Locita

Madonna (Who’s That Girl?)

Sumber foto: NME

“MADONNA”, ia dinobatkan sebagai ikon pop generasi multimedia pertama. Mengubah musik dance pop yang mulanya biasa saja menjadi lebih nge-hit(s).

Pencapaian yang di kemudian hari, membuat Madonna dieluh-eluhkan, dibanding-badingkan, bahkan disetarakan dengan Marylin Monroe, yang tak lain merupakan sosok “inspirator” utamanya.

Di medio 80-an, nama Madonna ada di mana-mana, hampir muncul di setiap waktu. Bahkan dengan cepat menjadi sosok kontroversial sejak single debutnya “Everybody” meledak di pasaran pada tahun 1982.

Fenomena itu mengejutkan banyak orang, di mana belum ada seorang pun di “dunia pop” kecuali Madonna, yang bisa memanipulasi media secerdas mungkin sebagai sarana mempromosikan diri sendiri kala itu.

Terlepas dari itu semua, karir Madonna di dunia musik tetap memiliki pijakan yang solid, sebagaimana ia menjalani kehidupan.

Ia menjalani hidup dengan caranya sendiri, tanpa memedulikan penilaian orang tentang kehidupannya yang pernah mendapat predikat memalukan dan melanggar nilai-nilai kepatutan.

Karena baginya, “proses hidup itu mengalir, kelak waktu akan membukakan tabir rahasianya sendiri.” Sebagai seorang perempuan yang menjalani hidup dengan penuh kebebasan dan gayanya sendiri, Madonna menjadi salah satu ikon yang menginspirasi banyak orang.

Sangat menarik jika membincangkan Madonna; ia seperti tak terhalang generasi dan terdokumentasikan dengan baik di zaman modern.

Menjadi “Madonna”

I wanna be different, I wanna be on my own.” (Madonna, Keep It Together: 1989). Nama lengkapnya Madonna Louis Veronica Ciccone, terlahir sebagai anak ketiga dari delapan bersaudara di Bay City, Michigan.

Pada tahun 1978 pindah ke New York setelah droup out dari kampusnya di Detroid. Bermula dari sini cerita itu dimulai. Hanya bermodalkan sebuah koper dan cita-cita menjadi seorang penari profesional ia berjalan.

Tahun-tahun di New York ia habiskan dengan memainkan berbagai alat musik, mulai dari drum, keyboard, sampai gitar. Selain itu juga menjajaki profesi menjadi model paruh waktu, menarik untuk Alvin Ailey.

Tahun 1982 menjadi awal titik balik dalam kehidupan Madonna. Secara resmi ia mendapatkan kontrak profesional dengan Sire Record (label rekaman yang menaunginya selama 14 tahun).

Kontrak ini menjadi fenomenal karena ditandatangani Seymour Stein (pemilik Sire Record) di salah satu ruangan rumah sakit, saat ia masih terbaring pascaoperasi jantung.

Stein tertarik setelah mendengarkan demo “Everybody” melalui Sony Walkman miliknya.

“Dia bernyanyi dengan sepenuh hati, dan itulah yang terjadi,” kenang Stein “saya ingin menandatanganinya (kontrak). Di Sire, Madonna mendapat keleluasaan untuk mengimplementasikan imaji bermusiknya.

Dalam waktu singkat Madonna hadir di lantai dansa, mengudara di gelombang stasiun radio, dan muncul di televisi (tentu saja).

Kemunculannya di televisi menarik perhatian pemirsa generasi MTV pertama. Madonna digadang-gadang sebagai lambang dari “Perempuan dalam dunia rock”.

Madonna menerabas batasan gender dalam industri musik sampai kepada titik di mana slogan itu tidak diperlukan lagi.

“Jangan beritahu saya apa yang harus dilakukan, karena saya adalah seorang perempuan!” Ungkap Madonna kepada People Magazine pada tahun 2000.

“Jangan katakan bahwa saya tidak dapat melakukan hubungan sesksual dan kecerdesan pada waktu bersamaan… Saya senang menjadi pelopor.”

Madonna menjadi salah satu megabintang di masanya. Menjual 60 juta rekaman di seluruh dunia, menjadi berita utama, dan mencapai tingkat ketenaran yang hanya bisa disaingi oleh segelintir bintang pop, sebut saja, Michael Jackson, Prince, dan Bruce Springsteen.

Tercatat ia memiliki tujuh hits nomor satu di deretan tangga lagu dalam kurun dekade 80-an (dimulai dari album Like a Virgin (1984) hingga Like a Prayer (1989)) tentu saja tiga albumnya Like a Virgin , True Blue, dan Like a Prayer didapuk sebagai album terbaik kala itu.

Madonna mengundang perdebatan dan kontroversi di lagu “Like a Prayer” dan “Papa Don’t Preach.”

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=eq7UFhVvId4]

Madonna menutup dekade 80an dengan mencatatkan tiga album (ditambah album debutnya) yang hingga hari ini masih menjadi bahan perbincangan.

Dan tujuh dari dua puluh singlenya di tahun 80an berhasil bertengger di nomor puncak tangga lagu dunia. Capaian yang hanya bisa disamai oleh Michael Jackson.

Lagi-lagi Madonna hadir di mana-mana.

Madonna juga sempat membintangi beberapa film, sayangnya tidak begitu laris. Madonna hadir dalam film Desperately Seeking Susan (1985), Shangai Surprise (1986), Who’s That Girl? (1987)”, dan Dick Tracy (1990).

