Locita

Pekerja Penting dan Pekerja Tidak Penting di Tengah Pendemi

Ilustrasi-petugas-kebersihan-Kota-Cimahi

Jika pekerja penting meninggalkan kerjanya, tidak akan ada yang menjaga toko, tidak ada yang mengantar barang-barang, tidak ada yang memproduksi makanan, sabun, air minum, sampah akan menumpuk di pinggir jalan karena tidak ada yang mengangkutnya.

Akibat pandemi Covid-19 yang semakin meluas, ekonomi global dan domestik menghadapi krisis, pabrik-pabrik ditutup, kantor-kantor diliburkan, tempat-tempat berkumpul dikosongkan, dan masyarakat diminta untuk diam di rumah, masih banyak barisan pekerja yang tidak bisa berhenti bekerja. Selain tenaga medis yang menjadi garda terdepan untuk memerangi wabah, ada juga para pekerja yang bekerja untuk membuat kehidupan masyarakat terus berputar.

Para pekerja yang tetap harus bekerja ini dianggap sebagai essenial workers atau ‘pekerja penting’.  Para pekerja ini disebut penting karena menopang kehidupan masyarakat (life-sustaining). Singkatnya, jika pekerja penting ini berhenti bekerja, maka kehidupan masyarakat akan terhenti. Berhenti hidup artinya mati.

Menariknya, para pekerja penting yang menopang kehidupan masyarakat justru adalah para pekerja bergaji atau berpenghasilan rendah. Mereka adalah petani, supir, pengolah makanan, kasir, petugas kebersihan, pengangkut sampah, kurir, dan pekerja pabrik yang memproduksi barang-barang penting. Sementara pekerja tidak penting (non-essential workers) adalah para bankir, CEO, pekerja kantoran, yang justru bergaji tinggi. Mereka yang tidak penting dapat diliburkan atau bekerja dari rumah dengan lebih mudah.

Bukankah lucu apabila dalam hukum ekonomi kita pekerja yang paling penting malah berpenghasilan paling kecil? Apa yang menjadi tolok ukur penghasilan itu memang bukan dari tingkat ke-‘penting’-annya, bukan dari tinkat ke-menopang-annya bagi kehdupan masyarakat?

Untuk memberi gambaran, mari kita membayangkan bagaimana jadinya dunia ini, jika ‘pekerja penting’ dan ‘pekerja tidak penting’ itu mogok kerja secara bergiliran. Jika pekerja penting meninggalkan kerjanya, tidak akan ada yang menjaga toko, tidak ada yang mengantar suplai barang-barang, tidak ada yang memproduksi makanan, sabun, air minum, dan sampah akan menumpuk di pinggir jalan karena tidak ada yang mengangkutnya. Kota-kota lumpuh dan orang-orang akan keluar rumah untuk menjarah apa saja yang bisa dimakan. Kekacauan luar biasa akan melanda.

Lalu, bagaimana jika para manajer, CEO, bankir, pemilik perusahaan, pemilik saham (kalau ini memang sama sekali tidak bekerja), pemilik properti, berhenti bekerja? Mungkin akan terjadi improvisasi di masyarakat, tetapi kehidupan tetap berjalan. Setidaknya, jelas tidak akan sekacau apabila petani berhenti bekerja.

Mereka yang selama ini disebut ‘pekerja tidak terampil’ justru sebetulnya mengisi posisi yang paling penting dalam perputaran kehidupan masyarakat. Namun jangankan mendapat reputasi terhormat, selama ini mereka sering kali berada dalam kondisi hidup yang memprihatinkan: tidak mampu menguliahkan anaknya, tidak mampu membeli barang-barang bagus, tidak bisa pergi liburan yang macam-macam, dihantui tagihan kontrakan, cicilan motor, ketiadaan jaminan kesehatan, dan sederet masalah lain yang biasa kita jumpai pada pekerja-pekerja berpenghasilan rendah. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa pekerja tidak terampil tersebut merupakan bagian dari orang-orang miskin (lupakan dulu data BPS yang tidak kompatibel mengenai tolok ukur kemiskinan).

