Locita

Menggugat Sakralitas Pernikahan

LEO TOLSTOY, penulis legendaris Rusia, kerap hadir dengan narasi yang menyentak bernuansa religius, permenungan moral, dan realis. Dalam novelnya yang berjudul Sonata Berujung Maut (versi indonesia).

Ia menghadirkan gugatan pernikahan. Tolstoy mengungkap tragedi pernikahan berujung pada “mata pedang di leher istri Posdnsyev.” Ia menghadirkan peristiwa itu sebagai pergolakan jiwa di masa lalu “masa muda” yang menghantui rumah tangga Posdnsyev. Tatanan moralitas, agama dan tradisi sebagai alat pergunjingan tentang “pelanggaran moral”.

Rumah tangga Posdnsyev di bayang-bayangi pergunjingan moralitas. Batinnya tidak lagi tenang seperti sediakala.

Ia hadir dengan seribu kecemburuan yang tidak lagi bisa ditakar, yang akhirnya berujung petaka “pembunuhan sang Istri”. Apa yang ingin disampaikan Tolstoy dalam petaka tersebut? Tolstoy ingin menggambarkan bahwa tragedi pernikahan adalah “perceraian” itu sendiri.

Pernikahan atau berhubungan dengan perempuan selalu ada ikatan tradisi dan agama yang mengikatnya. Tolstoy mengungkap sebuah transaksi komoditas.

Pandangan Leo Tolstoy terhadap pernikahan sangat relevan dalam memotret kondisi hubungan pernikahan masyarakat kontemporer. Pernikahan yang dilangsungkan penuh dengan modus transaksional dalam meneguhkan kewajiban tradisi dan agama.

Peneguhan tersebut sebagai pengejawantahan pelaksanaan nilai, moral, dan religius untuk pembenaran (penghalalan) hubungan seksual antar laki-laki dan perempuan, pelangsungan tradisi kemasyarakatan, dan menjaga keberlangsungan manusia.

Perempuan sebagai komoditas dan uang belanja dan mahar sebagai patokan harga. Transaksi ini disebut sebagai transaksi ekonomi pernikahan sebagai bentuk penyimpangan dalam relasi sosial pernikahan.

Jika perempuan sebagai komoditas maka bagi orang tua, perempuan adalah aset dan investasi masa depan. Stigma ini harus diretas dengan mengembalikan prinsip dasar pernikahan.

Penyimpangan pernikahan dalam masyarakat Indonesia sebagai transaksi ekonomi, sudah bukan lagi “gunung es” yang menyimpang “borok” atau misteri yang belum terungkap atau harta terpendam.

Penyimpangan pernikahan atas nama agama telah berhembus ke atas permukaan sebagai bahan diskursus dan praktek sosial di masyarakat.

Masyarakat Indonesia, baru ini digegerkan dengan situs nikahsirri.com sebagai situs perjodohan untuk mempertemukan pelanggan dan pembeli “keperawanan”, bahkan menyajikan jasa lelang “keperawanan”, dan menyediakan “wali dan saksi” untuk menjembatani “kehalalan” hubungan seksual.

Lalu, apa yang harus dicari dalam pernikahan, jika hanya berlangsung singkat sesuai dengan kontrak kedua belah pihak, dan pergonta-gantian pasangan?

Sejak dulu, realitas ini digugat Tolstoy dengan mengurat pernyataan laki-laki yang berhubungan dengan banyak perempuan sudah tidak lagi normal dan sudah rusak selamanya. Para pejabat dan publik figur (artis) hari ini, kerap kali mempraktekkan dan mempertontonkan “perceraian” dan “ganti pasangan lagi” dengan alasan tidak cocok.

Yah, perceraian selalu berujung tragedi dalam pernikahan atas nama kepalsuan, kekerasan, dan pelecehan dengan berbagai pengharapan dan pengorbanan, realitasnya antara keperawanan dan kesepadanan harga yang tidak cocok, simpanan uang dan ketebalan make up tidak berbanding lurus, serta pelayanan di atas kasur kurang memuaskan dan menggairahkan.

Pernikahan yang nampak saat ini, prostitusi legal formal melalui selubung “nikah siri” dengan berbagai dalil-dalil agama dengan mematok “harga” keperawanan.

Ada pula transaksi yang lain tampak benderang atas nama tradisi. Jagat maya digegerkan transaksi uang panai. 

Penetapan harga melampaui perhitungan ekonomi pasar, patokan harga sembako, penjualan simbol-simbol kebangsawanan apalagi “sistem pembangunan berkelanjutan”. Sebab, penentuan “harga” pasar tidak mempertimbangkan daya dukung alam dan relasi sosial.

Hubungan ini, mengutamakan transaksi ekonomi. Transaksi ekonomi pernikahan ini berlangsung pada masyarakat Sulawesi Selatan dan Barat (etnik Bugis, Makassar dan Mandar) melalui uang panai dan mahar.