Dekade 1980an bisa disebut sebagai tahun-tahun terbaik Madonna, dan sebagai penutup dekade terbaiknya itu dirilis The Immaculate Collection (1990) sebuah kompilasi dari lima belas hits ditambah dua lagu baru.

Dan satu nomor di album tersebut “Justify My Love” (ditulis oleh Lenny Kravitz) memicu kemarahan kaum moralis.

Menjadi Madonna yang “Ambigu”

Era baru ini dibuka oleh Madonna dengan berbagai macam kontroversi, ia benar-benar tidak takut lagi untuk tampil vulgar.

Yang paling sensional, Blond World Tour Ambition, sebuah tur panjang Madonna yang berkonsep rumit, namun tentu saja dengan aksi panggung yang kelewat buka-bukaan.

Sangat mudah baginya dalam tur ini memperagakan gerakan  mansturbasi diiringi tari-tarian erotis, banyak yang mengira hal tersebut salah satu penyebabnya adalah rasa depresi akibat perceraian, bertikai dengan media, dan kasus “Like A Prayer” di tahun 1989.

Ia seperti menyampaikan “tubuhmu, otoritasmu” dengan cara yang paling ekstrem atau menyelewengkan konsep feminisme sama artinya dengan buka-bukaan aurat? Yang pasti dia (tidak) menyesali itu di kemudian hari.

Dan terang-terangan mengakui “break every rule we can” atau sebagai bentuk perlawanan terhadap tatanan moral ideal yang diakui gereja Katolik. Berselang setahun kemudian namaya kembali menjadi headline.

Madonna merilis film dokumenter aksi vulgarnya di atas panggung maupun di luar panggung, film yang berjudul Truth and Dare dirilis tanpa sensor dan lagi-lagi memicu kontroversi, ada yang memuji kejujurannya yang tak ternoda dan tidak sedikit pula yang menghujat bahkan resah melihat tindak-tanduknya yang sudah kelewat batas.

Dan, puncak dari berbagai kontroversi di atas ditutup dengan peluncuran buku yang berisi cerita dewasa dan dipenuhi gambar-gambar erotis Madonna yang berjudul Sex disertai album Erotica.

Album Erotica juga dibarengi dengan tur The Girly Show, hebatnya pada tahun yang sama Madonna meluncurkan label rekaman sendiri Maverick Record bekerjasama dengan Warner Bross.

Setelah bosan dengan berbagai kontroversinya, selanjutnya Madonna mulai melakukan refleksi diri. Tahun 1994, album Bedtime Stories dirilis. Album ini menelurkan “Take a Bow” sebuah balada yang menjadi hit terbesar sepanjang karirnya.

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=XDeiovnCv1o]

Di tahun 1995, Madonna memainkan peran utama dalam film biografi musikal Evita. Madonna memerankan sebagai Eva, pemimpin sekaligus pahlawan perempuan Argentina.

 Kali ini karya-karyanya sudah mulai mendapat respon positif kembali, dan Madonna pun memenangkan gelar Golden for Best Actrees atas perannya sebagai Evita, merupakan penghargaan tertinggi dalam karir filmnya. Soundtrack Evita terjual 4 juta kopi.

Madonna menandakan comeback positifnya melalui album Ray of Light pada 1998. Album ini memiliki materi yang lebih segar setelah empat tahun melarikan diri ke dunia spiritual.Dan Madonna hadir dengan kepercayaan barunya Kabalah.

Unsur-unsur kepercayaan kaballah sangat kental dalam album ini.

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=a4tD8dy9Reg]

Sebagaimana yang diungkapkannya, “Ini tentang saya dan keterkenalan yang membuat saya saat kendali.” kata Madonna kepada USA Today. “Saya meyakinkan diri bahwa (ketenaran) akan cukup menggantikan keintiman yang sebenarnya. (ternyata) Saya sangat naif.”

Tahun 2000 Madonna merilis album Music. Konsep album ini menggabungkan musik folk dan elektronik. Dalam album ini Madonna kembali menjadi pribadi yang berpandangan ekstrover. “Music” single dari album tersebut sukses menjadi –lagu terbaiknya– yang kedua belas sepanjang karirnya saat itu.

Dan baru di tahun 2000 ini Madonna benar-benar mencurahkan perhatian, menghabiskan waktu dengan kehidupan keluarga.

Sayangnya.

Berselang dua tahun setelah menjalani kehidupan baik-baik jauh dari kontroversi, Madonna kembali menjadi sosok kontroversial. Madonna benar-benar sosok yang membingungkan dan mengacaukan semua stereotip publik. Hal itu ditunjukkan lewat album American Life-nya.

Dalam album ini ia kembali melihat dunia melalui ketenaran, kekayaan, konsumerisme, dan lanskap politik kontemporer.

Tentu saja ini sudah cukup menandakan bahwa ia merupakan sosok yang menyukai kontroversi.

 Dan yang menghebohkan Madonna mencium bibir Britney Spears di dalam pertunjukan “Like a Virgin” yang diadakan di sela MTV Music Award pada Agustus 2003.
Publik pun semakin dibuat bingung karena sebulan kemudian ia menerbitkan buku anak-anak pertamanya yang berjudul The English Roses yang menjadi best seller.
Avatar

Michael Jarda

Editor in chief tanpanama.id

Tentang Penulis

Avatar

Michael Jarda

Editor in chief tanpanama.id

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.