Locita

Quick Count

Sumber Gambar. (Ilustrasi. Okezone News)

“Yes, menangki Jokowi!!” teriak Tesa ketika melihat daftar chart di layar teve yang berisi informasi quick count atau hitung cepat dari beberapa lembaga survey memenangkan pasangan Jokowi- Ma’ruf. Sebagai pendukung 01, Tesa patut berbahagia karena hitung cepat memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi.

Di sisi lain, Sampara merasa geram melihat hasil QC itu. “Aii…balle-balle ji ini. Masa 2000 Tps bisa mewakili 800 ribu lebih TPS. Pasti ini sekongkolki untuk memenangkan pasangan 01. Dasar curang!” Sampara menyeringai. Wajahnya merah padam. Dia benar-benar tidak terima pasangan 02 kalah. Dia sangat yakin menang.

Kyai Saleh hanya tersenyum melihat dua orang santrinya dengan pilihan yang berbeda merespon informasi dari televisi.

“Bagaimana menurut kita, Kyai?”

“Saya tidak ahli statistik dan penelitian. Saya hanya percaya, yang menang sudah ditakdirkan oleh Allah untuk bangsa kita.

Siapapun yang menang itulah pilihan bangsa Indonesia. Saya hanya berpesan, jangan sampai kalian berkelahi dan berdebat untuk sesuatu yang kalian jauh dari mengetahui hal tersebut.”

“Tapi, siapakah memang kemarin kita pilih?”

Ada tong. Demi kemaslahatan dan kebaikan bersama, kalian tidak perlu tahu pilihan saya kemarin. Intinya saya ikut memilih, tidak golput.”

Tesa dan Sampara masih terus menatap televisi dengan raut wajah yang berbeda. Sampara bersorak ketika Prabowo muncul dan berpidato mendeklarasikan diri sebagai pemenang pemilu.

“Terjadi lagi tahun 2014. Sujud syukur duluan.” Kata Tesa.

“Kali ini tidak… saya yakin menang. Ini lembaga survey pasti dibayarji na begini.” Kata Sampara.

******
“Assalamu alaikum!!” dari arah pintu terdengar suara diiringi dengan ketukan pintu.

“Waalaikum salam.”

Sampara segera beranjak dan membuka pintu.

“Ada Kyai Saleh?” tanya sang tamu ketika melihat wajah Sampara muncul dari balik pintu.

“Adaji Pak. Masuk maki.” Sampara segera mengajak sang tamu ke ruang tamu. Lalu kembali ke ruang tengah. Tak lama berselang, Kyai Saleh muncul.

“Eh, nak Syarif. Wah lama juga tidak muncul. Apa kabar?”

“Baik, Kyai!” Sang tamu yang bernama Syarif itu beranjak menyambut Kyai Saleh dan segera menciumi tangannya.

“Wah kebetulan. Nak Syarif ini kan kerja di lembaga penelitian. Nah, bisa jelaskan ini persoalan yang terjadi sekarang.” Usai mengucapkan kalimat ini, Kyai Saleh memanggil Tesa dan Sampara untuk bergabung.

“Sampara, Tesa. Ini Syarif . Dia bekerja di lembaga penelitian. Kalian tanyalah tentang Quick Count itu.”

“Begini Pak Syarif. Saya tidak percaya itu Quick Count! Masa kalah Prabowo. Pasti mereka main-mainkan data.” Kata Sampara.

“Apa alasanmu, Sampara!”

“Itu Prabowo bilang menang 62%. Saya percaya Prabowo lah.”

“Iyo… karena kau pendukung Prabowo!” Tesa menyela.

“Samaji kau juga percaya Quick Count karena Jokowi menang. Coba kalah, pasti kau cari alasan.”
Syarif dan Kyai Saleh tertawa.

“Begini dek. Susah memang percaya hasil riset apabila motifnya politik. Seperti kata-kata Sampara tadi. Yang bereaksi terhadap lembaga survey adalah orang yang dirugikan. Sedangkan yang diuntungkan pasti membela.” Kata Syarif.

“Kenapa bisa begitu, nak Syarif?” Kyai Saleh ikut bertanya.

“Ini mi dibilang anti-intelektualisme. Seseorang percaya atau tidak percaya hasil pengetahuan bukan dengan menggunakan standar pengetahuan tetapi politik, kepentingan.

Jadi bukan hanya yang tidak setuju bisa dikategori anti-intelektualisme, yang setuju pun bisa dianggap anti intelektualisme. Ditambah lagi sikap lembaga pengetahuan yang bertindak sebagai konsultan politik. Jadi, pengetahuan yang seharusnya bekerja netral akhirnya terjebak dalam jejaring politik.”

“Maksudnya?”

“Begini. Siapa diantara kalian yang pro 02?”

“Saya.” Sampara angkat tangan.

“Apa kamu percaya hasil QC yang menyebut 02 menang di Sulsel dengan 60%.”

“Percaya dong!”

“Apa kamu percaya hasil QC nasional yang memenangkan 01.”

Sampara sejenak terdiam. Lalu berujar cepat, “tidak!”

“Kenapa?”

“Karena menurut data BPN, Prabowo menang 60%”

“Nah, ini contoh anti-intelektualisme. Dia memilah-milah hasil kebenaran ilmu pengetahuan dengan menggunakan standar di luar prosedur ilmu itu sendiri.

Dia mengukur kebenaran atau kesalahan lembaga survey dari perasaan, keyakinan, dan preferensi politiknya. Padahal hasil QC di Sulsel dan hasil QC nasional berasal dari lembaga yang sama dan metode yang sama pula.”

“Siapa pendukung 01?”

Tesa unjuk tangan.

“Kamu percaya hasil QC Sul-Sel?”

“Percaya.”

