Locita

Mimpi Demokrasi dari Bebunyian Puisi

Di suatu sore di dalam kereta. Jejeran orang bertumpuk. Ditengarai ketiak dan sesak para penumpang, salah satu upaya untuk meringankan kesumpekan tersebut adalah melihat gawai mereka. Di satu sisi dekat pintu seorang lelaki memandang gawainya dengan serius, nampak berita dari sebuah media propaganda, tangannya kemudian bermain-main menuliskan emosinya yang meluap. Hal yang sama juga dilakukan seorang ibu yang terduduk, dia berucap dengan suara pelan kepada pasangan yang kebetulan berdiri tepat di hadapannya,

“Pa, masa sih si XXX ini melecehkan umat kita,” ujar si Ibu.

Ada pula seorang mahasiswa yang sibuk mengomentari tuduhan “PKI, atheis, dan liberal” yang tertulis di wall facebook-nya. Dengan gegap dan emosi dia membalas satu persatu semua tudingan yang diarahkan padanya.

Mereka hidup dalam pilihan ideologi dan politik mereka, terlebih pasca beberapa perhelatan politik di bangsa ini, politik identitas semakin tajam dan menukik. Saya pikir ini Anda alami—atau bisa jadi terlibat di dalamnya.

Bukan rahasia lagi ketika kita terjebak dalam perang tersebut, beberapa diantaranya dihasilkan oleh mesin-mesin isu, entah itu bohong ataupun benar. Semuanya adalah sentimen identitas dan kelompok.

Beberapa menit berlalu di atas kereta, setelah sibuk dengan tampilan pada layar mereka; mereka kemudian menggantinya dengan layar yang lain.

Si lelaki mengganti dengan menatap akun twitter @hurufkecil, si Ibu membaca sebuah puisi di sebuah grup facebook-nya. Dan si mahasiswa membaca sajak di salah satu media sastra, Basabasi.co. Mereka memang berbeda dalam pilihan politik, namun sama dalam puisi.

Sudah bukan rahasia lagi bagaimana sajak dan puisi begitu penting pada kemanusiaan. Wislawa Szymbroska, penyair sekaligus peraih Nobel Sastra tahun 1996, dalam pidatonya menyebutkan bagaimana puisi itu setali dengan dunia dan kemanusiaan.

“Setiap orang dapat menjadi penyair, puisi tidak membutuhkan teori dengan refrensi dan catatan kaki; studi yang spesifik. Pun tidak membutuhkan seremonial pengukuhannya sebagai karya tertentu,” ujarnya

Ya, siapapun bisa berpuisi. Dari presiden hingga juru parkir, dari guru hingga murid, dari politisi hingga penjahat. Bahkan orang yang dipenjara ternyata mampu melahirkan untaian kata yang reflektif dan mengena relung-relung para pembaca.

Bahkan dunia sains tak dapat terlepas dari puisi. Sejarah puisi tak lepas dari pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada segala eksistensi dan esensi yang ada di bumi. Sains dan keindahan syair memiliki kesamaan dalam metafora.

Pada abad keenam dan kelima sebelum Masehi, para pemikir sebelum era Sokrates menyusun ulang pertanyaan-pertanyaan tentang fisika, kimia, geologi, astronomi, teologi, metafisika dan epistemologi; Bentuk sadurannya berupa bait-bait. Lucretius menuliskan atom dalam bentuk epos, On the Nature of Things. Begitu juga di abad ke-18 Erasmus Darwin, yang puisinya The Temple of Nature menggariskan teori evolusi, mengikuti bentuk kehidupan dari mikroorganisme ke bentuk kemasyarakatan manusia. Hingga yang terakhir Richard Dawkins bahkan sempat menyebutkan puisi yang menginspirasi karya-karyanya di autobiografinya, Brief Candle in the Dark—salah satunya adalah kutipan kalimat yang berkelindan dari drama Hamlet karya William Shakespeare.

