Locita

Ibu: Perempuan Pembentuk Laki-laki

Prakk! Pukulan datang menimpa betis, saya menangis sesengukan.

Dari ma sajo waang? Lah malam ari.” Ibu saya bertanya dimana saya bermain dan mengapa pulang terlambat.

Ya, sewaktu kecil saya sering berkeliaran hingga magrib. Padahal ibu sudah melarang berkali-kali. Karena melanggar, sebilah bambu, sekerat kayu, atau lebih pedihnya, sebatang lidi akan datang memerahkan kaki. Kalau kaki kiri saya sudah kesakitan, saya akan otomatis mengangkatnya, tentu saja kaki kanan yang kena hantaman.

Pernah juga suatu kali saya coba mengakalinya, supaya tidak kena pukulan karena pulang terlambat. Setiba dirumah, saya buru-buru mandi dan shalat magrib. Selepas shalat saya langsung mengaji, dan berlama-lama dalam lantunan ayat suci. Niatnya memang bukan ibadah, tetapi menghindari pukulan. Ketika itu saya pikir, tidak mungkin ibu akan memarahi anaknya sehabis mengaji. Dan berhasil, tapi sekali itu saja.

Bagi kids jaman now dan juga sebagian ibu mereka barangkali adalah hal yang aneh memukul anak. Paling hanya memarahi lewat hardikan dan ancaman dikurangi jajan. Tidak boleh memukul anak nanti dia akan kesakitan dan ada kemungkinan melawan setelah besar.

Akan halnya bagi saya, pukulan ibu itu memang dirindukan. Sebab itu membentuk jiwa disiplin dan perhitungan kemungkinan resiko yang akan diambil ketika suatu aturan dilanggar. Kalau tidak mendapat didikan seperti itu waktu kecil entah sudah berapa banyak aturan dan norma yang sudah diterobos. Dengan didikan seperti itu saja masih juga melanggar sesekali. Melanggar lampu merah, atau meminjam buku kawan dan tidak dikembalikan.

Sebagai bungsu dari 5 orang kakak beradik, hubungan saya dengan ibu cukup dalam walaupun tidak lama. Ketika lahir, kakak pertama yang berjarak 20 tahun dengan saya, sudah merantau ke Pulau Jawa. Masuk SD kakak keempat sudah di tinggal di ibukota Kabupaten untuk belajar di madrasah. Walhasil ibu fokus untuk membentuk kepribadian saya. Di antara hasilnya, dari semua bersaudara hanya saya yang memanggilnya dengan sebutan Mama.

Saya merasakan yang paling berpengaruh membentuk identitas saya sebagai laki-laki adalah ibu. Sedangkan ayah berperan dalam mengisi otak saya dengan doktrin membaca dan koleksi buku-bukunya.

Pengajaran ibu mulai dari urusan berpakaian hingga menghormati perempuan. Bahkan untuk bermain, alih-alih membelikan mobil-mobilan ibu malah mengajari cara main catur, sampai saya dikemudian hari mengalahkannya. Ketika itu ibu mungkin berpikir, catur adalah cara melatih berpikir strategis, sesuatu yang saya butuhkan untuk bertahan hidup sebagai laki-laki.

Begitu juga untuk urusan cerita, ibu tidak pernah berdongeng kecuali saya bertanya. Dia bercerita mengenai Napoleon Bonaparte, pemimpin Prancis masa lalu nan tersohor. Mengingat bekas pertahanan zaman perang masih tersisa di kebun samping rumah, ibu sering menceritakan kisah heroik. Para wanita dan anak-anak yang lari masuk lobang perlindungan, pamannya yang meninggal kena tembakan, sampai salah seorang warga kampung yang pincang akibat terkena mortir sewaktu mencari emak-nya.

Di tengah arus diskusi gender yang kuat hari ini, orang berpikir ibu saya begitu maskulin dalam mendidik anak. Tidak begitu. Ibu juga menugaskan saya mengurusi kegiatan domestik. Mencuci pakaian sendiri, membersihkan peralatan setelah makan, menyapu keliling rumah dan melenyapkan jaringan laba-laba di atap rumah. Aktivitas demikian adalah keseharian yang saya lalui semasa kecil.

Saya memaknai dari didikan ibu terhadap saya dalam konteks Insan Kamil. Seperti yang diutarakan oleh Ratna Megawangi dalam pengantarnya terhadap terjemahan The Tao of Islam karya Sachiko Murata. Bahwa dalam diri manusia itu terdapat kualitas Jalal (maskulin) dan Jamal (feminin) yang diberikan Tuhan. Ketika dua kualitas ini terjalin dengan baik maka di situlah manusia sempurna terbentuk yaitu Kamal.

Saya yakin ibu saya belum membaca buku itu. Namun, dalam mengemban tugasnya sebagai seorang ibu, dia telah berperan dalam memberikan pemahaman arti gender secara proporsional terhadap diri saya. Makna laki-laki ksatria, pejuang, dan juga bertanggung jawab dia berikan lewat cerita-ceritanya. Memahami beratnya tugas seorang perempuan dalam tanggung jawabnya sebagai istri dan juga ibu dia berikan lewat tugas domestik yang didelegasikan kepada saya.

Terkait ini, saya yang belakangan menjadi mahasiswa Psikologi memahami konteks Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT) dari perspektif pembentukan identitas gender ini.  Salah satu alasan mengapa orang menjadi LGBT adalah efek dari absurditas identitasnya sewaktu kecil. Aspek maskulin dan feminin dalam kepribadian mereka tidak terdiferensiasi dengan baik.

Ini juga alasan mengapa saya tidak menyerang kelompok yang masuk dalam kategori itu. Mereka tidak patut untuk dicela, sebab pengalaman hidup yang dijalaninya berbeda. Hal yang harus dilakukan adalah menyokong mereka untuk mengembalikan identitas gender sesuai dengan jenis kelaminnya. Dan beberapa orang sudah berhasil dalam hal ini.

Di sinilah arti penting seorang ibu patut direfleksikan. Dalam masyarakat dimana ibu menjadi pendidik utama anak, karena ayah sibuk bekerja, perannya sangat signifikan. Memahami dan berperan sesuai dengan jenis kelamin anak merupakan faktor penentu identitas gender seorang anak di kemudian hari.

Dan saya sangat bersyukur kepada Tuhan ibu saya telah melakukannya dengan baik. Terima kasih dan selamat untukmu Ibu.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.