Locita

Membandingkan Penghasilan Selebgram dan Penulis Buku Best-Seller

JAGAD instagram dan fenomena menjamurnya olshop dan selebgram di Indonesia nyatanya tidak bisa disepelekan. Sosial media dan instagram khususnya menawarkan peluang usaha yang besar. Hal itu terbukti dengan kesuksesan para pemilik akun olshop dalam melariskan produk-produknya melalui instagram.

Olshop dan Selebgram sama-sama mendapatkan keuntungan dari meluasnya jejaring instagram hari ini. Justru, yang menjadi sasaran adalah pemilik akun yang memanfaatkan media sosial hanya sebagai tempat curhat dan memamerkan kesibukkan sehari-hari, seperti saya ini. Tidak ada keuntungan materil yang didapatkan. Tentu !

Salah satu tujuan seseorang membuka instagram hampir bisa dipastikan karena ingin berbelanja online. Hal ini sangat efisien utamanya bagi masyarakat urban dan perkotaan. Kita tidak perlu berlelah-lelah ke pasar untuk membeli satu-dua produk saja. Sebab hal itu, kita bisa dapatkan cukup dengan menekan tombol di smartphone. Apalagi dengan situs yang menawarkan free ongkir seperti shopee atau dengan biaya ongkir yang sangat murah, biasanya melalui ojek online.

Kita coba saja membandingkan berapa sih pemasukan yang didapatkan selebgram. Selebgam ini tidak hanya artis tapi ada dari masyarakat biasa, mulai dari pelajar hingga pengangguran. Mari kita membandingkannya dengan penghasilan penulis-penulis buku best-seller di Indonesia.

Rekan saya yang kerap kali menerima endorse dari olshop di instagram mengungkapkan jika jumlah followers dan latar postingan foto sangat mempengaruhi fee dalam satu kali pemostingan produk. Awalnya ia mematok harga 25 ribu untuk satu produk, semakin bertambahnya jumlah orang yang mengikutinya di instagram. Ia kemudian menaikkan tarif untuk satu produk sebesar 50 ribu. Kini jumlah followersnya sebanyak 38, 8 K.

Anggaplah teman saya dalam seminggu menerima endorse 5 produk. Ia akan mendapatkan 5 produk tersebut ditambah 50 ribu/produk. Totalnya 250 ribu. Dalam satu bulan, kira-kira ia akan mendapatkan penghasilan sebesar 1 juta rupiah. Angka ini tentu masih sangat jauh dari jumlah followers para public figure utamanya kalangan artis.

Cukup dengan modal polesan wajah cantik dan pose foto ala kids zaman now. Bahkan menurut teman saya, latar foto sangat menentukan harga. Misalnya, jika berfoto di café dan tempat-tempat yang seringkali dikunjungi, maaf sekali lagi, kids zaman now.

Menuju ke selebgram yang memiliki jumlah followers diatas 100 K. Jika mematok tarif diatas, kira-kira satu kali endorse fee yang didapatkan sebesar 200 ribu. Maka jika dalam seminggu, mereka mendapatkan 5 produk yang harus diendorse. Total yang bisa didapatkan adalah 1 juta rupiah kali empat. yakni, sebesar 4 juta rupiah dalam satu bulan.

Sementara itu dunia endorse di kalangan selebriti lebih menggiurkan lagi. Kita tentu mengenal banyak selebgram yang sering menerima tawaran endorse di instagram. Misalnya, Ria Ricis, Tyas Mirasih, Ayu Ting-Ting, Ashanty, Zaskia Adya Mecca, dan masih banyak lagi. Rata-rata jumlah followers mereka telah mencapai angka jutaan.

Saat ini jumlah pengikut tertinggi di Indonesia masih dipegang oleh Ayu Ting-Ting dengan jumlah 22,1 juta pengikut. Kira-kira berapa fee yang didapatkan para artis ini untuk satu kali endorse. Untuk itu kita menghitungnya secara kasar saja. Satu produk biasanya para artis mendapatkan fee sebesar 6-7 juta. Jika dihitung dalam sebulan mereka bisa menghasilkan pundi-pundi uang sebesar 24-28 juta rupiah.

Bahkan anak Ashanty (Arsy) yang masih belum genap berusia 3 tahun telah menerima endorse dari beberapa olshop. Jumlah followers Arsy di instagram sebanyak 35 K. Artinya, berdasarkan perhitungan kasar diatas, dalam sebulan Arsy bisa mendapatkan penghasilan sebesar 4 juta rupiah.

para olshop yang menggunakan jasa para selebgram untuk mempromosikan barangnya terbukti mampu mendongkrak jumpah pengikut di olshop mereka. Hal ini sebanding dengan peningkatan penjualan yang bisa mereka dapatkan dari pengguna-pengguna sosial media (instagram).