Di dunia politik, puisi memberikan agitasi, retorika, serta merawat mimpi-mimpi konsituen. Atau menjadi corong untuk para yang termarginalkan dan terpinggirkan. Hal itu yang dipraktekan oleh  Wiji Thukul. John F. Kennedy bahkan pernah mengatakan, “Ketika kekuatan membawa manusia ke arah kesombongan, puisi mengingatkannya akan keterbatasan. Ketika kekuatan menyempitkan perhatian manusia, puisi mengingatkannya akan kekayaan dan keragaman. Bila kekuatan menjadi korup, puisi membersihkannya, karena seni menetapkan kebenaran dasar manusia yang harus menjadi ujian bagi penilaian kita.”

Sayangnya, barisan kata-kata tersebut acap kali membawa sebaliknya. Pada kenyataanya, John F. Kennedy harus merelakan kepalanya ditembus peluru setelah membawakan sebuah puisi Robert Frost, penyair favoritnya.

Lebihnya, tidak sedikit karya seni ini dapat duduk berdampingan dengan pembunuhan atau bahkan genosida. Salah satunya adalah The Happy Poem. Sajak itu terpajang di buku catatan Adolf Hilter terpajang sebuah puisi, yang hari ini dapat dilihat di Museum Puisi Nazi di Polandia.

Wine and flowers/Happy Flowers/ I like flowers/Turtles are cute/Everything is wonderful/Primrose and violets/On my lawn/While engulfing me with their/Engaging scents/Rendering me unconscious.

Sapa menyangka kata-kata itu malah dipajang di buku catatan salah satu pembunuh massal terlawas dalam sejarah. Sisanya? Anda bisa membaca tulisan Windu Yusuf bagaimana literary snob dapat melakukan penindasan, bahkan darah dan air mata.

—-

Melihat lelaki, Si Ibu, dan Si Mahasiswa tadi, terlintas pemikiran untuk menyediakan panggung yang mampu menampung segala problematika dan kegelisahan orang-orang. Dalam hal ini menggunakan media membaca barisan sajak di sebuah panggung terbuka. Menghadirkan berbagai latar belakang dan pekerjaan untuk membacakannya.

Saya dan rekan-rekan saya di Suropati Syndicate paham betul bahwa puisi tidak akan memberikan langsung pertambahan GDP dan menurunkan koefisien gini, menghentikan penggusuran, meredakan kisruh politik identitas, atau menyelesaikan kasus beras. Puisi hanyalah sebuah alat untuk mengekspresikan diri—terlepas itu digunakan secara baik ataupun sebaliknya.

Namun medium puisi dapat menjadi curahan hati siapapun dengan berbagai latar belakang, ideologi, pilihan politik, hingga sakit hati terkini. Seperti halnya semua orang yang ingin bersuara, dia dapat bersuara entah apakah itu tersurat atau tersirat. Dengan menginisiasi sebuah panggung puisi, kami berharap kita semua dapat memberikan suara kita terlebih bulan Agustus adalah bulan kemerdekaan. Apakah benar merdeka atau tidak merdeka? Ah, itu terserah dari sudut pandang dan cara pemakaiannya oleh masing-masing.

Pemilihan puisi bagi kami bukan berdasarkan meledaknya buku Tidak Ada New York Hari Ini, atau mencoba menjadi literary snob. Namun lebih melihat  bagaimana laporan UNESCO, bahwa pertumbuhan besar akan minat masyarakat terhadap puisi terjadi dalam 20 tahun terkahir. Dan nyatanya medium ini mampu melahirkan kergaman ekspresi dan komunikasi intrapersonal.

Ada baiknya suara-suara itu saling berdialektika. Nyatanya, keributan itulah yang akan menegakkan demokrasi di Indonesia. Karena sistem itu memang selalu ribut dan bising; juga membutuhkan kehadiran public sphere yang mencerahkan dan mencerdaskan. Keberhasilan sebuah negara dan pemerintahan, adalah ketika mampu menampung suara-suara tersebut tanpa harus menutup, mengilegalkan, atau melarang mereka. Mereka memiliki hak untuk sebuah ruang berekspresi. Mungkin lebih tepatnya berdialektika.

Beberapa menit berlalu, dan kereta telah sampai di sebuah stasiun. Si lelaki melangkahkan kakinya keluar dari pintu kereta, sama halnya mahasiswa tersebut. Sang ayah mendapatkan tempat dan duduk di samping si ibu. Gawai mereka telah tertutup. Entah apa yang membekas dalam ingatan mereka. Satu hal yang pasti, mereka terlihat sumringah.

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.