Pernikahan bagi muda-mudi menjadi momok yang menakutkan sekaligus tantangan untuk hidup menjadi matang secara finansial, bukan lagi kematangan “sakralitas moral”. Kelanjutan penghidupan melalui “pernikahan” tiada lagi yang gratis nan halal, semua butuh biaya, apalagi pertimbangan dasar agama dan tradisi.

Sakralitas pernikahan di Sulawesi Selatan dibangun di atas konstruksi religius dan pengetatan tali kekerabatan. Kelangsungan pernikahan Sulawesi Selatan melangsungkan ritual menempuh waktu panjang. Pesta pernikahan hanya tahap akhir dari acara silaturahmi dan penghabisan uang panai (belanja) di pihak perempuan.

Uang panai pada tradisi masyarakat Sulawesi Selatan dan Barat bukanlah simbol (strata, gengsi, dan kehormatan). Bukan pula, dimaksudkan untuk membeli perempuan. Tapi, wujud kemampuan pihak laki-laki menafkahi sang perempuan dalam membangun rumah tangga. Uang panai juga dimaksudkan sebagai modal dan menguji kesiapan pihak laki-laki dalam melangsungkan kehidupan berumah tangga.

Penentuan standar uang panai ditentukan tingkat inflasi harga-harga bahan pokok di pasaran, status kebangsawanan, gelar pendidikan, gelar haji, status sosial perempuan, status orang tua, pekerjaan, dan kecantikan. Standar-standar tersebut dibicarakan di antara kedua belah pihak untuk mengalkulasi uang panai dalam mendanai pesta pernikahan.

Dalam beberapa kasus akhir-akhir ini di Sulawesi Selatan dan Barat, sudah melampaui indikator-indikator tersebut. Sejumlah pria melamar perempuan dengan uang panai sebesar satu miliar dengan sejumlah mahar barang bergerak dan tidak bergerak (mobil, motor, rumah, dll) ; mulai dari pasangan Jaya Baramuli (52) dan andi Rahmaniar (25) (Pinrang), uang panai sebesar Rp. 599 juta berujung cerai; Jaya dan Andir (Bulukumba) sebesar 509 juta ditambah uang sepupu 10 juta, dua ekor kerbau senilai 40 juta, dan lima hektar tanah; Haji Nasir (64) dan Milawati (18), panai sebesar 20 Juta dan 2 gram emas, satu mobil Honda Jazz, dan Rumah (status cerai); Anjas Malik dan Amalia Hambali (Jeneponto) dengan panai sebesar satu milyar, satu mobil Alphard, tiga kilogram emas bertabur berlian, rumah, dan Satu hektar tanah.

Beberapa kasus, pemuda Sulawesi Selatan dan Barat mendapat penolakan karena ketidakmampuan menyediakan uang panai di pihak perempuan.

Beberapa pemuda mengalami penolakan gara-gara ketidaksanggupan memenuhi permintaan uang panai.

Pernikahan tidak lagi, modus tradisi dan agama dalam menjaga kebertahanan rumah tangga; tapi, lebih pada modus ekonomi yang transaksional di kedua belah pihak antara perempuan dan laki.

Konsekuensi Sosial

Kenyataan ini, menjawab keraguan Leo Tolstoy dalam novelnya Sonata Berujung Maut bahwa pernikahan tidak pernah dilandasi dengan cinta kecuali pelampiasan seksual yang halal, apalagi sakralitas agama. Tolstoy menyiratkan gugatan terhadap perceraian dan standar moralitas masyarakat, setiap pernikahan dengan aktor subordinasi selalu terlecehkan.

Seharusnya, pernikahan perwujudan pembebasan dari stigma buruk pada perempuan berujung petaka. Pembunuhan Posdnsyev terhadap istrinya adalah stigmatisasi (kecemburuan) terhadap cinta istrinya pada pria lain.

Penggambaran menunjukkan bahwa di masyarakat kita, sedang asyiknya merayakan tragedi budaya “pernikahan transaksional”. Pernikahan berujung penghancuran relasi sosial laki-laki dan perempuan melalui komodifikasi. Dan, praktek pernikahan saat ini tidak ubahnya, pemalsuan manusia.

Dari realitas ini, sudah seharusnya mengembalikan pernikahan sebagai praktek pembebasan (emansipasi), persaudaraan, dan kebersamaan dalam membangun dan membina rumah tangga.

Pernikahan itu bukan soal uang dan cinta, lebih dari itu berupa menjaga keberlangsungan kehidupan manusia antara pernikahan terhadap Tuhan, alam, dan Manusia itu sendiri. Pernikahan adalah semesta kehidupan.

Avatar

sampean Dali

Penyuka bacaan filsafat, sosial, dan budaya.

Tentang Penulis

Avatar

sampean Dali

Penyuka bacaan filsafat, sosial, dan budaya.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.