Locita

Menteri Susi di Mata Hasjim Djalal

Menteri Susi Pudjiastuti diapit Plt Gubernur Sultra Saleh Lasata (kanan) dan Hasjim Djalal (kiri), pakar hukum kelautan. Foto: Kamaruddin Azis

PERJUMPAAN dan obrolan dengan sesepuh Hasjim Djalal di Kota Kendari serba kebetulan. Sore itu, saya mendapatinya sedang duduk di sudut hotel tempat kami menginap sembari memegang koran Berita Kota. Matanya lekat ke artikel opini yang saya tulis, “Membaca Alas dan Arah Kebijakan Menteri Susi”, sebagaimana dimuat di Berita Kota Kendari, 16 September 2017 silam.

Saya duduk di sampingnya dan memperkenalkan diri sebagai pengagumnya, berkaitan kiprahnya dalam memperjuangkan hak negara di batas laut teritorial sedari dulu. Sebagai mantan mahasiswa Kelautan di Universitas Hasanuddin (Unhas) di tahun 1989-1995 dan belajar mata kuliah Hukum Laut, nama Hasjim sungguhlah mewangi di sanubari kami.

***

“SAYA diundang? Kalau ndak, ndak perlulah ikut makan malam,” katanya dengan aksen Minang saat saya menyampaikan kalau ada undangan makan malam di rumah jabatan Gubernur Sultra. Hasjim gamang.

“Maksud Anda menulis, Menteri Susi sebagai satu dari 8 perempuan berpengaruh Indonesia dasarnya dari mana?” tanyanya ke saya. Memang, di artikel itu tak dirinci siap-siapa saja yang lain sebab harapan saya, demi mengajak pembaca berpikir dan mengira.

Tak lama kemudian, ayah Duta Besar Dino Patti Djalal ini memegang lengan saya.

“Oh sebentar, coba, siapa-siapa saja menteri perempuan di kabinet saat ini?” tanyanya.  Dia lalu menyebut nama Sri Mulyani, Rini Soemarno, Puan Maharani hingga Nila Farida Moeloek.

Pria kelahiran Ampek Angkek, Sumatera Barat ini adalah diplomat sekaligus guru besar hubungan internasional dan pejuang hukum laut terbaik yang dimiliki Indonesia. Lantaran latar belakang itu, dia merasa tak keberatan ketika diundang datang ke Kota Kendari oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk ikut dalam perbincangan kelautan dan perikanan.

Hasjim adalah pucuk pimpinan pada ‘Otoritas Dasar Laut Internasional’. Statusnya sebagai pemegang gelar Master of Law dari University of Virginia menjadikannya lempang sebagai diplomat atau pakar hukum. Dia adalah mahasiswa pertama dari Indonesia di universitas tersebut. Jejak Hasjim sebagai duta besar di Amerika diikuti anaknya Dino Patti Djalal di masa SBY.

Tak hanya itu, Hasjim adalah penulis buku Indonesia dan Hukum Laut (1995), kemudian Maritime Security in Southeast Asia: U.S., Japanese, Regional, and Industry Strategies (2010) serta Preventive Diplomacy in Southeast Asia: Lessons Learned (2002) dan masih banyak lagi. Dia juga dikenal aktif memperkuat Universitas Andalas dan kerap membawakan kuliah di sana.

Hasjim adalah tokoh maritim yang berjasa memperjuangkan nama Indonesia. Berkat perjuangannya, Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak tahun 1945 hanya punya laut 2 juta kilometer persegi kini menjadi 5,8 juta.

Sebelum Deklarasi Juanda, laut Indonesia seumpama Laut Selat Sulawesi, Laut Flores hingga Sunda dianggap bukan milik Indonesia namun setelah Deklarasi Juanda ditetapkan bahwa laut teritorial Indonesia seluas 12 mil diukur dari pulau yang terluar. Bukan dari tepian pulau hingga yang tersisa menjadi area internasional.

Prestasi Hasjim adalah mempertahankan isi deklarasi Juanda di dunia internasional, baik sebagai diplomat maupun sebagai guru besar yang menyebarluaskan nasionalisme melalui kecintaan pada posisi strategis maritim Indonesia.

