Locita

Taaruf, Nikah Muda, dan Kisah Cinta Singkat Alma-Taqy

TIDAK semua pernikahan di usia muda berakhir cerai seperti kisah pernikahan Alma-Taqy. Banyak pasangan yang menikah di usia 17 tahun dan langgeng-langgeng saja. Tapi apakah nikah muda jauh lebih rentan dari pernikahan di usia matang atau dewasa ?

Entah kapan, saya membaca sebuah artikel yang bertengger di lini masa Facebook saya. Judulnya seperti ini “MASYA ALLAH, Ternyata Menikah di Usia Muda Dapat Membuat Setan Menangis.” Entah kapan lagi, saya berkunjung ke toko buku dan menemukan buku yang berjudul Tuhan, Siapakah Jodohku?. Entah kapan dan lagi, saya mulai berpikir bagaimana rasanya menikah di usia muda.

***

Sungguh tidak mudah menjadi Alma dan Taqy. Keputusan menikah muda, usia 18 tahun adalah tindakan yang jarang sekali diambil oleh anak muda sekarang. Sayangnya, pernikahan mereka hanya berusia 3 bulan, berita beredar bahwa Alma telah meminta Taqy agar diceraikan.

Salmafina Sunan yang juga merupakan putri dari pengacara kondang Sunan Kalijaga menikah dengan seorang hafidz, Taqy Malik. Pernikahan tersebut berlangsung pada September lalu, rumor perpisahan mereka mencuat ke publik setelah Alma memposting curhat masalah rumah tangganya di sosial media.

Sumber foto : Instagram

Fakta baru bermunculan tatkala Alma (sapaan akrabnya) diundang menjadi tamu di acara KTALK Awkarin. Pada perbincangan tersebut, Alma membeberkan dan meluruskan berita yang sudah terlanjur tersebar di media sosial.

Alma yang juga teman dekat dari Awkarin ini menceritakan proses hijrah dan bagaimana kisah perjumpaannya dengan mahasiswa Al-Azhar, Taqy Malik. Alma mengaku memutuskan menyudahi dunia dugem dan memakai hijab karena mendapatkan hidayah dari Allah.

Setelah proses berhijrah itulah, Alma semakin bertekad untuk menikah muda. Perkenalannya dengan Taqy dimulai di instagram. Baik Taqy maupun Alma, keduanya merupakan selebgram. Alma merasa mantap menjatuhkan pilihan ke Taqy karena menurutnya Taqy adalah laki-laki yang sholeh.

Pada video bersama Awkarin tersebut, Alma kelihatannya tidak begitu blak-blakan. Jawabannya cenderung normatif, berbeda dengan unggahannya di instagram beberapa waktu lalu. Alma bahkan memuji Taqy sebagai pria yang baik dan saleh sangat berbeda dengan postingan-postingannya di instagram beberapa waktu lalu. Ia meminta kepada netizen untuk berhenti nyinyir dan agar didoakan pernikahan mereka baik-baik saja.

Namun fakta lain muncul dari keluarga Taqy Malik. Sang Ayah mengaku jika putranya telah menunjuk tiga pengacara untuk mengurus perceraiannya dengan Alma. Keduanya pun telah menghapus foto bersama dan foto pernikahan mereka di instagram.

***

Saya tiba-tiba nyeletuk “Hah, udah mau nikah aja? Perasaan baru kemarin kenalnya?” Teman saya ini rupanya mengikuti program taaruf di lembaganya. Taaruf adalah proses perkenalan yang lebih serius dengan tujuan menikah. Masing-masing peserta taaruf harus mengisi semacam form yang berisi butir-butir singkat tentang diri.

Seringkali saya menjumpai akhwat-akhwat (perempuan dipanggilnya akwat, laki-laki dipanggilnya ikhwan) di kampus UIN sewaktu kuliah dulu melalui proses taaruf. Lembagalah yang kemudian mempertemukan kedua belah pihak. Antara si ikhwan dan si akhwat.

Apabila mereka saling menerima  dan sepakat untuk melanjutkan setelah melalui taaruf tersebut. Maka selanjutnya terjadilah proses khitbah atau proses lamaran. Adapun proses taaruf tidak dilakukan oleh berdua saja. Melainkan harus melalui perantara dari yang ditunjuk langsung dari lembaga tersebut berikut dengan aturan-aturan syariahnya.

Sayangnya, teman saya pernah bercerita jika dirinya menemui beberapa kendala jika sudah berada di jalur keluarga. Waktu itu, teman saya hampir gagal melangsungkan pernikahan karena ayah dan kakaknya tidak setuju jika anaknya menikah di tahun itu. Padahal keduanya telalu melalui proses khitbah.

Dalam tahap ini saya kurang paham, mengapa keluarga tidak dilibatkan sejak awal? Mengapa justru yang menanganinya adalah lembaga?

Proses taaruf yang cenderung singkat, biasanya maksimal tiga bulan memang dianggap bagi sebagian orang tidak cukup untuk saling mengenal satu sama lain. Alma-Taqy bahkan memutuskan untuk menikah hanya dua minggu setelah menjalani proses taaruf.

Usia muda yang berapi-api membangun biduk rumah tangga dan harus menjalani hubungan jarak jauh. Ibarat telur yang diletakkan di atas meja datar, mudah menggelinding dan lalu pecah. Apalagi saat ini media sosial semakin mudah dijadikan tempat menyampaikan isi hati.

Seolah kesedihan yang kita dapatkan harus diketahui oleh orang sejagad maya, seolah kegembiraan yang kita punya tak cukup jika tidak di post di Instastory. Semuanya tampak begitu fana, tapi kita senang untuk merayakannya.

Meminjam kata-kata budayawan sufi, Candra Malik, “Seluas-luas media sosial memberi ruang bagi setiap penggunanya untuk memperkenalkan diri, kita takkan pernah cukup mengenalinya tanpa perjumpaan langsung. Cengkeraman dalam garis waktu, bukan sekedar dalam lini masa, itu perlu untuk saling mengenal.”

Kita patut mengambil pelajaran dari pernikahan singkat Alma-Taqy. Bahwa mereka berani menempuh keputusan menikah di usia muda adalah hal yang patut diapresiasi. Tetapi seandainya meyakinkan diri untuk mengikuti taaruf sejalan dengan sikap kebelet nikah mungkin telah saya dan banyak orang lakukan. Tapi perihal rumah tangga adalah hal yang sakral, melibatkan dua semesta yang berbeda.

Jika dalam buku John Gray Men are from Mars, Women are from Venus. Laki-laki dan perempuan berasal dari dua planet yang berbeda. Masing-masing  memiliki guanya sendiri, kesadaran  untuk mempersiapkan dengan baik dan sehat sebuah pernikahan harus menjadi perhatian ukhti-ukhti sekalian yang ingin nikah muda.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.