Locita

Memperkarakan Filsafat Yang Turun Kelas

ROCKY Gerung sedang populer. Lelaki berusia senja dengan penampilan cuek ini sedang menarik perhatian warga Indonesia dengan celotehnya yang kritis kepada Jokowi setahun belakangan. Resonansi popularitasnya hingga ke kampung kecil, Kalimana.

Yusran adalah penggemar berat Rocky Gerung. Kalimat RG seperti aliran sungai dari surga dan menyirami otak dari kegerahan. RG seperti para sophis Yunani di abad pertengahan adalah penutur kebijakan melalui parade kalimat yang estetik.

Nikmat dan membangkitkan gairah pengetahuan. Yusran menggemari RG dalam jaringan pengetahuan, bukan politik. Sejak kehadiran RG dalam ruang media virtual, Yusran sudah terpesona dan bersedia membagi sebagian hatinya kepada RG yang sebelumnya dimiliki penuh oleh kucing kesayangannya.

Penggemar RG lainnya adalah Sampara. Berbeda dengan Yusran, Sampara bukanlah penikmat filsafat. Kalimat RG bahkan tidak dimengertinya sama sekali. Alasan dia menyukai RG adalah karena dia berada dalam barisan pengkritik Jokowi.

Dan itu penting bagi Sampara yang mendukung Prabowo. Sampara menjadi pemandu sorak dalam setiap kalimat RG. Bagi Sampara, RG adalah parhaessiat, penutur kebenaran. Di puncak retorika RG, Sampara bahkan tak segan berteriak takbir.

Di sudut lain, Tesa adalah haters-nya. Suara RG, baginya adalah suara palsu. Suara politik beralibi filsafat. Beberapa kalimat RG bahkan membuatnya berang. Kata “dungu” yang diamplifikasi RG setiap saat seperti panah yang menembus relung hati Tesa.

Setiap kata itu muncul, Tesa gerah. Posisi Tesa sebagai pendukung Jokowi adalah penghalang baginya untuk menerima subtansi kalimat-kalimat RG. Apalagi, belakangan RG semakin eksplisit berada dalam barisan pendukung Prabowo. Tesa semakin tidak menyukainya.

Perbincangan tentang RG semakin menghangat. Dia harus berurusan dengan polisi atas aduan seseorang yang keberatan dengan kalimat RG beberapa bulan yang lalu. Perkara yang sudah lama itu memasuki babak baru; pemeriksaan!

“Saya tidak setuju kalimat RG diperkarakan, Kyai.” Kata Yusran di suatu sore.

“Kalimat yang mana?”

“Kitab suci adalah fiksi.”

“Salah mentong. Kalimatnya bisa dianggap menghina. Berkaca dong kasus Ahok. Ya, dia juga harus mempertanggungjawabkan kalimat-kalimatnya. Masa cuma Ahok yang diperkarakan. Takkalami to (nanggung),” kata Tesa.

“Dulu saya juga tidak setuju ketika Ahok diperkarakan. Bagi saya, kalimat Ahok adalah kalimat pengingat. Nah, sekarang saya juga tidak setuju RG diperkarakan. Karena kalimatnya memicu kita berfikir, bukan menghina,” jawab Yusran.

Kyai Saleh hanya tersenyum kecil melihat perdebatan para santrinya.

“Bagaimana pendapat ta, Kyai?”

“Mau pendapat bagaimana, bukannya kalian semua ini sudah punya pendapat.”

“Bagaimana kita memandang RG?”

“Dia orang cerdas. Negara Indonesia membutuhkan orang-orang cerdas seperti beliau.”

“Apa kubilang.” Sampara merasa mendapat angin mendengar kalimat Kyai Saleh.

“Ah, piti kana-kanai (asal ngomong) ji kadang-kadang ku dengar.” Tesa menyela cemberut. Dia tidak menyukai Kyai Saleh memberi pujian kepada RG.

“Iya… karena kau pendukung Jokowi.” Sampara nyeletuk.

“Bagaimana pendapat Kyai, tentang pelaporan RG ke polisi?” Yusran kembali bertanya.

“Kalau bicara hukum, saya tidak punya pengetahuan. Saya husnudzhan saja. Kalau dia tidak terbukti salah, pasti bebas.”

“Tapi bukan ji gara-gara sering kritik pemerintah na dikasih begitu?” Sampara bertanya dengan nada polos.
Kyai Saleh tidak segera menjawab. Dia memilih menyeruput kopi yang masih mengepul.

