Locita

Malam yang Tak Biasa di LBH Kesaksian penyerangan Asik Asik Aksi di LBH Jakarta

Sumber Foto: cnnindonesia.com

MINGGU, 17 September 2017. Sehabis maghrib, secara spontan saya memutuskan untuk datang ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) sebagai bentuk solidaritas terhadap kawan-kawan aktivis yang tengah berprihatin atas situasi demokrasi paska pembubaran paksa seminar di hari Sabtu.

“Lumayan, sambil mencari hiburan nonton acara musik,” pikir saya.

Sekitar dua jam, saya menikmati pertunjukan musik dan puisi sembari bertemu dan bersapa dengan kawan-kawan yang saya kenal. Peserta saat itu kebanyakan adalah anak muda. Tidak ada sama sekali seminar atau orasi politik berbau “komunis” seperti hoax yang tersebar, acara malam itu lebih mirip dengan acara ekspresi politik gaul ala anak muda yang dibalut dengan pertunjukan seni dan sastra.

Saat pertunjukan musik hampir berakhir sekitar pukul 21.00 WIB, saya memutuskan pulang. Tetapi panitia menghimbau agar kami tetap berada di dalam gedung karena sekelompok orang telah megepung gedung LBH. Saat itu juga saya dengar teriakan-teriakan massa dari luar, seperti “Ganyang PKI” yang kemudian diikuti oleh seruan “Allahuakbar”.

Massa yang meneriakkan “Ganyang PKI” (Sumber Foto: Syahar Banu).

Secara spontan kami memindahkan meja dan kursi di belakang pintu untuk berjaga. Lagu Banda Neira “Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti” mengiringi evakuasi para perempuan ke lantai tiga. “The shit is getting real” batin saya. Tiba-tiba saja saya terjebak dalam situasi genting yang tidak pernah saya duga sebelumnya.

Di lantai tiga, saya bersama sekitar 30-40 orang yang mayoritas adalah perempuan, beberapa orang tua, dan ibu-ibu Kendeng. Sedangkan para laki-laki berjaga di bawah. Di luar masih terdengar jelas massa yang semakin bertambah banyak dan memekikkan seruan mereka.

Kami yang berada di lantai tiga hanya bisa menerka apa yang terjadi dibawah, sambil sesekali memperhatikan instruksi dari panitia yang berkoordinasi dengan orang-orang yang berada di bawah.

Beberapa kali, situasi di lantai tiga menjadi kacau saat kita mengira massa sudah berhasil masuk dan mencoba naik. Saya mendengar panitia berteriak “berkumpul ke sudut!”, “matikan lampu!”, “hindari kaca!” sembari buru-buru menyusun meja dan kursi di belakang pintu sebagai benteng pertahanan terakhir. Ada juga beberapa kawan yang panik hingga bersembunyi di bawah kolong meja. Beberapa ada yang manangis, beberapa melafalkan doa.

Suasana saat itu mirip seperti adegan di serial Walking Dead atau film-film serial killer, dimana para pemerannya bersembunyi ketakutan dari zombi atau serial killer yang tengah mengintai mereka di balik pintu.

Lewat tengah malam, tidak ada tanda-tanda ini akan berakhir, suasana justru semakin chaos. Dari atas terdengar teriakan massa semakin ricuh dan membabi buta, kaca di ruangan kami pecah dilempar batu. Suara tembakan gas air mata membuat suasana semakin mencekam. Salah satu perempuan pun jatuh pingsan dan segera dievakuasi keluar.

Sekitar pukul 02.00 kami baru berhasil dievakuasi. Bersama puluhan bahkan ratusan kawan yang lain, kami diminta duduk berjajar sambil menunggu kesiapan truk polisi. Satu orang penyusup masuk mengendarai motor di depan kami segera dihentikan oleh polisi.

Setelah hampir satu jam menunggu, kami pun masuk ke dalam truk polisi untuk dievakuasi ke Komnas HAM sekitar pukul 03.00. Setelah menunggu berjam-jam di Komnas HAM, saya dan kawan saya baru berhasil pulang pada Senin pagi sekitar pukul 06.00.

Sebagai seseorang yang juga bergelut di organisasi masyarakat sipil, menghadapi bentrokan ide dan perdebatan merupakan hal yang biasa bagi saya. Namun, dikepung oleh ribuan massa dengan taruhan nyawa adalah hal yang seumur hidup baru saya alami.

Sebagai sedikit refleksi, mungkin penting bagi organisasi masyarakat sipil untuk membentuk strategi advokasi HAM yang tepat berdasarkan konteks politik dan ekonomi yang ada. Selain melakukan advokasi di tataran atas melalui perubahan hukum misalnya, strategi di level bawah juga harus diperkuat.

Mengkampanyekan isu HAM bukan berarti hanya menghadapi “negara” (baca: pemerintah, aparat keamanan seperti polisi dan militer), tetapi perlu juga memperhitungkan kelompok-kelompok masyarakat bawah yang sayangnya telah berhasil diorganisir oleh kekuatan populisme kanan dengan cukup baik.

Apakah penyebaran pengetahuan tentang konsep abstrak seperti “HAM” dan “demokrasi” sudah cukup menyentuh mereka? Di tengah maraknya politik identitas dan naiknya populisme kanan, nampaknya gerakan HAM/ demokrasi masyarakat sipil masih akan mengalami jalan terjal.

Niken Anjar Wulan

Aktif di NGO dan meminati kajian ekonomi-politik, pembangunan, dan perburuhan.

Tentang Penulis

Niken Anjar Wulan

Aktif di NGO dan meminati kajian ekonomi-politik, pembangunan, dan perburuhan.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.