Locita

Vera dan Puisinya

SAYA membenci penyair yang menjelaskan puisinya kepada saya. Saya berharap ia segera mati. O, ini bukan kiasan. Saya berharap ia benar-benar mampus. Lebih baik hilang nyawa ia berkalang tanah, daripada hidup dan tidak mengizinkan saya berimajinasi.

Tapi tidak ketika saya bertemu Vera.

Vera punya suara sehalus angin pantai, seserak cangkang asam kering kena injak sapi padang. Jika ia berbicara, kau merasa sedang berjalan di sabana dekat laut, melihat burung-burung beterbangan dan anak-anak kecil memungut kerang. Dan bila kau menyadari bahwa ia selalu berbicara sambil menatap matamu, menatap matamu dalam-dalam, kau merasa burung-burung mengangkatmu ke surga dan anak-anak menyanyikan lagu tentang kebangkitan.

“Saya sangat suka menulis puisi tentang cinta,” begitu ia menjelaskan tema puisinya. “Saya suka momen-momen romantis di mana jantung saya berdebar. Pipi saya menebal. Momen jatuh cinta, oh cinta…” ia berhenti sebentar, merasakan kekuatan kata-katanya sendiri, lalu menambahkan: “Tapi saya juga selalu menyisipkan pesan-pesan pelestarian lingkungan di dalam puisi-puisi saya.”

Saya memandangnya hampir tanpa berkedip. Saya bisa mendengar suara organ gereja mengalun dari botol-botol kaca di meja bar, anak-anak pantai bergelantungan di lelampu plafon sambil menyanyikan lagu Si consurrexistis cum Christo, sementara burung-burung bertengger di kepala mereka dan bersiul mengikuti.

Seorang pelayan kurus keriting menghampiri kami dan menyodorkan buku menu. Ia membungkuk sopan di hadapan saya, seperti ingin menjilat keluar seluruh isi dompet saya. Kami sedang berada di bar di sebuah hotel di Ubud, dan saya masih sedikit mabuk udara. Penulis dan orang-orang yang mengaku pembaca tapi diam-diam punya obsesi ingin menjadi penulis, mondar-mandir memesan makanan sambil sesekali berfoto. Saya diundang ke sini untuk menghadiri festival kepenulisan, dan masih punya empat jam sebelum berbicara tentang buku puisi saya yang baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan Yunani.

Dulu, sebelum menjadi penulis dan masih miskin, saya selalu berpikir, bahwa festival-festival kepenulisan sejenis ini hanya muslihat orang kaya untuk memeras orang miskin atas nama sastra dan literasi.

Penulis-penulis terkenal dari segala belahan dunia didatangkan, dan tiap mata acara digelar dengan tiket masuk yang mahal. Sekarang, sesudah saya menjadi kaya dan terkenal, saya telah merevisi pikiran jahat yang dangkal itu. Kini saya sadar, bahwa melalui festival sejenis ini, orang-orang kaya berbaik hati mempertemukan penulis dengan pembaca. Orang-orang miskin seharusnya berterima kasih dan memanfaatkan momen langka ini, momen untuk saling bertemu.

Seperti saya bertemu dengan Vera.

Meski ia bukan pembaca saya, Vera adalah perempuan muda yang lebih cantik dari pantai, dan telah menerbitkan tiga buah buku kumpulan puisi. Hanya ada sedikit perempuan Indonesia yang cantik dan menulis puisi, sehingga menurut hitungan saya, harusnya ia sedikit terkenal. Tapi saya belum pernah mendengar namanya sebelumnya.

Saat kami selesai memilih menu dan pelayan itu pergi, Vera membuka tasnya dan mengeluarkan bukunya yang terbaru. “Saya akan sangat senang bila anda mau mau berpose dengan buku ini,” katanya. “Saya akan menaruhnya di facebook dan instagram.”lanjutnya.