“Kamu juga percaya hasil QC nasional?”

“Percaya.”

“Pendukung 01 ini secara sepintas rasional. Menerima dua sisi yang berbeda. Padahal sikap tenang ini muncul karena hitungan secara nasional sudah menang 01. Ibarat kata, tidak perlu lagi mendebat yang di Sulsel. Tokh, secara nasional menang. Inipun bisa jadi contoh anti-intelektualisme.”

“Seharusnya?”

“Ini kerja ilmu pengetahuan. Punya standar kerja yang ketat. Saya percaya lembaga survey ini bekerja sesuai standar ilmiah yang mereka pelajari. Jika kita ingin mengkritik atau melawan mereka, maka yang kita butuhkan adalah transparansi data dan metode riset.

Jika metode mereke benar, sistem acaknya benar, spotcheck-nya benar, coaching surveyor benar, dan input datanya benar, maka bisa saya pastikan benar hasilnya. Jika sistem acaknya keliru, atau spotchecker-nya tidak berjalan, maka hasilnya layak untuk diragukan.”

“Itu terlalu rumit bagi warga, nak Syarif. Ada cara lebih mudah!”

Track record. Saya kira ini bukan QC yang pertama. Sejak 2004, sudah ada 1500 peristiwa politik yang melibat QC. Tahun lalu, gubernur Sulsel sudah kita ketahui melalui QC. Hasilnya sama dengan hitungan KPU.

Tahun 2017 Anis-Sandi sudah diproklamirkan menang, setelah hasil QC di televisi menunjukkan mereka menang. Jika sekarang berubah sikap, maka itu berarti ada upaya sistematis untuk tidak mempercayai ilmu pengetahuan.”

“Saya dengar ada yang salah hitung waktu pilkada DKI?” Tesa ikut nimbrung bertanya.

“Ya. Ada satu lembaga yang salah. Tetapi kesalahan ini ditutupi oleh lembaga lainnya. Nah, ini juga yang saya mau katakan. Jika 1 dari 10 lembaga survey berbeda pendapat, maka pilih yang 9. Jika seluruhnya sama hasilnya, maka percayalah… sudah memang seperti itu.”

“Aiii… jangan-jangan kita ini pendukung 01.” Sampara angkat suara. Syarif hanya tersenyum.

“Saya menjelaskan ini berdasarkan ilmu yang saya tahu. Saya percaya karena saya bekerja sebagai peneliti. Saya sudah mendengar metode-nya. Saya yakin mereka benar. Bukan soal hasilnya memenangkan siapa?”

“Bagaimana jika salah?”

“Ini bisa jadi anomali terbesar sepanjang sejarah pengetahuan. Kita bisa investigasi penyebabnya. Persoalan terbesar sekarang adalah banyak sekali orang yang tanpa pengetahuan berani menyalahkan, bahkan merasa paling benar.

Gejala anti-intelektualisme ini bisa berujung pada penyakit delusi. Dan kalau itu diidap oleh banyak orang, akan berbahaya untuk bangsa ini.”

“Saya setuju dengan nak Syarif. “ Kata Kyai Saleh. “Bijak sekali kalau kita yang tidak tahu apa-apa jangan ikut bikin gaduh. Hasil QC itu kan tidak resmi.

Tidak bisa menjadi landasan untuk memenangkan seseorang. Ini hanya alat hitung saja. Ada baiknya kita bersabar diri hingga KPU mengumumkan. Bagi yang ingin dan punya kemampuan, silahkan kawal itu C1 hingga KPU atau siapapun tidak mungkin berbuat curang!”

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

17 comments

  • I really like your blog.. very nice colors & theme. Did you make this website yourself or did you hire someone to do it for you? Plz respond as I’m looking to construct my own blog and would like to find out where u got this from. kudos

  • I’m truly enjoying the design and layout of your site. It’s a very easy on the eyes which makes it much more pleasant for me to come here and visit more often. Did you hire out a developer to create your theme? Outstanding work!

  • Great article! This is the kind of information that should be shared around the net.
    Disgrace on the seek engines for now not positioning this submit higher!

    Come on over and seek advice from my web site . Thank you =)

  • Hey There. I found your blog using msn. This is a very well written article. I’ll be sure to bookmark it and come back to read more of your useful info. Thanks for the post. I will certainly comeback.

  • I like the helpful information you provide in your articles. I will bookmark your weblog and check again here frequently. I’m quite certain I’ll learn plenty of new stuff right here! Good luck for the next!

  • Hey There. I found your blog using msn. This
    is a really well written article. I will make sure to bookmark it and come
    back to read more of your useful information. Thanks for
    the post. I’ll certainly return.

  • You’ve made some decent points there. I looked on the
    internet to learn more about the issue and found most individuals will
    go along with your views on this website.

  • I really like your blog.. very nice colors & theme. Did you create this website
    yourself or did you hire someone to do it for you?
    Plz answer back as I’m looking to construct my own blog and would
    like to find out where u got this from. appreciate it

  • I’m really loving the theme/design of your website.
    Do you ever run into any web browser compatibility problems?

    A few of my blog visitors have complained about my
    blog not operating correctly in Explorer but looks great in Firefox.
    Do you have any ideas to help fix this problem?

  • I was excited to uncover this page. I wanted to thank you for ones
    time for this wonderful read!! I definitely appreciated every bit of it and i also have you bookmarked to check out new
    things in your blog.

  • My partner and I stumbled over here coming from a different website and thought I might check things out.

    I like what I see so now i’m following you. Look forward to checking out your web page
    for a second time.

  • Having read this I thought it was very enlightening. I appreciate you
    spending some time and effort to put this article together.
    I once again find myself spending way too much time both reading and posting comments.
    But so what, it was still worth it!

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.