Sudah lama dia tidak menyaksikan pola para santrinya yang senang saling mengerjai.

“Ya, benar. Kita sedang perang melawan musuh yang tidak terlihat. Jadi kewaspadaan harus lebih ditingkatkan. Karena ini jauh lebih sulit. Kita tidak tahu dia ada atau tidak. Tetapi kita tahu wataknya. Dia menyebar melalui kontak antar manusia. Nah, karena sudah mengetahui wataknya, strateginya harus benar. Meniadakan salat Jumat salah satu strategi, itu sah! Kita sedang menghindari takdir Tuhan menuju takdir Tuhan lainnya. Jadi, kalau ada orang yang tetap memaksakan diri beribadah kepada Tuhan dengan jamaah yang besar, itu berarti dia kalah strategi. Mungkin niatnya benar, bahwa dengan berdoa kepada Tuhan di masjid, Tuhan akan menyingkirkan virus. Sayangnya, cara kerja takdir Tuhan tidak selalu begitu. Mungkin iya, tetapi Tuhan selalu meminta upaya kita yang terbaik.”

Kyai Saleh kembali menyeruput kopi. Para santri pun demikian.

“Kalian ingat kisah kelahiran Nabi Isa?”

Para santri tidak menjawab. Kyai Saleh melanjutkan, “ketika Siti Maryam dalam keadaan hamil besar, Tuhan memerintahkan Maryam untuk menggerakkan tangannya dan memukul-mukul pohon sehingga buah di pohon itu pun berguguran.

Apa susahnya bagi Tuhan untuk langsung menjatuhkan buah pohon itu?

Tetapi Tuhan ingin kita terlibat dalam proses. Memukul batang pohon adalah cara manusia. Melalui cara itulah, Tuhan memenuhi kebutuhan siti Maryam yang sedang hamil tua.”

“Apa kaitannya dengan virus corona, Kyai?” Sampara masih saja bertanya.

“Virus ini harus kita lawan dengan cara manusia. Segala upaya terbaik yang kita bisa wajib kita lakukan. Saya haqqul yakin Tuhan akan membantu dengan cara-Nya.”

“Amiinn!”

“Sudah dulu… Saya mau istrahat. Kalian tidak boleh datang kecuali dua minggu kemudian. Saya mau karantina diri selama dua minggu.”

Ale dan Tesa mempercepat minum kopi. Keduanya lalu pamit pulang.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.