Locita

Pendidikan, Cita-cita, dan 3 Hal Penting Tentangnya

Education background Vector illustration in trendy gradient colors

Pendidikan adalah penting dan kunci menuju cita-cita bagi banyak orang. Tetapi, pendidikan tidak bekerja sendiri. Setidak-tidaknya ada tiga faktor yang tidak dapat disepelekan.

Pendidikan, Cita-cita, dan 3 Hal Penting Tentangnya

Pendidikan adalah kunci. Tetapi pendidikan tidak bekerja dengan sendirinya. Setidak-tidaknya demikianlah kepercayaan saya.

Bahwa saya –seorang yang dari kampung paling pelosok di Sinjai kemudian melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright, salah satu beasiswa prestisius itu—tidak serta merta membuat saya seenak perut mengatakan bahwa “semuanya punya peluang sama”. Penekanannya adalah pada kata sama.

Saya tidak menyukai mereka –para motivator itu yang selalu berseru-seru—bahwa semuanya dilahirkan dalam keadaan sama. Saya tidak nyaman ketika disebut motivator. Inspirator. Atau sebutan-sebutan serupanya. Saya tidak pernah berharap seperti demikian. Lebih tepatnya, sebutan-sebutan itu terlampau tinggi buat saya.

Pendapat saya ini memang ada kaitannya dengan kemuakan kepada para motivator yang selalu menjual kemiskinan untuk membuat penggemarnya terpukau. Dengan bualan kata-kata membuai pendengarnya, membuatnya seperti melayang-layang di udara. Sementara ukuran kesuksesan sendiri selalu ditunjukkan dengan mobil mewah atau badan yang kekar seperti atlet binaragawan. Dan di dalamnya kata-katanya membuai membuat pendengar atau penontonnya terbuai seolah semuanya bisa dilakukan dengan kata-kata motivasi.

Faktor-faktor atau struktur-struktur sosial tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan. Dengan cara apapun kita mengartikan keberhasilan.

Saya menyadari bahwa pencapaian saya sampai pada titik melanjutkan studi di luar negeri adalah sebuah bentuk prestasi. Setidak-tidaknya buat saya sendiri.

Pendidikan adalah kata kunci. Tetapi ia tidak cukup. Sama tidak cukupnya jika saya hanya bermodalkan kata-kata motivasi. Tidak cukup hanya menulis di dinding atau pintu kamar kata-kata motivasi. Saya tidak ingin melebih-lebihkan tetapi juga tidak ingin menyederhanakan.

Ada tiga hal yang tidak bisa disepelekan saat membincangkan keberhasilan mencapai cita-cita. Ketiga hal ini menyediakan fasilitas. Kendaraan yang menentukan seberapa cepat seberapa lambat seorang anak mencapai cita-citanya.

Modal sosial

Setiap anak lahir dari keluarga dan lingkungan yang berbeda. Masa depannya tidak bisa dilepaskan dari kedua struktur sosial tersebut. Orang-orang di lingkungan tersebut akan menentukan input yang diterima anak. Sikap, perilaku, dan wawasan yang diberikan tergantung dengan posisi dan status mereka, tergantung dari nilai-nilai yang mereka percaya, tak lepas dari tingkat pendidikan, pekerjaan, dan status sosialnya. Struktur-struktur ini berpengaruh. Entah diakui atau tidak. Disadari atau tidak.

Anak yang lahir dari keluarga terpandang dan kaya atau ekonominya stabil, ia selangkah lebih maju –jika diumpamakan garis start berlari– dengan anak yang lahir dari keluarga ekonomi miskin. Seorang anak yang lahir dengan kedua orang tua yang masih hidup berbeda dengan anak yang lahir dengan salah satu atau bahkan kedua orang tuanya telah tiada. Seorang yang lahir dengan orang tua atau keluarga berpandangan moderat dan progresif berbeda dengan orang tua atau keluarga yang berpandangan tradisional. Kita belum mendaftar struktur atau faktor sosial lainnya.

Akses

Faktor ini terkait dengan modal sosial. Semakin tinggi atau besar modal sosial yang dimiliki maka akses yang dimiliki juga semakin terbuka lebar.

Kalau keluarga adalah keluarga terpandang, kaya dan mungkin adalah tokoh, maka ia memiliki akses informasi, jejaring atau koneksi. Jika ia tinggal di kota atau pada sekolah yang bagus, maka alur dan aliran informasi akan lebih bagus dibandingkan sekolah di ujung kampung.  