Sesudah difoto dengan pose buku-ini-bagus-dan-layak-dibaca, saya membuka-buka halamannya. Tahulah saya mengapa perempuan di depan saya ini tidak begitu terkenal. Puisinya sangat buruk, sangat buruk sekali, buruk bukan main. Membaca dua baris puisinya, kepala saya pening dan perut saya berkerocok ingin muntah sekaligus kencing sekaligus berak.

Alih-alih bicara tentang puisinya, saya bertanya apa yang membawanya ke Ubud. Apakah ada yang mensponsori? Lembaga-lembaga pemerintahan selalu suka mensponsori seniman yang mau bekerja sama, kata saya, kadang tanpa mengecek dulu apakah si seniman adalah seorang yang tolol dan megalomaniak, sambung saya dalam hati.

“Tidak ada sponsor,” jawabnya. “Saya datang dengan biaya sendiri. Saya sangat suka pada sastra dan literasi.”
Saya lihat matanya. Ia lihat mata saya. Lagu paskah masih berkumandang.

“Saya aktif di komunitas,” katanya lagi. “Saya sering memberi pelatihan menulis untuk anak-anak SMA dan mahasiswa.”

Saya balik buku tipis itu dan melihat biodata dirinya di sampul belakang. Ia tujuh kali menang lomba dan puisinya belum pernah diterbitkan oleh koran Tempo ataupun Kompas. Tapi puisinya pernah dimuat di beberapa koran lokal, yang redaktur sastranya tak paham sastra, dan terkenal ogah membayar honor penulisnya. Memang, puisinya pernah diterbitkan di Majalah Horison, tapi… ayolah, ini bukan tahun 1970-an. Kau bukan apa-apa jika puisimu hanya diterbitkan majalah usang itu.

Pelayan datang membawa pesanan. Vera membuka botol bir dan menenggaknya, saya bertanya apa pekerjaannya.
Saya masih kuliah dan berharap bisa menjadi perempuan penyair yang diakui di seluruh Indonesia, ia menjawab penuh percaya diri.

“Coba hitung ada berapa perempuan penyair di Indonesia?” ia bertanya kembali.
Saya mengernyitkan kening, seperti sedang berhitung dalam kepala. Tapi saya tidak sedang menghitung apa-apa, sebab perempuan tidak terlalu penting untuk dihitung. Megawati menjadi presiden karena beruntung saja.

Hampir dua menit saya mengernyit, ia tertawa. Saya bilang menyerah. Ia bilang tidak usah dipikir. Memang jarang.
“Iya, jarang,” jawab saya. “Tapi mereka berbakat,” saya menyambung — agar ia tahu bahwa saya laki-laki yang memasukkan perempuan dalam hitungan.
Ia tersenyum.

Saya bertanya di mana ia tinggal.

Apakah orang tuamu masih hidup?

Ia mengeluarkan rokok dari tas tangannya, meloloskan sebatang dan membakarnya, sambil melihat jauh ke meja bar. Di meja bar, dua penulis asing sedang minum wiski sambil mempertengkarkan entah apa. Yang satu selalu berkeringat dan badannya tiga kali lebih besar daripada babi. Yang lain berwajah Timur Tengah dan Bahasa Inggrisnya lebih buruk daripada masakan tunangan saya. Sepertinya itu Keret.
Saya mengalihkan kembali pandangan kepada perempuan ini. Ia masih terus menatap dua penulis asing itu, tapi pikirannya jauh, tanpa kelihatan akan menjawab pertanyaan saya.

Saya mengambil cangkir kopi, menyeruputnya dan bertanya sudah berapa lama ia menulis puisi.

Sejak SD, ia menjawab cepat. Saya melihat Dian Sastro membaca puisi di film Ada Apa dengan Cinta?

“Apakah kau melihatnya?” ia bertanya. Tentu saja. Film itu membantu saya menjelaskan kepada pacar pertama saya, tentang bagaimana cara berciuman. Ia tertawa sebentar.