“Bisa iya, bisa juga tidak!”

“Buktinya. Semua yang anti-pemerintah ditangkap, Kyai. Kayak orde baru saja!” tegas Sampara dengan sedikit sinis.

“Hati-hati, Sampara. Kalau memang ini rezim kayak orde baru. Pasti sudah habis semua ini lawan politik. Diculikmi semua. Sudah lama itu RG hilang. Buktinya, dia bebas bicara kemana-mana. Kalau sekarang tersandung ya ciddako! “ kata Tesa dengan nada dongkol.

“Begitu mi yang disebut politik,” gumam Kyai Saleh.

“Ada apa dengan politik kita, Kyai?”

“Semua menjadi permainan. Tidak ada yang bicara kebenaran, semuanya bicara untuk dirinya, kepentingan kelompoknya sendiri. Keadilan baru diteriakkan ketika tubuhnya dilukai. Tetapi jika tubuh orang lain yang terluka, dia tertawa dan bersorak ria. Yang berteriak adili Ahok dulu adalah yang sekarang membela RG, padahal pasal yang digunakan memperkarakannya sama, yaitu pasal penistaan.”

“Kayak Rocky Gerung tommiki kudengar, Kyai,” canda Yusran.

Kyai Saleh tersenyum kecil, sembari melanjutkan kalimatnya, “Kesalahan Rocky Gerung adalah membawa bahasa filsafat ke dunia politik. Bahasa filsafat adalah bahasa kebebasan, kearifan, dan kemuliaan. Rocky Gerung membawanya ke dunia pragmatis yang dipenuhi kepentingan. Dan dengan itu, dia harus bersedia menghadapi cara kerja politik.”

Sampara mengernyitkan dahi. Yusran mengangguk-angguk. Sementara Tesa memilih menghirup kopi.

“Cara kerja politik seperti apa, Kyai?” Tesa bertanya.

“Saling menjebak. Mencari kelemahan untuk membantai lawan.”

Suasana hening. Kalimat singkat Kyai Saleh menyentak para santri. Ya, fenomena politik memang seperti itu. Tidak ada musuh dan teman yang abadi.

“Saya khawatir RG telah terjebak dalam permainan politik dan tidak menyadarinya. Sekarang, dia menikmati sambutan riuh dari pendukung Prabowo yang mengelukan setiap waktu. RG bahkan tidak menyadari kalau khalayak yang mengelu-elukannya itu tidak mengerti yang diucapkannya. Seperti Sampara ini.”

“Tidak apa-apa ji to, Kyai?” Wajah Sampara memerah.

“Begini. Ingat pengajian tentang Al-Hallaj! Dia harus menemui kematian karena soal ruang bahasa yang berbeda. Bahasa Mansur Al-Khallaj adalah bahasa sufi. Bahasa yang muncul dari batin seorang hamba yang ekstase karena bertemu dan merasa bersatu dengan Tuhan. Sayangnya, bahasa privat ini ditampilkannya ke publik dan membuat kekacauan pengetahuan. Untuk kepentingan stabilitas, Al-Hallaj harus dibunuh. Syekh Siti Jenar pun harus menemui kematian di hadapan dewan wali. Sama, bahasa yang terbatas disebarkan di ruang publik.”

“Apa hubungannya dengan kasus Rocky Gerung? Apa dia seorang sufi?” Sampara dengan lugu mengajukan pertanyaan.

“Tidak ada hubungannya tetapi punya kesamaan. Bahasa filsafat yang digunakan RG adalah bahasa yang unik, dekosntruktif, bebas, liar, tetapi terbatas ruangnya. Bahasa filsafat sebagaimana bahasa para sufi sering tampil mengejutkan, menggairahkan tetapi sulit dicerna dengan nalar biasa. Di sinilah politik bekerja. Hal-hal yang tidak bernalar biasa itu diterjemahkan dalam bahasa pragmatis. Bahasa kritik RG dinikmati kelompok tertentu dan pasti akan diperkarakan oleh kelompok lainnya.”

Suasana hening. Kyai Saleh kembali menyeruput kopi yang masih tersisa.

“Saya menyukai kritik RG kepada penguasa dengan bahasa filsafatnya. Bagi saya, nikmati sajalah. Tak perlu memperkarakannya ke meja hukum. No Rocky no party. Setiap pentas membutuhkan antagonis untuk membuat protagonis lebih bermakna. Namun, jika harus diperkarakan, maka saya akan memperkarakan RG karena telah membuat filsafat turun kelas.”

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

2 comments

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.