Locita

Pabbicara Butta, Sang Pecinta & Penggenggam Pengetahuan

Teaser Karaeng Pattingalloang [foto: screenshot youtube.com]

Pattingalloang adalah sosok yang agung mencinta ilmu pengetahuan dari eropa hingga belahan dunia.

Seorang lelaki dengan badan agak membungkuk berjalan menyusuri jalanan. Dari balik cahaya yang hanya menampakkan siluet badannya. Lelaki dengan tubuh yang kokoh ini mengeluarkan suara dengan agak berat.

“Lima pammajenganna matena butta lompoa. Punna tenamo naero nipakainga Karaeng Manggauka”, Punna tenamo tumangngaseng ri lalang pa’ rasangnga, Punna tenamo gau lampo ri lalang pa’ rasangnga, Punna angngallengasemmi’ soso’ pabbicaraya. Punna tenamo nakamaseyangi atanna Manggauka,”

Deskripsi tersebut merupakan beberapa cuplikan adegan dari sebuah film bergenre sejarah kekuasaan di Makassar masa lampau. Film yang berjudul “Butta Bicara” ini merupakan film sejarah tentang tokoh Karaeng Pattingalloang yang merupakan cendekiawan kerajaan Gowa pada masa lampau.

Film yang rencananya akan diputar perdana di pagelaran Makassar International Writers Festival (MIWF) 2015 ini dibuka dengan adegan seorang ibu yang bercerita kepada anaknya tentang pesan Karaeng Pattingalloang tersebut. Seolah memberitahu kepada penonton tentang falsafah hidup seorang pemimpin yang dilontarkan Karaeng Pattingalloang. Film yang berlatar pada abad ke-16 ini menceritakan tentang kehidupan cendekiawan tersebut di masa keemasan kerajaan Makassar (Gowa-Tallo) yang berkibar terang benderang melintasi eropa bahkan dunia.

Karaeng Pattingalloang yang memiliki nama lengkap I Mangngadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud Tuminanga Ri Bontobiraeng adalah perdana mentri kerajaan Gowa pada tahun 1639-1654. Ia mendampingi raja Gowa XV, I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Ujung Karaeng Lakiung Sultan Malikussaid (Muhammad Said) Tuminanga Ri Papambatunna yang hidup pada 1639 hingga 1653.

Film ini mengisahkan kehidupan seorang Karaeng Pattingalloang saat dia mulai beranjak dewasa hingga menjadi pelopor peradaban kerajaan dengan berbagai pemikirannya menjalankan pemerintahan dan pertahanan kerajaan Gowa. Dikisahkan pada film yang disutradarai oleh Andi Burhamzah bekerjasama dengan rumah produksi Timur Picture ini. Karaeng Pattingalloang merupakan seorang intelektual Kerajaan Gowa yang setia mengabdi hingga akhir hayatnya demi ilmu pengetahuan. Selain sebagai perdana mentri ia juga dipercaya menjadi juru bicara kerajaan karena cakrawala pemikirannya yang luas. Dia menguasai tujuh bahasa asing.

Di istana Maccini Sombala dan Somba Opu, Karaeng Pattingalloang memiliki ruang belajar yang sangat luas. Sang Perdana Menteri kerap menerima sejumlah tamu asing, bercakap dan berdebat di ruang tersebut. Pastor Alexander de Rhodes pencipta transkripsi huruf Latin untuk bahasa Vietnam, salah satu di antara tamunya.

Dalam satu riwayat oleh misionaris katolik itu, ia mengaku kerap berdisusi tentang banyak hal, dari gerhana bulan hingga ke karya bruder Spanyol ordo Dominikan, Luis de Granada. Karaeng Pattingalloang menurutnya sosok yang sangat tertarik pada akustik dan hukum-hukum penjalaran gelombang suara. Di kamar yang menjadi perpustkaan pribadinya itu pula Rhodes menemukan sejumlah prisma segitiga yang memungkinkan dekomposisi cahaya, buku fisika dan matematika, bola dunia dan berbagai atlas dunia yang menjabarkan tentang ilmu pengetahuan oleh penduduk benua-benua dari Eropa hingga benua baru, Amerika.

