Locita

Kepada Menteri Nadiem, Bahasa Inggris Memang Penting tetapi … Bahasa Inggris, bagaimanapun pentingnya tetaplah bahasa.

Ada dua bahasa yang ditekankan Pak Menteri eh Mas Menteri, yaitu bahasa coding dan Bahasa Inggris. Tak tanggung-tanggung, Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran utama di tingkat SD. Akhirnya, setelah pada Kurikulum 2013 Bahasa Inggris dimarjinalkan dan membuat wajah guru-guru Bahasa Inggris menjadi murung, kini bolehlah mereka tersenyum dan bersinar kembali.

Sebagai alumni jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, yang kemudian melanjutkan jenjang master jurusan bahasa Inggris (TESOL), kabar ini jelas kabar baik. Selain semacam pengakuan terhadap jurusan saya sendiri sebagai salah satu jurusan yang banyak diminati, juga sebab dengan begitu akan semakin banyak guru Bahasa Inggris yang dibutuhkan.

Bahkan, kursusan akan semakin banyak dan para orang tua berbondong-bondong memasukkan anak-anaknya agar bisa bercas-cis-cus Bahasa Inggris. Alhasil, peluang mendapatkan pundi-pundi rupiah akan semakin besar.

Posisi Bahasa Inggris akan semakin moncer dan gengsinya makin tinggi. Mereka yang dianggap bisa berbahasa Inggris akan dianggap terdidik, cerdas, dan keren. Klaim ini bukan pendapat saya belaka. Studi Hassall dkk (2008) dari Australia National University tentang sikap orang Indonesia terhadap bahasa Inggris dengan menjadikan kata serapan sebagai ukuran.

Hasilnya –seperti diduga- menunjukkan sikap yang positif terhadap bahasa Inggris. Mereka yang dianggap cakap berbahasa Inggris menunjukkan status sosial yang lebih tinggi, lebih kompeten, intelek, kaya, dan percaya diri.

Saya selalu ingat guru saya ketika SMP atau bahkan dosen saya ketika kuliah. Demi menyemangati kami, terutama kami-kami yang belajar Bahasa Inggris semata-mata karena terpaksa sebagai mata pelajaran wajib atau kami yang merasa Bahasa Inggris seperti bahasa alien. Guru dan dosen saya itu berulang-ulang memotivasi jika mampu bercakap bahasa Inggris akan tampak lebih cakep. Apalagi kalau pulang kampung, meski Bahasa Inggrisnya belepotan, orang-orang akan mengira kami orang cerdas. Hanya karena kami mampu berbahasa Inggris.

Dulu ibu saya bilang kalau kakak saya pintar sekali berbahasa Inggris. Karena katanya kalau bisa berbahasa Inggris itu pintar dan keren, saya pun mengaguminya. “Wah pintar sekali kakak saya itu.” Ketika saya sudah besar, saya tahu jika kakak saya itu cuma sekadar tahu perkenalan sederhana saja tetapi sudah dianggap pintar Bahasa Inggris.

Setelah lulus sebagai sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, saya juga sering menyemangati siswa atau mahasiswa saya jika mereka menguasai Bahasa Inggris maka mereka akan menguasai dunia. Saya juga masih sering mendapati guru Bahasa Inggris jika Bahasa Inggris akan membuat siswa mereka lebih keren dari yang lain.

Perlahan kemudian saya pikir ada yang perlu ditinjau ulang cara saya melihat Bahasa Inggris. Bahasa Inggris kok seperti sesuatu yang amat dipuja dan diam-diam siswa atau mahasiswa didoktrin jika dengan menguasai Bahasa Inggris akan membuat mereka lebih cerdas dari yang lain.

Stereotipe ini juga berlaku di masyarakat bahkan lebih luas dan lebih besar lagi. Bahasa Inggris menjadi istimiewa dan memiliki status tinggi. Bahasa Inggris bahkan dijadikan seolah ukuran kecerdasan.

