Locita

Hantu PKI, Perenggut Keceriaan September

Massa Anti-PKI Kepung LBH Jakarta (17/9/2017) (Sumber Foto: kompas.com)

Setelah menonton tim sepak bola favorit menang. Dari layar kaca saya beralih ke layar telepon genggam. Saya membuka Twitter, di antara twit di linimasa, saya melihat tagar #DaruratDemokrasi

Pesan Simpang Siur dan Orang yang Mudah Percaya

Aplikasi berbasis sosial media juga chat, sangat membantu kita dalam hidup sehari-hari. Mulai dari keperluan kerja, hiburan atau pun sekedar memangkas jarak antara keluarga, teman atau kekasih. Namun bisa juga sangat berbahaya bila digunakan untuk hal-hal yang tidak semestinya.

Kita bisa berkaca pada bagaimana cara jaringan Saracen bekerja. Mereka “berhasil” menggunakan sosial media sebagai alat penyebar hoax dan juga membuatnya menjadi sebuah imdustri besar yang “sukses”, sebelum akhirnya terungkap oleh pihak kepolisian. Pertanyaannya mengapa bisa begitu suksesnya Saracen dan penyebar hoax lainnya mempengaruhi masyarakat? Mungkin karena di negara kita ini ada beberapa isu yang sangat gampang digoreng sedimikian rupa hingga jadi santapan masyarakat tanpa memperhatikan gizi yang terkandung. Di antara isu tersebut adalah isu kebangkitan komunis melalu Partai Komunis Indonesia (PKI).

17 September 2017, sebuah acara “Asik Asik Aksi” diselenggarakan di LBH. Melalui akun Twitter resmi @LBH_Jakarta disampaikan bahwa acara ini diisi oleh kegiatan musik, puisi hingga stand up comedy. Acara ini berisi ajakan untuk bersama menegakkan demokrasi dan mencegah demokrasi yang terepresi. Acara ini diadakan sebagai alternatif dari batalnya diskusi akademis pengungkapan sejarah Indonesia pada tahun 1965-1966.

Namun isu berbau provokasi mengiringi acara tersebut. Kabar simpang siur yang diketahu tersebar melalui pesan Whatsapp, membuat acara tersebut dikaitkan dengan PKI. Bahkan ada yang menyebutkan acara ini menyanyikan lagu “Genjer-Genjer” yang sering dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pada akhirnya dibantah langsung oleh LBH Jakarta.

“Jelas hoax atau berita-berita bohong telah disiarkan, propaganda tuduhan yang mengada-ada telah diviralkan, instruksi-instruksi untuk menyerang LBH dilakukan secara sistematis dan meluas bahwa ini acara PKI, menyanyikan lagu ‘Genjer-Genjer’ dll. Padahal, sama sekali tidak ada. Kami khawatir ini ditunggangi oleh pihak-pihak yang menghendaki chaos dan rusuh,” kata Ketua Bidang Advokasi LBH Jakarta, Muhammad Isnur dalam keterangannya, Senin (18/9) lalu, dikutip dari Kumparan.

Melalui linimasa Twitter dari akun  @arman_dhani, @savicali, @elwa dll yang turut serta mengabarkan “Asik Asik Aksi”, saya mengikuti perkembangan kejadian ini. Akibat simpang siur isu itu (dicurigai juga massa yang datang itu terorganisir sengaja dikerahkan) sekitar pukul 22:00 WITA acara ini didatangi oleh massa yang memaksa masuk ke dalam gedung LBH.

Massa ini berteriak kalimat-kalimat mengancam seperti “bunuh, “ganyang”. Sebenarnya esoknya tepat 18 September sekitar pukul 00:00 WITA sempat dilakukan mediasi antara perwakilan aksi dan perwakilan dari massa dari “Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Anti-Komunis” tapi berlangsung alot. Puncaknya sekitar pukul 01:00 WITA kericuhan pecah, massa mulai melempari dan terlibat baku hantam dengan polisi.

Akhirnya pihak kepolisian segera melakukan tindakan evakuasi bertahap kepada para peserta “Asik Asik Aksi” dan beberapa orang lainnya yang berada di dalam kantor LBH. Hal ini untuk menghindari hal lebih buruk yang bisa saja terjadi dalam kericuhan ini. Walaupun memakan waktu hingga pukul 05:00 WITA semua peserta dievakuasi dan kericuhan massa bisa diredam.

Di sini bisa terlihat gambaran nyata bahwa bagaimana sebuah pesan berantai yang berisi isu simpang siur yang tidak benar adanya  ditambah orang-orang yang begitu mudahnya percaya dan terpelatuk, sungguh sangat-sangat mengerikan. Bagaimana acara yang hanya berisi pertunjukan seni atau pun diskusi akademis bisa dihentikan secara sepihak di negara yang katanya menganut demokrasi ini. Sebenarnya sederhana untuk menangkal itu semua. Cek dan ricek adalah kunci.

Hal yang Lebih Mengerikan dan Sering Terjadi

Selain hoax yang sangat disayangkan bagaimana isu berkaitan dengan komunis khususnya PKI masih sangat laku di masyarakat. “Hantu” yang terus dipelihara ini seperti sengaja digunakan untuk mendiskreditkan siapa saja yang dianggap berseberangan.

Isu ini juga fleksibel, artinya isu semacam ini bisa digunakan untuk keperluan dan waktu tertentu. Bisa dilihat  bagaimana isu bisa menimpa siapapun mulai dari pejabat negara hingga pengendara motor di jalan. Bagaimana isu ini bisa laku pada pemilihan umum hingga dijadikan alasan untuk menghentikan sebuah diskusi akademis.

Saking besarnya isu tentang PKI ini, kita seperti dialihkan dari segala hal-hal yang lebih jelas dan lebih mengerikan yang sedang terjadi di depan mata. Pelemahan lembaga anti korupsi, UU dengan pasal “karet” yang justru menggerus nilai demokrasi, tindakan intoleransi, fanastisme agama dsb. Semua hal tersebut seakan hanya menjadi persoalan remah-remah dibandingkan isu PKI.

Merenggut Keceriaan September

Saya memang hanya mengamati melalui lini masa, mengikuti kronologis melalui ciutan dan video oleh peserta yang turut terjebak saat itu, juga dari informasi dari beberapa portal berita. Namun saya bisa merasakan begitu mecekamnya pengepungan tersebut. Main hakim sendiri masih menjadi jalan favorit sebagian orang dalam menghadapi sesuatu. Juga hoax yang masih begitu mudahnya diterima.

Pengepungan pada kantor YLBHI ini entah karena hoax ataupun terorganisir menurut saya telah menggerus nilai demokrasi. Menyerang orang-orang yang hanya ingin berekspresi hingga menuduhnya sebagai PKI. Miris sekaligus lucu rasanya, orang yang ingin berdemokrasi ini malah disuguhi aksi teror-teror yang usang.

Belajar dari kejadian ini, semoga kita semua bersama bisa lebih sadar dan sama-sama belajar. Seperti sejarah, literasi media hingga hal-hal yang menyangkut dengan hubungan antar manusia. Agar dalam arus informasi yang serba cepat ini kita tidak buru-buru dalam menghakimi sesuatu. Juga membangkitkan kebiasaan saling mendengar (diskusi) hingga tidak ada lagi cara usang seperti fitnah atau ancaman-ancaman mencabut nyawa orang hanya karena berseberangan pandangan akan sesuatu.

Aswan Pratama

Teman main semesta

Tentang Penulis

Aswan Pratama

Teman main semesta

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.