Belum lagi para pekerja berpenghasilan rendah yang termasuk orang miskin itu sering menerima siksaan kultural, seperti misalnya stigma “kurang berpendidikan” dari masyarakat yang menempatkan mereka sebagai pihak yang seringkali disalahkan atas berbagai masalah sosial.

Sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari bagaimana contohnya orang-orang berpenghasilan rendah disalahkan atas masalah sosial. Misalnya ketika ada keluarga miskin yang mengeluh tidak dapat membelikan susu untuk anaknya, maka orangtuanya disalahkan karena sudah berani berketurunan padahal tidak mampu secara ekonomi. Dengan begitu artinya hanya orang kaya sajalah yang boleh punya anak! Alih-alih menuntut pemerintah untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam memberantas kemiskinan, orang-orang miskin malah disalahkan atas kemiskinannya sendiri, dan pemerintah terbantu untuk bebas dari tanggung jawabnya!

Hal seperti di atas bisa juga kita perhatikan dari terkenalnya kutipan Bill Gates berikut ini: “If you are born poor it’s not your mistake, but if you die poor it’s your mistake.” Begitulah bagaimana orang menganggap kemiskinan sebagai kesalahan pribadi, lepas dari penyebab strukturalnya. Lupa siapa yang membuatkan masyarakat makanan dari awal makanan itu ditanam, siapa yang menjahitkan pakaiannya, dan siapa yang memasangkan batu bata untuk membangun rumahnya.

Merebaknya pandemi Covid-19 sekarang ini memberi para pekerja penting itu panggung untuk memperlihatkan bahwa sebetulnya mereka memang penting, dan karenanya berhak atas kehidupan yang layak, selayaknya para pekerja tidak penting yang kini sedang menikmati empuknya kasur di rumah milik sendiri tanpa kekurangan makanan walaupun tidak pernah menanam apapun.

Selama ini, jika dihitung terus selama sejarah berlangsung, sebetulnya para pekerja penting itu sudah menghasilkan nilai yang sangat besar, nilai yang bisa menghidupi masyarakat. Namun nilai itu tidak pernah kembali kepada mereka, terbukti dengan kualitas hidup mereka yang tidak sebanding dengan apa yang sudah dikontribusikannya pada masyarakat. Kemanakah nilai itu larinya? Siapa yang mencuri nilai-nilai itu sehingga kualitas hidupnya bisa sangat baik walaupun kontribusinya pada masyarakat itu sangat rendah, dan ‘tidak penting’? Hal-hal yang mendesak seperti ini harus segera dijawab negara dan pemerintahnya.

Seharusnya bukan hal yang aneh apabila para petani, supir, pengolah makanan, kasir, petugas kebersihan, pengangkut sampah, kurir, dan pekerja pabrik berhak atas rumah yang layak, fasilitas teknologi yang layak, jaminan pendidikan tinggi bagi anak-anaknya, jaminan kesehatan dari penyakit apapun bagi seluruh anggota keluarganya.

Tugas negara dan pemerintahnyalah yang menjamin kualitas hidup para pekerja penting. Jika pemerintahan ini tidak mampu mewujudkannya, maka harus diganti dengan pemerintahan yang bisa. Jika bentuk negara dan konstitusi seperti ini tidak bisa mewujudkannya, maka harus diganti dengan bentuk negara dan konstitusi yang bisa mewujudkannya.

Para pekerja penting itu sangat bisa mewujudkannya dengan tangan sendiri apabila bersatu dan berorganisasi dengan efektif, karena jika satu hari saja mereka mogok secara serentak, maka kehidupan akan kacau balau dan segala yang mapan akan runtuh. Barangkali itulah mengapa para pemilik kekayaan yang besar itu bersedia mensponsori politikus untuk menduduki kursi kekuasaan negara, yang kemudian mengerahkan perangkat-perangkatnya untuk membubarkan dan mendiskreditkan kegiatan atau diskusi dalam usaha mempersatukan kekuatan para pekerja tersebut.

Luqman Hakim

Mochamad Luqman Hakim

Alumni Sastra Rusia Unpad, anggota GMNI, bekerja sebagai media analyst di Jakarta.

Add comment

Tentang Penulis

Luqman Hakim

Mochamad Luqman Hakim

Alumni Sastra Rusia Unpad, anggota GMNI, bekerja sebagai media analyst di Jakarta.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.