Locita

Kolonialisme dan Ritus Sarapan Kita

Ilustrasi: petani menjalani aktifitas sarapan di pematang sawah [foto: ciamis.info]

Di subuh hari, saat embun belum terbangun dari kaca jendela kamarku. Aku telah mendengar suara tumisan Ibu di dapur. Aroma masakan yang kian mengantarkanku ke dapur untuk sarapan dengan mata yang masih belum terbuka sepenuhnya. Sejak aku Sekolah Dasar (SD), ritual makan pagi (sarapan) menjadi sebuah kewajiban. Orangtua akan lekas memarahiku jika tidak mengisi perut dengan nasi.

Beranjak kuliah, sarapan menjadi remah-remah dari aktivitas mengisi perut. Tidak ada lagi suara tumisan Ibu, tidak ada lagi kemesraan yang kami rangkul saat duduk bersama keluarga di lantai sarapan. Jadwal kuliah yang berganti hampir setiap hari membuatku bisa sarapan di mana dan kapanpun. Sarapan bisa aku lakukan pukul 10.00 atau pukul 13.00. Di rumah, di kampus atau di atas motor.

Kini, klaim kesehatan mendorong kita untuk tetap menekuni pola hidup sehat dengan sarapan. Hal itu dituangkan melalui kampanye oleh beragam produk makanan instan yang menyediakan dirinya sebagai menu sarapan yang sehat. Seperti kampanye dari salah satu produk minuman bersereal yang kita kenal dengan gerakannya, “Gerakan Nasional Sarapan Sebelum Jam 9”.

“Sarapan sehat sebagai salah satu dimensi gizi seimbang dalam rangka turut mewujudkan generasi sehat berprestasi…”. Kalimat itu yang seringkali didengungkan oleh klaim-klaim kesehatan pada beberapa Gerakan Sarapan Nasional yang mengundang artis-artis berikut dengan aksi jalan santai yang diiukuti ratusan orang sambil sarapan dengan menu sarapan dari produk perusahaan yang menyelenggarakan gerakan tersebut.

Salah satu restoran cepat saji dengan menu ala barat juga mulai mencanangkan program sarapan sehat. “Sarapan, Awal Baik untuk Memulai Hari”. Begitu judul besar pada beberapa iklan yang dipasang di salah satu koran nasional. Restoran cepat saji ini menawarkan beragam pilihan menu yang ekonomis, praktis serta tanpa melalui proses pemesanan yang ruwet. Prosedur pemesanan yang bisa dilakukan dimana saja. Baik itu dengan mendatangi gerai, via telepon, atau on-line.

Manusia urban tidak perlu berdesak-desakan lagi di pasar untuk membeli bahan memasak seperti yang pernah dilakoni oleh Ibu dan Nenek saya dulu. Jika mereka lupa membeli garam, mereka akan meminta kepada tetangga melalui pintu belakang, dapur. Mereka sering berbagi makanan. Memetik daun kelor untuk sayur.

Seperti di kampungku, Sinjai Sulawesi Selatan, tetanggaku mempunyai pohon belimbing yang rimbun. Jika ingin membuat sambal, aku bisa langsung memetiknya. Keramahan dan kekayaan ekologi bersahaja ini mulai memudar. Bahkan jika itu di desa sekalipun. Kafe-kafe dan restoran cepat saji mulai tumbuh bak cawan yang begitu subur. Memenuhi ritus perkampungan apalagi kota.

Sarapan bisa dilakukan di mana saja, di dalam mobil, di atas motor, bus, maupun di jalan. Kita tidak perlu direpotkan oleh beragam peristiwa untuk memulai sarapan. Segala kemudahan dirapalkan bagi siapa saja yang sibuk namun tetap harus mengikuti aturan pola sehat oleh iklan.

Padahal, Michael Pollan dalam bukunya yang berjudul Food Rules (2009) menyinggung dengan sangat keras melalui kata-kata “ Bukanlah makanan jika itu berasal dari jendela mobil anda” dan “Jangan menelan makanan yang dibuat di tempat-tempat semua orang harus memakai topi bedah”.

Polarisasi Menu Sarapan

Dalam buku Rijstafel (2011) karya Fadly Rahman dideskripkan jika selain China, Barat memberikan kontribusi yang cukup besar dalam membentuk wajah kuliner Indonesia.

“Hal itu tidak bisa dilepaskan dari jejak kolonialisme bangsa Eropa di Indonesia sejak abad ke-16 hingga paruh utama abad ke-20. Riwayat politik sosial, dan ekonomi. Kolonial memang telah lama berakhir tapi tidak demikian dengan nilai-nilai budayanya. Bagian ini sulit dihapuskan karena sudah menyatu menjadi kebiasaan kolektif masyarakat, sebagaimana tampak dalam wajah kuliner Indonesia. Sebagai contoh, gaya prasmanan sebagai gaya penyajian makanan yang sangat lumrah bagi masyarakat Indonesia saat ini. Sebenarnya merupakan gaya Eropa yang menggantikan kebiasaan makan pribumi yang duduk berlesehan di lantai.”

Gesekan tersebut membuat kita meninggalkan ritual makan bersama keluarga dengan sejumput kebiasaan-kebiasaan masyarakat nusantara. Ritual makan masyarakat nusantara banyak dibumbui oleh ritus dan kebiasaan yang beradat. Sudah berabad lamanya. Makan menempati tingkat spiritual yang tinggi.

Tidak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan pangan. Makanan adalah produk semesta yang berasal dari tanah. Tanah yang menyerap sari pati kehidupan makhluk hidup. Selain itu menu sarapan yang kita imani sekarang pun telah terpolarisasi oleh iklan maupun klaim kesehatan. Kita akan dihadapkan pada dua menu besar. Makanan berat dan makanan ringan. Makanan ringan misalnya dengan roti, susu, dan sereal. Sedangkan makanan berat dengan nasi goreng, atau bubur.

Seberapa pentingkah menu sarapan kita? Saat ini, kita tentu lebih memercayai apa yang digaungkan oleh dokter ataupun klaim kesehatan. Sebab kita lebih membutuhkan gizi, dan bukan makanan. Dulu, nenek moyang kita belum mengenal dokter, televisi, dan klaim kesehatan yang menyerukan keseimbangan gizi.

Ada pepatah Cina yang memberikan kita kebijaksanaan tentang makanan. “Memakan yang berdiri dengan satu kaki (jamur dan tumbuh-tumbuhan) lebih baik daripada memakan yang berdiri di atas dua kaki (unggas), yang juga lebih baik daripada memakan yang berdiri dengan empat kaki (sapi, babi, kambing, dan mamalia lain)”.

Jika itu di nusantara, maka pepatah tersebut bisa dilengkapi dengan “dan yang lebih baik dari satu kaki adalah memakan yang tanpa kaki (ikan)”.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.