***

HARI ketika kami bersua, Hasjim baru saja mengikuti proses pembukaan seminar dan mengikuti paparan Menteri Kelatuan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti di Kampus Universitas Haluleo, 16/09 pada acara 1st International Seminar on Sustainability in The Marine Fisheries Sector (ISSMFS) 2017 di Auditorium Mokodompit. Di usianya yang telah mencapai 83 tahun, per-Februari lalu, tak terlihat raut wajah letih, atau kelambanan gerak.

Di sore sekira pukul 17.30 wita itu, tanpa saya tanya, Hasjim bercerita tentang kehadirannya di Kendari.

“Saya membantu secara sukareala. Jadi sifatnya membantu. Mohon maaf ya, saya ndak mau nanti mereka merasa dibayang-bayangi oleh saya. Kan, kita menjaga mereka kepribadiannya untuk terus menonjol,” katanya terkait hubungannya dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini, kepada Menteri Susi.

“Saya memahami itu dan itu suatu hal bagus (ketika kaum muda paham sejarah perjuangan maritim kita). Saya sering ditanya orang-orang, apa pendapat saya tentang situasi kelautan saat ini,” katanya saat saya sampaikan bahwa banyak mahasiswa dan alumni kelautan saat ini mengidolainya sebagai pejuang hukum laut Indonesia.

“Saya aktif dalam perjuangan mengenai hak Indonesia atas kelautan. Setelah itu selesai, dan setelah bertahun-tahun dan pensiun, memanfaatkannya saya ndak pandai lagi,” kata mantan Duta Besar Jerman, Kanada, Amerika Serikat terkait situasi kelautan kontemporer dan tantangannya.

“Ibu ini memanfaatkannya hak-hak yang sudah kita perjuangkan dan sudah diakui secara internasional,” katanya terkait apa yang dilakukan Menteri Susi.

Obrolan kami terhenti. Asistennya datang.

“Kalau diundang yah kita pergi, ndak apa-apa,” katanya saat ajudannya melaporkan undangan bersua Gubernur Sultra malam itu berlaku untuk menteri dan rombongannya.

***

“JADI gitu pendapat saya, nah beliau ini pelaksana. Saya hanya mengatakan, ini saya punya hak atas kita sudah habis. Beliau ini saya manfaatkan. Semua menteri kelautan itu kan itu, tugasnya. Makanya saya jadi penasehat terus sampai sekarang,” katanya.

“Lantas, saya ditanya banyak orang, sikap apresiasi pak Hasjim seperti apa, tapi saya tak tulis (baca: di buku),” imbuhnya.

“Ibu ini, menurut perasaan saya, orang yang di samping tegas, tetapi berpikir simpel, sederhana. Jadi contohnya, saya bilang, kalau ditanya kepada ibu ini, 2×2 berapa, jawabnya 4, titik. Kalau ditanya kepada yang lain lain-lain, 2×2 berapa, dia balik nanya kita. “Bapak maunya berapa? bisa 5-1, bisa 6-2, bisa 3+1, 100 – 96,” sebutnya.

“’Bapak maunya berapa?’ Kalau ibu ini ndak,” kata Hasjim.

“Misal saja, kamu mencuri masuk ke rumah saya, saya tampar hidungmu. Kalau ditanya yang lain, ‘Saya masuk ke rumah Bapak ndak mau mencuri kok. Saya hanya ingin melihat betapa cantiknya rumah Bapak, kenapa Bapak tampar hidungnya saya? Jadi Bapak saya ajukan ke pengadilan karena merusak nama baik saya,’” jelas Hasjim.

“Kalau ibu ini, ndak,” kata Hasjim.

“Cara berpikirnya itu sederhana, simpel, korek dan ndak bertele-tele,” lanjutnya.

“Beliau itu sosoknya gitu, jadi banyak kawan-kawan yang mendukung. Saya juga merasa mendukung karena menganggapnya jujur, honest, sederhana. Dua kali dua, empat. Kalau masuk rumah saya mencuri saya tampar. Gitu aja kan, saya tenggelamkan!”

“Ndak mau bertele-tele,” imbuhnya.

“Beliau itu kan, ya, melihat hal yang benar. Sesuatu yang benar, membela yang benar. Itu analisa saya kan. Ndak mau debat macam-macam. Kan, saya sudah mengalami (bersama beberapa yang lain), banyak yang maunya berdebat.”

Kamaruddin Azis

pemerhati isu-isu kelautan

Tentang Penulis

Kamaruddin Azis

pemerhati isu-isu kelautan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.