Locita

Inovasi Paperless Selamatkan Dunia

ilustrasi oleh sor.org

Teknologi terus berkembang dengan gilang gemilang. Hadir satu per satu menjadi solusi pelbagai masalah manusia yang kian kompleks. Salah satu produk teknologi yang nyaris telah menjelma menjadi kebutuhan primer setara makanan pokok adalah internet, terutama dalam dunia akademik. Berbagai aplikasi diciptakan, dikembangkan dan didayakan untuk menunjang tuntutan akademik. Penggunaan email dan sosial media untuk korespondensasi misalnya dan seterusnya.

Sayang, tak semua di antara para dosen memanfaatkan kemajuan ini, kalau tidak mau disebut ketinggalan. Jumlah dosen kudet (kurang up date) masih ada yang justru menjauhi teknologi, yang juga berarti menghindari kemudahan, efisiensi, dan efektifitas. Dalam banyak kasus misalnya, teknologi tidak menjadi bagian solusi tetapi masalah tanpa menyadari cara mereka sendiri adalah masalah.

Kita masih akan dengan mudah menjumpai mahasiswa yang menenteng mesin ketik manual berkilo-kilo, bergerombol di sudut-sudut ruangan mengetik dengan kertas karbon laporan-laporan mereka yang bertumpuk-tumpuk. Mengetik dengan mesin ketik bukanlah perkara mudah. Kesalahan tidak dapat dengan mudah dihapus dengan tombol-tombol tertentu sebab prinsip pengetikan manual adalah dapat diulang tetapi tidak dapat diperbaiki.

Kesalahan pengetikan barang satu dua huruf saja sudah cukup memaksa mahasiswa kembali mengulangnya dengan kertas baru. Sebab jika tidak, para asisten dosen yang sering kali tampak lebih mengerikan dari preman itu dengan seenak perut mencorat-coretnya. Tak jarang pula disobek-sobek tanpa ampun. Bukan sekali tapi bisa dua tiga kali bahkan berkali-kali.

Seumpama seorang mahasiswa menghabiskan 5 rim kertas per semester, maka akan habis 100 rim kertas untuk 20 mahasiswa satu kelas atau sekira ada 5.000 lembar kertas. Jika terdapat 3 kelas maka 300 rim atau 15.000 lembar per kelas. Sekiranya harga per rim adalah Rp. 25.000 maka satu jurusan dapat mencapai pengeluaran Rp. 7.500.000. Fantastis! Sebuah nominal yang sudah cukup menafkahi hidup seorang mahasiswa selama satu semester.

Jumlah tersebut belum termasuk dengan makalah, draft proposal, laporan KKN, dan skripsi yang harus diprint beberapa rangkap. Ribuan pohon bahkan jutaan harus ditebang untuk memenuhi kebutuhan kertas tersebut. Dan kemanakah laporan, makalah, laporan KKN atau skripsi tersebut? Ditumpuk sampai berdebu atau berakhir di tempat sampah. Beruntung jika dosen masih sempat membaca seluruhnya. Atau sekedar formalitas dikumpulkan lalu dilopakkan karena hanya menyumpekkan ruangan saja.

Mengapa laporan-laporan, biasanya dari jurusan eksakta atau teknik seperti biologi dan teknik pertambangan, mesti diketik dengan mesin ketik manual dengan beratus-ratus lembar? Atau mengapa tugas-tugas mesti dtulis tangan? Jawabannya karena agar mahasiswa tidak mengcopy paste. Maka apakah dengan begitu, ada jaminan jika mahasiswa tidak sekedar menyalin jawaban temannya yang lain? Alasan yang lain sebab dosen lebih senang dan lebih terbiasa dengan laporan terketik atau terprint. Jadi alasannya soal perasaan lebih senang atau tidak, lebih terbiasa atau tidak.

Aplikasi
Nampaknya dengan kemajuan aplikasi terkini, agak sulit menerima argumen agar mahasiswa tidak copy paste atau sekedar menyalin. Dosen atau asistennya dapat memanfaatkan aplikasi untuk mendeteksi kadar plagiat mahasiswa. Kini, terdapat berbagai aplikasi yang dapat dipakai untuk mengetahui keotentikan sebuah tulisan.

Tentu, dibutuhkan kesadaran dan kesediaan dosen-dosen yang telah ketinggalan kereta amat jauh ini untuk belajar kembali. Bukan justru keukeuh dan gengsian dengan alasan yang tidak dapat diterima secara akademik. Apalagi dengan alasan lebih senang atau lebih terbiasa. Apapun yang lebih terbiasa awalnya juga tidak terbiasa bukan?

Pihak universitas dapat menyediakan pelatihan atau training untuk memelekkan dosen-dosennya yang cenderung menyusahkan daripada memudahkan. Yang cenderung memusuhi teknologi daripada menjadikannya partner.

Kita tidak dapat mengklaim diri menuju universitas kelas dunia (world class university) ketika kampus-kampus dunia di negara-negara maju telah giat mengkampanyekan paperless. Sementara kita dengan penuh bangga dan pongah menganggap laporan-laporan terketik dan terprint tebal sebagai simbol kecerdasan dan kerja keras.

Kita akan makin jauh terbelakang ketika mahasiswa dari universitas maju telah sibuk menciptakan formula-formula baru sementara mahasiswa kita masih sibuk mengetik dengan suara ribut laporannya hingga subuh hari. Waktu mereka seolah habis hanya untuk mengetik. Seolah hidup mereka hanya didedikasikan untuk mengetik-ngetik laporan tebal yang menghabiskan ratusan rim kertas, yang juga berarti menghabiskan berpuluh-puluh pohon.

Tentulah ironi ketika mereka yang semestinya mengingatkan kita pentingnya menjaga pepohonan tetapi justru mereka sendiri yang menebangnya secara tidak langsung. Dengan laporan-laporan yang butuh berpuluh-puluh rim pasokan kertas. Ironi ketika mereka yang senantiasa memperingati hari—hari penting terkait kelestarian bumi tetapi mereka sendiri sibuk merusaknya.

10 Januari seperti halnya tahun-tahun yang lalu hadir tak sekedar penanda pergantian waktu tetapi kembali menjadi peringatan untuk menjaga pepohonan. Dengan demikian sejuta pohon tak sekedar peringatan belaka dalam kalender-kalender, juga tak semata deretan angka-angka. Melainkan ada upaya nyata menimimalkan penggunaaan kertas yang sejatinya telah dapat digantikan dengan aplikasi-aplikasi teknologi.

Kita dapat mencontohi Yayasan BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) yang berkantor di Jalan A. Mappanyukki, Makassar. BaKTI selalu berupaya meminimalkan penggunaaan kertas sebagaimana selalu tertulis di setiap akhir emailnya, “ If email saves time, then not printing them save tree

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.