Locita

Jafar Yang Tidak Baca Shalawat di Khutbah Jumat

Jagad maya kembali hingar. Menteri agama yang konon lupa membaca shalawat pada kalimat pembuka khutbah Jumat menjadi sasaran ocehan warga net. Ribuan cuitan dan sindirian di media sosial berhamburan. Bahkan beberapa orang dengan label ustad ikut-ikutan berkomentar. Sebagian besar menyalahkan sang menteri.

Para santri Kyai Saleh pun penasaran.

Isu ini segera dibawa oleh para santri Kyai Saleh di forum pengajian rutin ba’da Magrib. Mereka ingin kepastian jawaban dari Kyai Saleh.

“Pertama, saya ingin katakan kepada kalian bahwa jika pengetahuanmu tentang agama tidak banyak, janganlah cepat memberi penilaian. Pengetahuan yang sedikit itulah yang menyebabkan terjadinya kekacauan.” Nasihat Kyai Saleh kepada para santrinya yang memperkarakan Menteri Agama yang luput membaca shalawat.

“Lalu bagaimana itu Kyai?”

“Dalam tata cara ibadah, jika imam dan khatib lalai terhadap sesuatu maka makmum atau jamaah wajib memberi kode agar sang imam dan khatib mengerti kesalahannya. Jangan komentar di media sosial, itu sudah terlambat. Shalat jumat sudah selesai dilakukan. Yang berbuat keliru cukup meminta ampun kepada Allah atas kesalahan yang tidak disengaja itu.”

“Tetapi benarkah kalau tidak membaca shalawat, salat Jumat tidak sah?” Cecar Yusran. Jawaban Kyai Saleh tampak tidak cukup memuaskan.

Kyai Saleh hanya tersenyum.

Alih-alih menjawab pertanyaan Yusran, Kyai Saleh malah mengajak santrinya ke peristiwa beberapa puluh tahun lalu, ketika masih menjadi santri di pesantren Mbah Bisri.

******

Matahari sudah tegak lurus. Sebentar lagi waktu Jumat akan tiba. Oleh karena Mbah Bisri sedang ada agenda ke luar kota, Jafar-lah yang didaulat oleh santri lainnya untuk membaca khutbah. Permintaan ini disanggupi oleh Jafar.

Barak segera mengumandangkan azan, ketika Jafar mulai membuka khutbah dengan ucapan salam.

Jafar segera memulai membaca khutbah. Para santri lain mendongakkan kepala dan menatap ke arah Jafar yang hanya mengucapkan dzikir sebagai kalimat pembuka. Tidak ada ucapan syahadat, shalawat, doa dan pesan takwa sebagaimana biasanya.

Meski banyak yang bertanya, tetapi tak satupun di antara mereka “menginterupsi” Jafar yang sedang asyik beragitasi dengan ceramahnya.

Usai membaca khutbah, salat Jumat digelar. Saleh yang bertindak sebagai imam segera melaksanakan tugasnya dengan baik. Usai shalat, beberapa orang santri mengambil barisan salat dan melaksanakan salat dhuhur. Jafar hanya tersenyum simpul melihat rombongan santri itu.

“Eh, kenapa kalian salat dhuhur?” tanya Saleh.

“Masak kamu tidak dengar tadi, Jafar itu tidak membaca rukun khutbah berarti salat Jumat tidak sah dan kita wajib menggantinya dengan salat dhuhur.”

“Benarkah Jafar?” Tanya Saleh ingin memastikan

“Eh, Saleh. Kamu tidur ya tadi.” Tegur santri lainnya. Tetapi Saleh tidak menjawab. Dia hanya memandangi sahabatnya sembari menginginkan jawaban pasti.

“Iya. Mereka benar dan saya juga benar!” kata Jafar cuek. Alih-alih menjawab pertanyaan Saleh, Jafar malah beranjak keluar dari masjid. Saleh melongo.

*****

Para santri segera mengadukan persoalan ini kepada Mbah Bisri.

“Mbah, kami terpaksa melakukan salat dhuhur karena Jafar tidak sempurna membaca rukun khutbah.” Kata salah seorang santri kepada
Mbah Bisri.

Mbah Bisri tertegun sejenak dan memandangi Jafar. Jafar kikuk.

“Memangnya, kamu baca apa le.”

“Saya membaca tahmid, tasbih, dan tahlil.”

Mbah Bisri tersenyum, “Semua yang kalian lakukan benar dan salah sekaligus.”

Para santri berpandang-pandangan. Mereka tidak bisa mencerna kalimat Mbah Bisri. Bagaimana bisa kebenaran dan kesalahan berada di satu waktu dan peristiwa yang sama? Para santri terdiam dan menanti kalimat Mbah Bisri.

“Yang dilakukan Jafar mengambil dari pendapat Madzhab Hanafiyah. Imam Hanafi tidak mensyaratkan lima rukun khutbah sebagaimana Imam Syafii. Beliau hanya mensyaratkan zikir. Tidak ada kesalahan formal dalam perbuatan Jafar karena rujukannya ada.”

Mbah Bisri terdiam sejenak.

“Sedangkan kalian yang mengulang salat menggunakan cara pandang Syafii juga tidak salah. Bagi kalian, rukun khutbah adalah wajib dalam khutbah Jumat.”

“Tadi, Kyai bilang kami semua benar dan salah. Salah kami dimana Kyai?” Tanya salah seorang santri lainnya.

“Jafar salah secara sosial. Dia tidak memperhatikan jamaahnya yang penganut madzhab Syafii atau paling tidak terbiasa dengan tata cara khutbah ala Imam Syafii. Pilihannya untuk menggunakan pendapat Imam Hanafi tidak bijak karena menimbulkan polemik. Ingat, seperti yang selalu saya pesankan. Jika ulama berpolemik akan melahirkan ilmu. Sedangkan, umat berpolemik hanya menimbulkan ketegangan dan potensi permusuhan. Jika kelak kalian menjadi seorang dai, kalian harus memahami level dan situasi umatnya. Kalian pun harus terbuka terhadap kemungkinan terjadinya perbedaan paham. Ingat para ulama saja berbeda paham, apalagi kalian.”

Para santri manggut-manggut. Jafar hanya tertunduk dengan wajah memerah.

“Kalau kesalahan santri yang menganggap salat Jumat tidak sah, Kyai?”

Mbah Bisri tersenyum kecil.

“Kalian tidak membangun dialog. Kalian tidak berusaha mencari tahu alasan Jafar. Yang kalian pastikan adalah Jafar keliru. Padahal, sejatinya kalian sedang menyalahkan imam Hanafi. Ingat anakku. Ilmu fiqih itu sangat luas. Ulama fiqih juga sangat banyak. Lebih banyak yang kita tidak pahami daripada yang kita pahami. Jika menemukan orang yang berbeda cara dan tata keagamaan dengan kita, sebaiknya jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Pelajari argumentasinya dan pahami ulama siapa yang dirujuknya. Posisikan dirimu sebagai pencari ilmu, jangan posisikan dirimu sebagai pemilik kebenaran satu-satunya.”
Para santri manggut-manggut mendengar penjelasan Mbah Bisri. Mereka tersenyum puas.

Ah, Mbah Bisri memang keren! Kata Saleh dalam hati.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.