Locita

Kebijaksanaan Dokter Gigi dalam Pusaran Konflik

Dokter gigi dari PDGI Cabang Kota Bandar Lampung sedang memeriksa gigi siswa SD Al KAutsar, Sabtu (22/10/2015). (Foto: alkautsarlampung.sch.id)

Melihat tajuk berita yang berseliweran di media sosial dan grup yang berkaitan dengan profesi, saya cukup terkejut. Terlebih melihat sekelas pejabat–notabene Ketua DPRD–mau meminta maaf atas statementnya yang menyasar profesi kedokteran gigi.

Ada dua poin yang patut dicermati. Pertama, Masalah beliau Cornelis Buston (CB) dengan Dirut RS Raden Mattaher, drg. Iwan Hendrawan. Masalah itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan, kedua beliau meminta maaf kepada seluruh dokter gigi di Indonesia atas statement dan kekhilafannya.

Kedua poin ini mengakibatkan implikasi dan konsekuensi yang berbeda satu sama lain. Keduanya tidak akan bisa dibahas secara bersamaan karena memiliki domain yang berbeda.

Poin pertama berkaitan dengan dinamika antar instansi pemerintahan. Poin kedua berhubungan dengan kritik tendensius pejabat publik terhadap salah satu profesi di Indonesia.

Untuk poin pertama, saya tak akan begitu mengomentari, karena itu urusan antara sesama pejabat instansi. Hal yang lumrah untuk mengevaluasi dan mengkritisi.

Tapi untuk yang kedua, ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini, pertama bahwa ternyata masih ada pejabat negara yang rendah hati dan siap mengakui atas kesalahan yang dilakukannya.

Beliau tidak segan-segan meminta maaf kepada profesi yang kemarin “diserangnya”. Walaupun pernyataan beliau masih “ingin meminta maaf…”, bukan “meminta maaf”.

Kalimat ini adalah kalimat yang cukup diplomatis dan bersayap. Sangat sering saya dengar dari orang-orang yang “lihai” berpolitik.

Namun begitupun, saya salut atas iktikad baik beliau yang tidak ingin memperpanjang permasalahan tersebut. Memilih meminta maaf untuk mengakhiri konflik.

Besar harapan, masih banyak pejabat-pejabat negara yang memang berbesar hati untuk mengayomi, merangkul. Bahkan meminta maaf ketika mereka melalukan kesalahan. Bukan melakukan tindakan-tindakan yang tidak demokratis/tangan besi dalam mengelola konflik.

Pelajaran kedua adalah, bahwa dalam menyelesaikan konflik, kita tidak harus menang telak untuk menaklukkan lawan. Terkadang kita harus puas untuk mencapai win-win solution agar kedua belah pihak sama-sama untung.

Inilah yang terjadi pada permasalahan ini. CB yang memantik api. Memilih untuk tidak membuang tenaga dengan memanjangkan konflik, dan berusaha mengakhiri konflik dengan berdamai.

Maka, tinggal menunggu giliran PB PDGI, menunggu pernyataan sikap dari PB PDGI atas permintaan maaf CB ini. Tentunya sangat kita harapkan sikap yang arif, bijaksana serta menenangkan yang dikeluarkan oleh PB PDGI. Karena, kebesaran hati kita diuji ketika kita berada di posisi “di atas angin”.

Pada saat itu kita bisa saja menaklukkan lawan yang sudah tunduk di depan kita, namun kita memilih untuk meletakkan pedang. Kemudian membangkitkan tubuh lawan dan merangkulnya untuk menjadi sekutu (allies).

Dalam hidup ini, lawan tidak harus selalu ditumpas, ada yang perlu diampuni agar pasukan semakin besar. Maka memilih jalan damai jauh lebih bijak daripada memperpanjang masalah.

Tentunya setelah poin somasi terpenuhi. Mengutip kata dari drg. Mitra Nasution, “memantik api itu hal mudah, tapi memadamkan api yang sudah membesar, itu sulit”.

Maka sejatinya profesi ini sedang diuji apakah mampu melakukan hal yang sulit untuk kebaikan bersama, jalan tengah untuk semua. Mengutip strategi Sun Tzu nomor 11, “Mengorbankan perak untuk mempertahankan emas.”

Mengorbankan ego untuk tidak memaafkan demi kesolidan bersama. Juga menunjukkan kebijaksanaan profesi serta menjaga silaturahmi, itu adalah langkah yang baik.

Pelajaran ketiga dan yang paling berharga adalah, ternyata profesi yang sering dianggap runner up dari dokter umum ini mampu bersatu dan solid. Utamanya dalam menghadapi permasalahan eksternal yang menimpa profesi.

Dari hal ini kita belajar bahwa, profesi ini akan kuat dan sangat kuat. Jika hanya orang-orang yang berkecimpung di dalamnya mampu bersatu. Bukan hanya untuk membenahi permasalahan eksternal, namun juga internal.

Fokus dengan klinik atau pasien tentunya baik, namun bersatu demi kehormatan dan marwah profesi tentunya jauh lebih baik.

Di momentum yang berkaitan dengan CB ini, dokter gigi di seluruh Indonesia mampu menunjukkan bahwa profesi ini bukan hanya mampu menyembuhkan permasalahan gigi di mulut pasien.

Dokter gigi juga mampu “unjuk gigi”, “menggigit”, dan “bertaring” dalam menjaga harkat dan martabat profesi.

Kedepannya, sangat besar harapan bahwa kesatuan yang utuh ini dapat lebih solid lagi khususnya untuk permasalahan profesi. Masih banyak permasalahan-permasalahan yang membutuhkan kerja sama dan persatuan dokter gigi se-Indonesia.

Seperti advokasi tarif BPJS untuk dokter gigi, perbaikan fasilitas-fasilitas dokter gigi yang mengabdi di wilayah-wilayah Indonesia, dan lain sebagainya. Sebagai penutup, “Satu lidi tak mampu membersihkan sampah, tapi ratusan lidi yang menjadi sapu, mampu menyingkirkan banyak sampah.”

Dendy Dwirizki Gunawan

A lifetime learner. Dent. Non scholæ sed vitæ discimus

Tentang Penulis

Dendy Dwirizki Gunawan

A lifetime learner. Dent. Non scholæ sed vitæ discimus

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.