Kepercayaan seperti ini kemudian mau tak mau tertanam dalam mental masyarakat kita. Lalu dipelihara dan dirawat. Akibatnya adalah kita membuat kasta-kasta bahasa. Misal, Bahasa Inggris dianggap lebih superior dibanding Bahasa Indonesia, apalagi jika hanya dibandingkan dengan bahasa lokal seperti Bahasa Bugis dan Bahasa Makassar.

Ideologi semacam inilah yang bisa memicu diskriminasi atau rasisme bahasa. Sebuah keadaan ketika kita menganggap bahasa tertentu lebih mulia dari yang lain.

Lebih jauh, seseorang bisa meledek orang lain karena bahasanya itu fasih atau tidak selancar sesuai dengan standar yang dipercayainya. Orang-orang merasa malu dan gengsi ketika menggunakan bahasa lokalnya di kota.

Kita tahu apa yang terjadi kemudian. Bahasa lokal menjadi tersingkirkan untuk kemudian punah. Kebanggaan itu menghilang. Sebaliknya, kita merasa sangat bangga karena tahu berbahasa Inggris.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa Bahasa Inggris itu tidak penting. Tentu, Bahasa Inggris –terlepas dari proses sejarah, politik, dan ekonomi—adalah bahasa internasional utama. Bahasa Inggris adalah bahasa utama di internet.

Tulisan-tulisan akademik banyak tertulis dan dipublikasikan berbahasa Inggris. Dengan menguasai Bahasa Inggris, kita bisa mengakses sumber-sumber primer. Referensi yang benar-benar dipahami dari konteksnya.

Dengan adanya Bahasa Inggris, yang tidak terlalu sulit dipelajari dibandingkan bahasa lain semisal dibandingkan Bahasa Mandarin, hubungan dunia dari satu negara ke negara lain semakin erat. Bahasa Inggris adalah sistem yang telah banyak menghubungkan manusia dari ujung dunia ke ujung dunia yang lain. Apalagi dengan kemudahan internet seperti sekarang.

Meski begitu, Bahasa Inggris –betapa pun pentingnya—tetaplah bahasa. Ia tidak ada bedanya dengan bahasa lain. Ia tetaplah alat komunikasi seperti bahasa yang lain. Hanya mungkin digunakan dalam skop yang lebih besar. Siswa dan mahasiswa harus dipahamkan jika Bahasa Inggris hanya satu komponen. Sebab jika hanya Bahasa Inggris lantas serta merta seorang menjadi sukses, seharusnya tidak ada gelandangan dan homeless di Amerika Serikat. Jangankan menguasai dunia, keluar mengunjungi negara lain saja tidak.

Hanya karena proses sejarah, politik, dan ekonomi belakalah yang kemudian disepakati Bahasa Inggris adalah lingua franca dunia. Padanya kemudian melekat stigma Bahasa Inggris sebagai bahasa elit dan keren, termasuk stereotipe jika Bahasa Inggris adalah ukuran intelektualitas. Sebuah kepercayaan yang tentu saja menyesatkan.

Pada poin inilah yang saya kira perlu diingat Mas Menteri Nadiem. Motivasi belajar Bahasa Inggris harus ditanamkan dengan memberikan dan menyebutkan alasan-alasan praktikal dalam keseharian. Bukan dengan dengan memuja-muji berlebihan yang bisa berdampak mahasiswa menganggap bahasa lain inferior. Padahal Bahasa Indonesia dan bahasa daerah lainnya adalah identitas diri. Ia adalah bagian dari karakter, satu hal lain yang ditekankan Mas Menteri: karakter.

Secara konsisten, penelitian-penelitian ilmiah seperti Grosjean menunjukkan jika bilingual/multilingual justru memberikan manfaat terhadap kepribadian dan karakter anak. Dibandingkan dengan anak-anak monolingual, mereka yang bilingual/multilingual lebih berempati dan simpati, kreatif, dan inovatif dalam menyelesaikan masalah (problem-solving).

Para siswa harus menguasai Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional sehingga dapat bersaing namun di saat bersamaan mereka juga harus bangga dengan bahasanya sendiri. Dan guru-guru memiliki tanggungjawab ini. Tentu, pertama-tama harus dimulai dari guru-guru itu sendiri.

Okay Mister?

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.