Kegemarannya pada ilmu pengetahuan dapat dirasakan dari sajak-sajak yang dibuat oleh pengarang terkenal eropa, Vondel. Sebagai sebuah bentuk persahabatan, sastrawan eropa kelahiran Jerman ini menggambarkannya pada sajak yang berjudul Volledige Dichtwerken.

Dien Aardkloot zend ‘t Oostindische huis
Den grooten Pantagoule t’huis,
Wiens aldoorsnuffelende brein,
Een gansche wereld valt te klein.
Men wensche dat zijn scepter wass’,
Bereyke d’eene en d’andere as,
En eer het slyten van de tyd
Dit koper dan ons vriendschap slyt.

“Bola dunia itu, Perusahaan Hindia Timur
Mengirimkannya ke istana Pattingalloang Agung
Yang otaknya menyelidik ke mana-mana
Menganggap dunia seutuhnya terlalu kecil.
Kami berharap tongkat kekuasaannya memanjang
Dan mencapai kutub yang satu dan yang lain
Agar keusuran waktu hanya melapukkan
Tembaga itu, bukan persahabatan kita.”

Tercatat melalui literatur yang ditulis oleh Nirwan Ahmad Arsuka melalui blognya. Pada masa Karaeng Pattingalloang-lah meriam yang dipakai untuk bertempur melawan kolonial dibuat. Naskah keahlian membuat meriam yang ditulis dalam bahasa Spanyol oleh Andreas Monyona. Diterjemahkan dan diringkas ke dalam bahasa Makassar sejak 1635 atas perintahnya, selain itu di masanya pula memuncaknya kegiatan penerjemahan serangkaian risalah teknologi Eropa ke bahasa Nusantara.

Konon Tak ada negeri lain di wilayah yang kini bernama Indonesia yang melakukan penerjemahan sesistematis itu. Naskah-naskah pembuatan meriam, pabrikasi bubuk mesiu dan senjata diterjemahkan dari bahasa Spanyol, Portugis dan Turki.

Menurut sutradara film, Andi Burhamzah, film yang rencananya berdurasi 8 menit ini berfokus pada lima hal yang dipesankan oleh karaeng pattingalloang. “Makassar pernah jaya di masa lampau kalau Karaeng Pattingalloang berkuasa. Makanya film ini fokus pada lima pesan Karaeng Pattingalloang. Kalau memang pemimpin mau pasti negeri ini bisa maju,” jelas Hamza panggilan akrabnya, saat ditemui di Hotel Sahid, Sabtu (16/5).

Dalam film yang memerlukan riset selama tiga bulan lamanya ini. Hamzah mesti berdiskusi dengan sejarawan kota Makassar, peneliti soal Makassar dan mendatangi berbagai peninggalan Karaeng Pattingalloang. “agak sulit menemukan jejak yang lebih dalam sebab hampir tidak ditemukan peninggalan karaeng Pattingalloang,” terang sutradara yang juga menjabat sebagai asisten sutradara Riri Riza untuk sebuah proyek film di Makassar.

Latar belakang pembuatan film yang bekerjasama dengan Rumata’ Art Space ini menurut Hamzah adalah untuk memperkenalkan sosok manusia Makassar yang memiliki tingkat kecgemaran kepada ilmu pengetahuan yang tinggi dan kecintaaannya pada buku serta penemuan-penemuan Barat masa itu.

“Kenapa Karaeng Pattingalloang karena penting sekali mengangkat sosok yang pernah membangkitkan makassar dulu, banyak sekali yang tidak tahu siapa dia dan medium film menurutku hal paling mudah orang untuk memperkenalkannya,” tambah Hamzah.

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.