Locita

Masih Adakah Masa Depan KAHMI? Catatan Menjelang Munas KAHMI

Ilustrasi: rilis.id

MESKIPUN KAHMI adalah wadah untuk alumni, tapi tak bisa disangkal bahwa KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) lahir dari rahim HMI, bukan sebaliknya. Tak mungkin ada alumni, tanpa melalui proses kaderisasi di HMI.

Meminjam ungkapan Wapres Jusuf Kalla, menjadi KAHMI bukan sebuah pilihan, namun secara otomatis kita dapatkan pasca HMI. Ada keberlanjutan komitmen dan tanggung jawab yang diemban baik semasa di HMI dan setelah menjadi alumni.

Begitulah kiranya prinsip dasar yang perlu kita pegang menjelang Musyawarah Nasional (Munas) KAHMI yang akan digelar tak lama lagi. Sebagai alumni muda, saya ikut berharap Munas kali ini dapat membawa makna baru dalam rangka konsolidasi alumni HMI.

Apalagi dalam suasana perubahan saat ini, Keluarga besar ini dituntut untuk bisa terus memerankan diri secara strategis. Perubahan sosial-politik yang serba cepat butuh panduan moral dan kepemimpinan agar tidak menghasilkan kegamangan dalam pembangunan kebangsaan.

Adapun berkaitan dengan suksesi kepemimpinan di MN (Majelis Nasional) KAHMI, kita perlu gembira dengan tampilnya nama-nama alumni dari berbagai angkatan, dengan beragam latar belakang profesi. Barangkali masing-masing kita punya subjektifitas dalam menilai nama-nama yang ada. Namun melampaui itu, barangkali kita perlu membangun kesepahaman bahwa kepemimpinan KAHMI perlu mewakili keberagaman lintas generasi dan latar belakang profesi tersebut.

Sebagaimana perihal alamiah yang mengakar sejak di HMI, keragaman selalu menjadi modal penting bagi konsolidasi organisasi. Keberagaman adalah kunci juga untuk mendaki gunung yang lebih terjal, di mana saling bergandengan melewati lereng terjal.

Sepanjang bermodalkan niat baik membangun organisasi, siapapun punya hak yang sama untuk mengabdikan diri melalui KAHMI. Kecuali jika hanya untuk melapangkan hasrat pribadi, atau sebagai pelumas agar mobilitas vertikalnya terjaga. Hal semacam ini yang kiranya perlu diwaspadai dengan seksama.

Secara pribadi saya tidak mengenal beberapa nama yang mengemuka dalam pencalonan saat ini. Idealnya, yang layak melanjutkan kepemimpinan KAHMI adalah mereka yang sudah terasa rekam jejaknya untuk HMI.

Sebagai keberlanjutan dari komitmen tersebut, rekam jejak integritas perlu juga ditelaah dengan baik. Rekam jejak itu pula dapat berfungsi sebagai alat diagnostik yang tepat untuk memecahkan pelbagai permasalahan di tubuh baik di HMI atau KAHMI sendiri. Hal itu pula dapat menjadi alat prognosis untuk melihat bagaimana visi dapat membangun masa depan untuk himpunan dan korps alumni.

Saya punya cerita, beberapa tahun lalu saat menjabat sebagai Ketua Umum PB HMI, kami datang mengadu sebagai seorang alumni, seperti adik kepada kakaknya. Namun alih-alih mendengar dan peduli, yang kami dapatkan saat itu malah nada sinis.

Seolah dengan berkontribusi untuk KAHMI maka tanggung jawabnya selesai di HMI. Selama pengalaman saya berkeliling di lebih dari 100-an cabang HMI, tidak sedikit saya menemui alumni yang menjabat di KAHMI, yang tidak lagi peduli dengan adik-adiknya di HMI.

Ada juga yang malah menempatkan HMI sebagai pesaingnya dalam berkiprah di masyarakat. Beberapa senior bahkan mengeluhkan bagaimana korps ini layaknya HMI, membawa proposal kiri-kanan sembari menjual kegiatan-kegiatan. Sayangnya, proposal itu bersanding dengan proposal dinda-dinda di HMI. Saya pikir masih banyak lagi yang mungkin luput dari pandangan saya, yang masih terbilang muda ini.

Korps ini sudah berusia 51 tahun. Kalau dalam kategori periode usia manusia, usia ini adalah usia mapan dan saat untuk memetik buah-buah perjuangan masa lalu. Sudah seharusnya KAHMI menjadi organisasi yang mapan dan mandiri. Sudah seharusnya pula Korps menjadi selayaknya orang tua bagi para kader-kader hijau hitam yang terkadang masih meledak-ledak dan kadang terlampau ekspresif.

Tempat dinda-dinda di HMI melabuhkan harapan. Tempat di mana para kader-kader HMI melihat dan akan terbesit rasa kebanggaan padanya. Tempat di mana segala konflik politik di tubuh HMI dapat menemukan titik terang.

Sambil mengingat-ingat apalagi yang pantas saya berikan sebagai alumni muda, barangkali kita perlu terus mengevaluasi kiprah dan pencapaian KAHMI. Semoga Munas kali ini dapat menghasilkan strategi dan kepemimpinan yang bermakna bagi perjalanan KAHMI di masa mendatang.

Bahagia KAHMI.

Avatar

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Tentang Penulis

Avatar

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.