Locita

Arief Rosyid yang (Semoga) Arif Sejak Dalam Pikiran

M. Arief Rosyid Hasan

Saya mengenal Arief Rosyid sejak dari tahun 2006. Tahun itu adalah tahun pertama saya memijakkan kaki di dunia perkuliahan. Di situ saya bertemu dia yang saat itu adalah senior.

Dunia perkampusan UNHAS—khususnya Makassar—di periode saat itu sedang mengalami transisi dari wajah yang meyeramkan menuju jargonnya, world class campus. Dengan kondisi seperti itu sangatlah wajar jika seorang senior terkadang melakukan ‘kekerasan’ terhadap para juniornya—terlebih mahasiswa baru.

Jikalau seorang senior memberikan asupan nutrisi ‘kekerasan’ itu karena para mahasiswanya tidak taat pada instruksi senior. Arief Rosyid memiliki gaya yang berbeda. Dia mengedepankan sisi intelektualitas. Saya ingat betapa dia memarahi para juniornya yang malas membaca buku dan berdiskusi. Selain dari itu, Pria ini tidak pernah memaksakan pemahamannya kepada para juniornya.

Dia adalah sosok yang total dalam berorganisasi. Saya kenal dia adalah seorang anak pejabat di Kabupaten Gowa, sekaligus lahir dari keluarga kelas atas. Sangat mengeherankan ketika melihat seorang anak yang telah disuguhi berbagai macam fasilitas oleh orangtuanya, mau tinggal di ruangan Senat Mahasiswa yang sumpek dan dipenuhi nyamuk. Jarang melihat seorang mahasiswa dari keluarga mapan lebih memilih menghabiskan malam Minggu di basic training mahasiswa dibanding bersenang-senang di tempat pelesiran.

Semasa mahasiswa, Arief juga adalah seorang yang gemar dengan kegiatan bakti sosial. Dia rajin mengikuti kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan oleh oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan organisasi eksternal lainnya.

Menariknya dia bahkan tidak pernah menolak tawaran sebagai relawan atau supervisor Baksos organisasi-organisasi eksternal kampus yang merupakan musuh abadinya. Sebuah perwujudan kesadaran politik dan profesionalitas.

Tahun 2013 dia terpilih menjadi Ketua PB HMI. Saya sangat pesimis saat itu dia dapat memimpin organisasi terbesar di Indonesia. Arief Rosyid tidak memiliki kejeniusan politik seperti Akbar Tanjung, tidak memiliki intelektualitas seperti Nurcholis Madjid, idealisme dan keberanian seperti Abdullah Hehamahua, ataupun militansi seperti Lafran Pane. Coraknya berbeda dari kebanyakan mantan–mantan Ketua Umum PB HMI.

Dia adalah seorang lulusan Fakultas Kedokteran Gigi. Fakultas tempat kurikulum padat saling berkejar dengan tenggat waktu untuk selesai. Fakultas tempat para anak–anak  mapan bermayoritas. Fakultas tempat orang yang ingin hidup dan bermakmur di lingkungan praktek dokter gigi.

Bahkan pada level organisasinya, fakultas tersebut sangat jauh dari kegiatan berpolitik ataupun bagaimana berdinamika dalam kelompok. Saya yakin sekali seorang sepertinya hampir sudah dipastikan mapan lewat praktek klinik serta rumah sakit.

Integritas dan dedikasi adalah kelebihannya. Saya ingat beberapa kali saat menjabat sebagai Ketua HMI, dialah yang terkadang mengeluarkan uang dan materi pribadi demi menjalankan program kerjanya. Bahkan pernah dia sama sekali kehabisan uang hanya untuk membayar makan di Warteg. Saat itu dia meminta ke saya untuk membayarkan.

Kalau dia mau, dia bisa saja memperkaya diri. Melakukan demo sewaan atau melacurkan diri ke pengusaha dan politisi. Namun nyatanya tidak. Suatu waktu saya bertanya padanya perihal ini. Dia menjawab,

“Organisasi itu tempat mengabdi, bukan cari materi.”

Perkataan itu kemudian saya buktikan sendiri. Saya sempat tinggal di kosannya saat menjabat sebagai Ketua HMI. Kosannya sangatlah jauh dari gambaran apartemen yang sejuk dengan berjibun fasilitas. Kosannya terletak di lorong sempit seukuran satu motor. Kosan yang terletak di daerah Tebet, Jakarta Selatan itu tidak lebih dari gudang berukuran 5×8 m dengan satu ventilasi. Hanya kipas angin berdiameter 30 cm yang berputar untuk mencegah paru-paru tidak tercekik karena hipoksia—kehabisan udara.

Padahal kalau dia mau, dia bisa mendatangi para “kanda-kanda” di Senayan dan kementerian-kementerian untuk meminta ‘jatah’ tempat tinggal mewah dengan berbagai alasan.

Kegemarannya berpuasa mungkin adalah pagar api sehingga terhindar dari sesuatu yang buruk. Sangat sulit mendapatkan orang yang bisa nongkrong dan senantiasa diajak berpelesir bersama pejabat dan orang besar negeri ini mau meluangkan waktu untuk berpuasa Senin-Kamis.

Nyatanya aktivitas yang sedari dulu di tingkatan cabang rutin dia laksanakan, tidak tergilas oleh posisinya sebagai tokoh pemuda organisasi terbesar di Indonesia. Ya, kebiasaan ini jarang sekali saya temukan pada para ketua organisasi. Sulit merasionalisasi seorang dengan puasa teratur memakan sesuatu yang bukan miliknya, korupsi misalnya.

Saya merasa wajar ketika melihat dia dekat dengan banyak pejabat. Di dunia yang kini kehabisan orang jujur dan berintegritas ini, dia mendapatkan tempatnya. Saat hari pernikahannya saya melihat Jusuf Kalla, para pejabat, tokoh agama, dan aktivis terkenal saling berbaris untuk berjabat tangan dengannya.

Beberapa waktu saya pernah menemaninya menemui petinggi-petinggi partai politik yang ingin mengajaknya bergabung. Turut pula beberapa ajakan-ajakan untuk menjadi direktur BUMN. Sayang sekali dia tolak. Dan beberapa bulan kemarin dia menyatakan diri ingin maju menjadi Ketua PDGI.

Kalau seandainya Arief orang yang pragmatis, tentu dia lebih memilih rayuan tersebut, ketimbang organisasi dokter gigi yang ‘kurang becek’ dan tidak terlalu tenar.

Ya, dia sadar bahwa organisasi ini butuh warna baru untuk mengangkat martabatnya. Organisasi ini butuh orang untuk memimpin para dokter gigi yang masih sering didiskriminasi.

Saya percaya pasti ada alasan kuat seorang Arief untuk maju menjadi Ketua PDGI. Dia pasti memiliki visi dan misi besar akan organisasi ini. Organisasi yang menjadi dasar keilmuannya. Organisasi yang bahkan diledek oleh Menteri Kesehatan.

Selamat berjuang Arief Rosyid. Tetaplah arif semenjak dalam pikiran.

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.