“Sesudah menonton film itu,” ia berkata kemudian, “Saya sering ke toko buku bekas. Mencari buku puisi. Berharap bisa bertemu laki-laki setampan Nikolas Saputra.”
Saya tertawa.

“Tapi itu tidak pernah terjadi,” katanya. “Saya tidak pernah bertemu laki-laki tampan yang suka puisi. Tapi, paling tidak, film itu membuat saya menjadi penyair dan menghasilkan buku puisi yang bagus.”

Ia berkata begitu dengan senyum bangga yang tidak ditahan, sambil menunjuk buku di tangan saya. Uft, ia sedang memuji puisinya yang buruk bukan main. Tali perut saya sekali lagi berpilin ingin muntah sekaligus kencing sekaligus berak. Jika orang lain yang melakukan itu, saya sudah akan meninggalkannya.

Tapi ia adalah perempuan yang cantik, dan, saya sejak tadi menahan diri untuk tidak menulis tentang ini, tapi badannya sungguh aduhai, seksi-segar-menggoda. Lehernya berkilat dan belahan dadanya putih berbintik merah, bekas jerawat yang kena pencet.

“Penyair siapa yang kamu suka?” saya bertanya untuk mengalihkan perhatian saya dari belahan dadanya.

“Tentu saja Sapardi,” ia menjawab cepat.

“Semua orang suka Sapardi. Hujan Bulan Juni? Oh, dulu saya pikir, sesudah Aku Ingin, tidak akan ada lagi puisi yang menghancurkan saya.”

“Selain Sapardi?” saya bertanya kembali.
Ia menatap saya.

“Saya tidak suka yang lain,” ia menjawab.

“Hanya Sapardi.”

Saya membuka buku puisinya dan melihat sebentar. Benarlah bahwa itu adalah versi buruk dari puisi Sapardi Djoko Damono. Ia berusaha mengikuti jejak Sapardi, tapi jika kakek tua itu ada di angka 10, perempuan muda ini ada di angka -20.

“Coba lihat halaman 23, Mas,” ia berkata. Saya membuka-buka buku itu. “Nah, 23. Lihat? Di situ saya bicara tentang lingkungan. Lihat bait kedua? Nah, yang saya maksudkan dengan kata kelam adalah kesedihan. Kenapa saya memilih kelam? Karena…”

Mulailah ia menjelaskan tentang puisinya. Meski saya benar-benar ingin muntah, saya berusaha mendengarkan. Saya berusaha mendengarkan, sebab saya tahu bahwa ia sangat terobsesi untuk menjadi penyair terkenal. Dengan memanfaatkan obsesi itu, plus mimpi masa kecilnya untuk bertemu laki-laki yang menyukai puisi, penyair terkenal seperti saya ini tidak akan sulit mengajak ia ke kamar. Yang perlu saya lakukan sekarang hanya mendengarkan dan menghargai ia dan puisinya.

Maka sepanjang ia berbicara, menjelaskan puisi tentang lingkungan di halaman 23 itu, saya terus berusaha mendengarkan. Saya berusaha mendengarkan tapi saya telah membayangkan kamar hotel. Ruangan tertutup berpendingin. Tempat tidur yang cukup tinggi untuk gaya anjing. Kasur yang empuk untuk sesuatu yang konvensional. Seprai yang kusut dan leher yang berkeringat. Dan lagu paskah itu akan terus bergema sementara ia megap-megap di bawah hidung saya.

Si consurrexistis cum Christo,
quae sursum sunt quaerite,
Alleluia…

Felix K. Nesi

Felix K. Nesi

Lahir di Nesam, Timor-NTT. Karya puisinya dimuat di Harian Kompas, Koran Tempo, dan beberapa media lain.

1 comment

Tentang Penulis

Felix K. Nesi

Felix K. Nesi

Lahir di Nesam, Timor-NTT. Karya puisinya dimuat di Harian Kompas, Koran Tempo, dan beberapa media lain.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.