Belum lagi jika kita menelisik, akun-akun selebgram ini tidak hanya memanfaatkan peluang di instagram tapi juga di YouTube. Kali ini, saya akan mengambil sampel adik dari Oki Setiana Dewi, Ria Ricis. Selain eksis di instagram, Ria Ricis juga memiliki chanel YouTube dengan jumlah subscribers sebanyak 1,8 juta.

Ria Ricis terhitung cukup rutin membagikan videonya di YouTube, berdasarkan pemantauan saya di dalam chanelnya, sekali posting ia bisa mendapatkan viewers sebanyak 500 ribu- 6 juta viewers. Kita bisa bayangkan berapa penghasilan yang bisa didapatkan Ria Ricis dalam sebulan.

Konon dalam satu video dengan jumlam 1 juta viewers, pemiliki chanel bisa mendapatkan 550 USD atau sekitar 7 juta rupiah. Belum lagi, Ria Ricis memiliki jumlah subscribers yang mencapai angka 1 juta. Selebriti ini bisa mendapatkan 2.000 USD atau sekitar 26 juta rupiah dari AdSense.

Jadi, Ria Ricis dalam sebulan bisa mendapatkan uang dari endorse di instagram sebesar 24 juta ditambah dengan channelnya di YouTube yang mencapai lebih dari 1 juta subscriber, ia bisa mendapatkan uang 26 juta rupiah. Belum lagi, jika ia dalam sebulan misalnya memosting dua video dengan jumlah viewers sebesar 1 juta lebih. Ria Ricis bisa mendapatkan uang 14-20 juta rupiah. Total 70 juta rupiah.

Angka yang fantastis di usianya yang masih 22 tahun dengan penghasilan sebesar itu dalam sebulan. Mungkin sehebat dan selaris apapun  seorang penulis di Indonesia tidak akan bisa menyamai apalagi melampaui penghasilan para selebgram ini.

Konten-konten yang ditularkan Ria Ricis di setiap video yang diunggahnya terhitung sangat sederhana, bahkan remeh-temeh. Misalnya saat dia mengunggah video yang memperlihatkan dirinya bersama sahabatnya sedang bermain dan menggoreng squishy. Jumlah penonton dalam video itu sebanyak 5 juta.

Menghitung penghasilan para penulis buku yang diterbitkan secara mainstream (bukan indie). Buku dengan penjualan 5.000-10.000 eksemplar kira-kira menghasilkan pendapatan buat penulisnya pada kisaran angka 5 juta- 20 juta rupiah.

Itu untuk satu buku, dan jika digarap dengan sangat baik. Penulisan buku biasanya memakan waktu bertahun-tahun. Tapi toh, buku bagus biasanya jarang bisa menembus penjualan terlaris.  Anda bisa membayangkan bagaimana beruntungnya menjadi selebgram dibandingkan sibuk meriset dan menulis hari ini.

Sedangkan untuk penulis novel best seller, kita ambil contoh Dewi Lestari. Dari semua bukunya yang terjual laris di industri percetakan, Dee , sapaan akrabnya mendapatkan royalti sebesar 1,5 miliar. Satu lagi contoh dari penulis bestseller, Andrea Hirata, dari buku-bukunya yang terjual 600.000 eksemplar . Ia mendapatkan keuntungan sekitar 3,6 miliar rupiah. Angka ini jika dibandingkan para selebgram tentu masih sedikit.

Andrea Hirata begitupun Dee kita kenal sebagai penulis dengan perjalanan riset yang sangat panjang hanya untuk mendapatkan satu buku yang bisa laris manis di pasar. Angka 3 miliar bagi Andrea Hirata mungkin bisa menghabiskan separuh perjalanan hidupnya sebagai manusia. Sebuah karya yang mendalam yang menceritakan perjalanan dan pengalaman hidupnya.

Akhirnya dengan menghadirkan tulisan ini, dengan sangat menyesal saya ingin mengatakan. Sepertinya saya ingin memikirkan kembali, mengapa saya harus bersusah payah kuliah magister jika menjadi selebgram jauh lebih menggiurkan.

Meminjam kata-kata Paulo Coelho, “ Berjuanglah untuk apa yang kita yakini, tanpa berusaha membuktikan apapun kepada siapapun; tetaplah tenang dan tidak banyak cakap, sebagaimana orang yang telah memiliki keberanian untuk menentukan takdirnya sendiri.”

Apapun itu, mari kita bersorak untuk setiap pilihan yang kita jalani.

Avatar

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Avatar

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.