Locita

No Skripsi, No Parsel Budaya tidak boleh masuk menerobos ruang-ruang akademik

Barangkali Anda sudah tahu. Ada rektor muda yang kini bernama Rita Santoso, Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) ASIA Malang. Yang membuatnya terkenal salah satunya karena ia tidak mewajibkan skripsi.

Barangkali ia mengerti jika skripsi ini menjadi momok mahasiswa tingkat akhir meski tidak pernah dirasakannya.

Skripsi menjadi momok bukan karena konten skripsi itu sendiri yang mensyaratkan menulis karya ilmiah yang tentu berbeda dengan menulis status di sosial media. Tetapi variabel-variabel yang membersamainya seperti dosen pembimbing, yang beberapa diantaranya lebih banyak merepotkan daripada membimbing. Seperti misal janjian jam 1 tapi dosennya datang jam 3. Mahasiswanya tidak boleh protes. Kalau tetap keukeuh protes atas nama profesionalitas, bisa-bisa dicap mahasiswa kurang ajar dan tidak tahu terima kasih. Syukur-syukur sudah mau dibimbing. Lagipula dosennya mungkin memang memiliki kesibukan yang jauh lebih penting. Apalagi jika honor membimbing yang tidak seberapa.

Belum lagi drama-drama lainnya. Sebuah hal yang Rektor Rita tak pernah rasakan saat kuliah S1 dan S2 di Amerika Serikat sana. Meski begitu, sepertinya ia cukup mengerti dan punya empati. Buktinya ia menjadikan skripsi sebagai pilihan. Kalau tidak mau skripsi ya tidak apa. Diganti dengan proyek akhir saja.

Mungkin tidak semua, tetapi di banyak kampus, katakanlah beberapa –kalau tidak sebagian besar bahkan semua—kampus di Makassar, skripsi berarti juga berurusan dengan parsel atau hadiah. Ketika seminar atau ujian hasil, mahasiswa harus menyiapkan berupa paket. Oke, fine. Mungkin memang tidak ‘harus’. Tetapi dalam budaya ketimuran kita, kita tahu betul ada budaya ‘tidak enakan’.

Jadi ketika temannya melakukan itu, yang lain juga mulai ikut-ikutan. Dari proses ikut-ikutan itu kemudian menjadi tradisi. Tradisi menjadi budaya. Dan tibalah seolah menjadi ‘harus’. Apalagi bersamaan dengan itu disertai harapan pengujinya memberikan nilai tinggi karena kan sudah ‘disogok’ dengan makanan. Yang paketnya biasa kemudian menjadi agak mewah lalu menjadi mewah. Semakin mahal paketnya, mahasiswanya mungkin berharap semakin baik pula pengujinya memberi nilai.

Saya memang tidak melewati proses itu, saya sering melihat tradisi itu hampir setiap minggu. Meski tidak selesai, saya sempat menempuh pendidikan program master di salah satu perguruan tinggi terkenal di Makassar.

Hampir setiap minggu, saya menyaksikan beberapa mahasiswa seminar proposal atau ujian akhir. Saya selalu menyaksikan ia dan dibantu teman-temannya lebih sibuk menyiapkan makanan dan minuman untuk penguji dan pembimbing daripada menyiapkan materinya. Beruntung jika ada temannya yang bersedia mengambil alih urusan ‘perut’ itu. Beban mahasiswa biasanya jadi double. Memikirkan snack dan minumannya dan materinya sendiri.

Pernah saya melihat surat larangan untuk membawa parsel atau apapun bentuk ketika ujian ditandatangani oleh pimpinan kampus. Surat itu ditempelkan di beberapa tempat meski tidak banyak.

Bukan cuma di kampus tempat saya sempat lanjut program master itu, tetapi juga di tempat saya kuliah es satu dulu. Bahkan pernah isu itu muncul di koran lokal dan menjadi viral.

Tentu, berita itu bisa menjadi viral karena diam-diam banyak yang merasa keberatan. Isu skripsi dan parsel bahkan kemudian menjadi topik khusus sebuah seminar. Tetapi tak lama kemudian, tradisi ini kembali berulang dalam bentuk yang berbeda.

Salah satu alasan mengapa saya ogah menyelesaikan program master di kampus tersebut, yang sisa menyisakan penyusunan proposal, bukan saja karena saya harus membayar belasan juta untuk jumlah semester yang saya tinggalkan, tetapi juga karena saya tidak nyaman dengan harus menyediakan makanan dan minuman ketika seminar.

Bukan harga yang jadi soal. Harganya mungkin hanya ratusan atau satu juta paling banter. Saya juga mungkin punya banyak teman yang bisa membantu menyediakan tas plastik untuk penguji dan kotak snack untuk para peserta.

Bagi saya tradisi seperti ini mengkhianati nalar akademik dan intelektual. Makanan dan minuman itu disajikan ketika proses ujian berlangsung, sebelum nilai dituliskan di kertas hasil.

Penguji menikmatinya, masuk ke kerongkongan lalu lanjut ke perutnya. Ketika makanan dan minuman itu telah menjadi asupan yang meresap ke dalam tubuh, bisa jadi muncul ketidakobjektifan memberikan nilai. Bisa jadi ada perasaan bersalah ketika tidak memberikan nilai tinggi atau paling tidak, tidak meluluskan. Makanan dan minuman itu bisa menjadi daya penekan kepada penguji untuk memberikan nilai yang baik.

Dalam satu seminar yang disebutkan sebelumnya, muncul sebuah alasan jika pemberian itu yang katanya keinginan mahasiswa sendiri adalah bagian dari budaya ketimuran, terutama budaya Bugis-Makassar. Sebuah budaya yang memang tidak memiliki kata khusus untuk berterima kasih sebab rasa berterima kasih itu diwujudkan dalam bentuk pemberian barang. Sebuah argumen yang cukup kokoh dan meyakinkan.

Tetapi, ujian skripsi adalah sebuah proses akademik yang harus dilandaskan pada objektifitas. Segala hal yang memungkinkan ‘mengganggu’ pemberian nilai harus dilepaskan. Tradisi dalam budaya tidak boleh menerobos ke dalam ruang-ruang akademik. Jika tetap dipaksakan, nilai dan harga dalam proses akademik menjadi tidak berarti.

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.