Locita

Kuliah Online: Siapa yang Lebih Diuntungkan; Dosen atau Mahasiswa?

Ilustrasi (Foto: Grid.id)

Saya sedang menatap laptop ketika keponakan saya datang. Dia yang juga seorang mahasiswa yang kini sedang harus mengikuti perkuliahan online. Dia mengeluh. Tugasnya banyak. Kuliah online harus pakai data. Sambil mengeluhkan semua itu, dia mendekati saya yang sedang serius menatap layar. Karena penasaran, dia akhirnya bertanya juga.

“Apa kita bikin itu?” (Apa yang sedang anda lakukan?)

“Materi dan soal untuk mahasiswa.” Jawab saya.

Mendapati jawaban saya begitu, dia memperhatikan saya menandai dengan detil sebuah buku bacaan wajib. Saya melakukan tangkapan layar untuk dipindahkan menjadi bahan materi dan tugas. Melihat saya dengan mudah membuat bahan materi dan soal dengan mudah, lantas dia berkomentar,

“Dehhh enak sekali jadi dosen. Cuma dikasi begitu.” (Wah enak sekali ya jadi dosen hanya bikin begitu saja).

Saya tentu merasa tersinggung dong. Yang terlihat barangkali memang sekadar menyalin materi. Tetapi tentu memilih dan memilah materi tidak seenak mencopot sana sini. Pilihan materi terutama jika tidak ada bahan bacaan wajib harus disesuaikan dengan level kemampuan mahasiswa, konten, dan hal-hal teknis lainnya.

Dalam menyusun soal, bahasa petunjuk dan bentuk-bentuk pertanyaan harus diperhatikan dari validitas, realibilitas, dan praktisnya. Hanya untuk membuat soal pun saya harus mengambil mata kuliah khusus di Amerika Serikat agar saya tidak ngasal membuat penilaian (assessment).

Ketika yang lihat dosen atau guru hanya memberi tugas, tentu yang dilihat hanya saat memberikan tugas. Proses di belakangnya itu dilihat seolah beban itu hanya berpindah ke mahasiswa. Maka tentu saya menjadi sensitif (sensi) ketika tiba-tiba disebut membuat soal itu gampang dan ternyata cuma seperti itu.

Perkuliahan secara online gampang-gampang susah, terutama sekali kegiatan pembelajaran ini sangat tergantung dengan internet. Dan internet belum menjadi kebutuhan seperti halnya di negara-negara Barat yang sudah tersedia di hampir setiap rumah. Dosen dan mahasiswa sama-sama menghadapi kendala ini. Untung baik jika ada subsidi dari kampus. Hanya saja masalahnya tidak selalu seperti itu.

Jika mahasiswa mengeluhkan kuota dan harus mengeluarkan uang untuk membeli data, hal yang sama juga terjadi pada dosen. Jika dosen dan mahasiswa melakukan perkuliahan daring dengan sistem video conference atau video secara live dan dalam satu jam diperlukan 1GB paling tidak, dosen dan mahasiswa sama-sama menghabiskan sebanyak itu. Jika mahasiswa mengeluhkan ada banyak mata kuliah, dosen pun mengajar sekian mata kuliah.

Untuk sama-sama mengurangi beban kuota, saya berusaha untuk tidak menggunakan web conferencing untuk perkuliahan. Perkuliahan model ini memang sangat menyedot kuota. Lagipula, perkuliahan online tidak harus diartikan dengan harus live video di waktu bersamaan.

Sebagai gantinya, saya membuatkan materi lewat video, biasanya dengan screen record pada Microsoft Power Point. Tentu pengambilan dengan cara ini tidak selalu lancar. Sebab kadang ada bagian yang salah dan harus diubah sehingga harus diulang. Dalam kelas online tentu materi harus dipersiapkan sebaik-baiknya.

Proses upload ke video ke YouTube juga bisa memakan kuota banyak dan mengambil waktu lama, terutama jika kecepatan internetnya lambat. Saya, misalnya, pernah meng-upload dua video dan menghabiskan setidaknya 4 jam untuk meng-upload keduanya. Internet leletnya (lambat loading) bukan main. Saya yang biasanya cuma jadwal mengajarnya dalam proses tatap muka hanya 1 atau 1,5 jam harus menghabiskan waktu selama itu untuk mengupload materi.

Tantangan ini belum lagi jika tidak semua satu aplikasi bisa mengakomodir semua kelas. Seorang dosen bisa menggunakan dua tiga atau empat aplikasi yang dianggap pada kelas-kelas yang berbeda. Ya salah satu sebabnya karena setiap aplikasi ada kelebihan dan kekurangannya.

Hal lain adalah, dosen mengambil alih sebagian tugas ketua kelas saat kuliah online. Biasanya absensi disediakan ketua tingkat, dosen hanya perlu menyebut dan mencentang. Di kelas online dosen harus mencatat dan mendata sendiri. Untuk memudahkan, biasannya saya menggunakan Google Form atau dengan menjadi tugas sebagai bentuk absensi yang ditandai dengan ‘submission’ tugas di aplikasi. Cara ini biasanya dilakukan untuk memastikan mahasiswa benar-benar mempelajari materinya. Lah saat kuliah offline saja ada saja yang tidak mendapatkan apa-apa karena tidak memperhatikan apalagi kalau kuliah online.

Kuliah online memang berat karena butuh kesadaran. Di negara-negara dengan sistem pendidikan yang baik dan integrasi teknologi yang sama baiknya, pembelajaran berbasis online bisa sama efektifnya dengan kuliah offline. Salah satunya caranya dengan lebih memberikan referensi dan tugas. Lagipula kalau tidak mau kerja tugas ya ngapain juga jadi mahasiswa.

Selain tentu dosen harus memberikan tugas yang terukur, yang bisa di kerjakan sesuai dengan jumlah SKSnya. Sebab, harus diakui memang ada juga dosen, yang seenak perut hanya memberikan tugas bahkan merangkap pertemuan.

Sudah seharusnya situasi corona ini menjadi tantangan untuk baik bagi dosen dan mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas. Kendala-kendalanya dicarikan solusinya. Bukan hanya mengeluh melulu.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.