Locita

Jakarta, Corona, dan Kegalauan Anak Rantau

Ilustrasi (Foto: Kronologi.id)

Menjadi anak rantau, tentu sebuah cita-cita bagi sebagian orang terutama kalangan anak muda. Apalagi bisa merantau ke DKI. Jakarta, Ibu Kota Negara yang dicintai melebihi cintanya kepada pacar. Dengan segala gemerlapnya, perputaran ekonominya, Jakarta selalu menjadi sihir tersendiri. Hampir semua orang yang ada di daerah ingin menginjakan kakinya dan tinggal di dalamnya, meskipun sudah ada pepatah bahwa Ibu Kota lebih kejam dari pada Ibu Tiri.

Apa lacur, gue yang lahir di ujung timur Pulau Madura, mendapat kesempatan menjadi bagian dari orang ‘beruntung’ itu, karena bisa menginjakan kaki disitu. Yah, anggapan beruntung berlaku bagi yang tidak tahu kerasnya hidup di Jakarta. Betapa tidak, gue baru tiga bulan sudah merasakan pahitnya Jakarta dua kali. Pertama, banjir besar beberapa waktu yang lalu, dan Kedua, Virus Corona yang melanda dunia hari ini.

Dua kejadian ini cukup membuat roda kehidupan di Jakarta sedikit lumpuh, memang yang namanya jalanan tidak ada yang namanya macet, tapi perekonomian, dan aktivitas lainnya yang macet.! Banjir kemarin mungkin hanya sebagian daerah yang macet aktivitasnya, karena masih ada sebagian lainnya normal-normal saja. Tapi, wabah Covid-19 atau corona ini, semua daerah di Jakarta, semua elemen masyarakat merasakan dampaknya.

Gue sih masih beraktivitas seperti biasanya, masih nongkrong-nongkrong, ngurusin pekerjaan, bahkan masih nonton film di Bioskop. Bukan mau menolak himbauan pemerintah ya, tapi kan Covid-19 katanya bisa dilawan dengan pola hidup sehat. Tapi karena memang ada keharusan agar tetap beraktivitas. Tapi tulisan ini bukan sebuah ajakan untuk ikut-ikutan berkeliaran, tetap saja kalau gak penting-penting amet mending tetap safety, deh.

Hidup di Jakarta di tengah merebaknya wabah corona, semua menjadi aneh. Mulai dari tempat belanja macam al**mart biasanya rame jadi sepi, jalanan biasanya macet dimana-mana jadi lenggang, hingga beberapa schedule pertemuan dengan orang-orang di-cancel begitu saja. Bahkan di bioskop nih, penontonnya bisa dihitung jari. Keanehan berlanjut, banyak orang menggunakan masker, dan setiap bertemu rekan salaman pakai siku atau kayak orang bukan muhrim.

Itu semua karena virus corona, bukan karena banjir apalagi kamu. Yah… Begitulah hidup di Jakarta selama tiga bulan ini, habis Banjir terbitlah Corona. Gue yang awalnya mau beraktivitas seperti biasa kalah dengan keadaan. Keadaan yang sebagian orang cancel pertemuan, dengan sendirinya keadaan itu mengkarantina gue juga. Tapi gue gak boleh protes, semua demi kebaikan bersama.

Bukan berarti gak ada hikmah dibalik itu semua. Benar bahwa setiap kejadian pasti ada hikmah dibaliknya. Ada banyak hal yang jarang atau gak begitu intens, sekarang malah jadi semacam rutinitas gitu. Misal nih, sebagai anak rantau, gue semakin diperhatikan pasangan gue yang lagi LDR-an.

Pasangan gue menjadi lebih care soal makanan, hingga kebersihan. Sebelumnya sih, doi sudah cerewet soal itu, tapi semenjak wabah virus corona ini merajalela, dia tambah perhatian. Dulunya gue sok sibuk buat balesin chat-nya, sekarang intesitasnya makin sering chattingan, bahkan kadang teleponan juga sih.

Pasangan LDR-kan biasanya bermasalah soal pola komunikasi, tapi dengan adanya corona, ya setidaknya kita bisa memperbaiki masalah itu. Mungkin orang yang hidup di Jakarta hari ini lebih dekat dengan kematian kali ya, makanya dia perhatiannya bertambah. Atau karena gak ada kerjaan sehingga ada banyak waktu untuk berkomunikasi.

Emmm, bukan cuma dia aja si, ortu juga sekarang tambah sering nelponin gue. Kalau mau diladeni mah, ortu sehari bisa tiap jam nelpon tanya kabar ini dan itu. Secara media TV, Radio, Koran, Berita Online semuanya bahas soal corona, corona, dan corona. Bahkan Pak Anies, Gubernur DKI Jakarta sama pak Presiden Jokowi tiap hari konferensi pers soal penanganan corona.

Hikmah selain itu, gue bisa lebih perhatian sama tubuh dan juga orang-orang di sekitar. Dulunya, boro-boro gaya hidup sehat, lah wong hampir tiap hari makan mie instan atau makanan gak jelas. Kalau sekarang, paling enggak gue dan temen-temen udah mulai mikir makan sayur, buah-buahan, minum air sesuai kebutuhan, hingga minuman herbal tradisional. Pokoknya, jadi care gitu sama kesehatan. Bahkan yang biasanya jorok, eh sekarang semuanya dibikin kinclong.

Kepada orang-orang sekitar, perhatian kita juga semakin tumbuh. Prinsip individualistik yang terkenal di Jakarta, karena virus ini kayaknya mulai luntur, deh. Buktinya, temen-temen gue kalau ada yang sakit perhatian gitu. Mulai ngingetin chek up hingga ngingetin soal makan. Entahlah, semoga aja bukan hanya karena takut tertular corona aja, nanti setelah wabah ini teratasi, kembali lagi ke sifat individualis. Virus ini menyadarkan pentingnya gotong-royong gitu.

Jadi tetap safety, dan jangan lupa untuk mengabaikan sesuatu yang tidak membahagiakan. Gue ngasi saran ke pembaca yang budiman, mending lakukan yang bisa kita lakukan, sharing semua informasi yang kita dapat lalu manage dengan baik. Jangan sampai menjadi pikiran yang berlebihan, karena takutnya kita sudah negatif corona malah positif stress nasional.

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Tentang Penulis

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.