Akses informasi dan jejaring ini adalah dua hal penting. Bukankah seringkali kita tidak tahu informasi penting pendaftaran misalnya karena akses informasi yang terbatas? Bukankah seringkali kita tidak lolos pada pendaftaran tertentu karena akses jaringan atau koneksi yang terbatas?

Selain berbicara soal prestasi, misalnya, mau secemerlang apapun prestasinya, kalau tidak diback up oleh ‘orang dalam’, maka sulit akan masuk mengajar di kampus tertentu atau mungkin mudah mengajar tetapi tenaganya sekadar dipakai. Namun, kinerjanya tidak dihargai dalam bentuk kejelasan jenjang karir. Memang tidak selalu begitu, namun adalah realitasnya dalam banyak hal yang lain.

Tentu akses ini tidak melulu menyoal ‘orang dalam’ tetapi akses terhadap informasi. Dalam beberapa hal, akses ‘orang dalam’ mungkin bisa dipinggirkan seiring dengan makin transparansinya perekrutan tenaga kerja. Tetapi akses informasi menjadi tak kalah penting, termasuk media-media menjadi penyambung alur informasi tersebut. Media-media bisa jadi sangat berpengaruh dan tergantung pada tempatnya. Akses informasi di kota berbeda besarnya ketika di kampung yang listriknya saja sering seperti lampu disko. Mati hidup. Hidup mati.

Supporting System

Modal sosial dan akses adalah dua hal yang menentukan supporting system. Lingkungan dan faktor-faktor yang mendukung untuk maju. Semakin baik modal sosial dan akses informasi yang dimiliki maka peluang supporting system ini juga semakin besar.

Anak yang terlahir dari keluarga berpendidikan, berkecukupan dan punya akses luas memiliki peluang keberhasilan mewujudukan cita-citanya lebih besar daripada keluarga tidak berpendidikan, berpandangan tertutup dan kekurangan.

Meskipun hubungan modal sosial dan akses dengan supporting system tidak selalu segaris lurus. Bisa jadi orang tuanya berkecukupan tetapi memiliki nilai-nilai yang bertentangan dengan cita-cita anaknya. Atau bisa jadi aksesnya luas tetapi tidak digunakan atau malah disalah gunakan.

Tiga hal yang dalam perjalanan saya pada mulanya tidak saya miliki. Keluarga saya adalah keluarga biasa. Sangat biasa. Bukan orang terpandang. Juga bukan orang terdidik. Terlahir di kampung yang tidak memiliki akses listrik dengan hanya jalan setapak. Pun orang tua yang tidak berpandangan progresif dan tidak begitu mendukung tentang pendidikan. Saya memiliki semua syarat untuk pesimis. Sebuah hal yang memang sering menghinggapi saya.

Saya bisa menduga jika seandainya saya tidak merantau di kelas empat SD ke kota. Saya mungkin sudah akan ada di sawah bergelut dengan sapi membajak sawah. Saya tidak sedang mengatakan bahwa menjadi petani itu buruk tetapi barangkali saya hanya akan mengulang siklus kehidupan keluarga saya. Tidak banyak kemajuan, terutama dalam hal berpikir.

Perantauan memungkinkan saya untuk mendapatkan akses informasi dan supporting system yang baik. Saya bisa mendapatkan banyak informasi dengan akses bacaan di perpustakaan sekolah, rumah tempat saya menumpang, tivi dan koran-koran pinggir jalan. Saya memiliki supporting system yang baik di sekolah karena berada di sekolah yang dilengkapi fasilitas lengkap. Teman-teman kelas yang haus kompetisi dan selalu menampilkan yang terbaik. Di kemudian hari, kenyataan ini mendorong saya untuk bergerak maju.

Akhirnya, modal sosial itu perlahan-lahan saya miliki sebagai orang terdidik dan status sosial yang lebih tinggi dalam masyarakat yang di kemudian hari pada gilirannya akan menjadi poin penting bagi anak-anak saya, semisalnya saya telah berkeluarga. Pada akhirnya, ada banyak hal yang menentukan seberapa besar pendidikan berpengaruh.

Semua anak memiliki peluang, tetapi besar kecilnya tidak dapat dilepaskan dari modal sosial, akses, dan supporting system. Tiga di antaranya telah saya sebutkan.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Add comment

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.