Locita

Saracen: Antara Hoax, Game dan Sejarah

Sumber foto: toysoldiershpco

Mendengar kata Saracen, sindikat pembuat hoax dan ujaran kebencian yang baru-baru ini ditangkap kepolisian, banyak pihak mungkin merasa heran. Sebab pekerjaan yang dilakoni tidaklah mulia dan tidak manusiawi sama sekali. Disamping menimbulkan kekacauan informasi, pekerjaan itu menyerang  golongan tertentu dan menurunkan harga diri mereka.

Sebenarnya ketika isu Saracen muncul, penulis langsung ingat sebuah game legendaris, Age of Empires. Dalam permainan tersebut Saracen di lukiskan sebagai kerajaan Islam yang kuat. Mereka memiliki pasukan panah dan tentara laut yang cakap. Pemimpinnya dikenal dengan nama Saladin.

Sebagaimana yang telah jamak diketahui, bahwa Saladin adalah nama sebutan untuk Sultan Salahuddin Al Ayyubi yang menaklukkan Yerusalem pada abad ke-12.

Asal usul terminologi Saracen sebenarnya cukup beragam.  Anna Falks dalam karyanya Franks and Saracens: Reality and Myths menyatakan bahwa istilah latin saraceni tidak hanya menyiratkan Arab atau Muslim tetapi semua kelompok manusia yang bukan Kristen dan bukan Eropa. Falks juga mencatat istilah Yunani sarakenos sebuah eksonim untuk suku gurun di utara Sinai.

Sementara itu John V. Tolan dalam bukunya Saracens menyatakan bahwa bagi penulis pada abad pertengahan Saracen dalam istilah Latin dan Romawi berarti pagan. Ekuivalen dengan Istilah Moro dalam bahasa Spanyol Castilia. Oleh sebab itu Raja dinasti Merovingian bernama Clovis disebut Saracen sebelum dia masuk Kristen.

Tolan juga menyatakan bahwa dokumen Estoire du Saint Graal dari abad ke -13 mencatat perjalanan Joseph dari Arimatea dengan Cawan Suci. Catatan tersebut menceritakan Joseph datang ke kota Sarras yang terletak antara Salamandre dan Babilonia. Berdasarkan nama kota tersebutlah istilah Saracen berasal dan Joseph beserta keluarganya disebut Saracen semenjak itu.

Argumen ini dinyatakan untuk membantah cerita bahwa Saracen berasal dari nama Sarah istri Nabi Ibrahim. Orang Yahudi, keturunan Ishaq anak dari Sarah, tidaklah mengambil nama Saracen dari nenek mereka. Mereka mengambilnya dari Sarras, tempat dimana mereka pertama kali belajar agama.

Pada abad sebelumnya, istilah Saracen menyiratkan Muslim sudah mulai berkembang. Misalnya kata Tolan, Willam dari Malsburry menyatakan bahwa Saracen merupakan pengikut ajaran monoteis namun mereka mendirikan patung Muhammad di kuil Yerusalem. Alfonso VI dari Leon dan Castille malah menyebut masjid Toledo sebagai tempat tinggal para setan.

Meskipun demikian, umat Kristen Timur pada awalnya menyebut Saracen sebagai anak cucu Ismail yang datang dikirim Tuhan karena dosa yang diperbuat orang Romawi sudah terlalu banyak. Orang Romawi bahkan telah berbuat jahat kepada gereja-gereja sebagaimana dinyatakan oleh kroniknya Dionysus dari Syria.

Saracen dalam makna Muslim secara eksplisit juga sudah digunakan dalam judul buku pada abad pertengahan. Misalnya buku yang ditulis oleh Guillelmus Ade atau William of Adam yang hidup sekitar abad 12-13. Judulnya adalah Tractatus quomodo Sarraceni sunt expugnandi, diterjemahkan oleh Giles Constable kedalam bahasa Inggris dengan judul How to Defeat Saracens (Bagaimana Menaklukkan Saracen).

Pada bagian awal buku, William mengkritik para pedagang Kristen yang disebutnya sebutnya sebagai “Kristen Palsu”, karena mereka menjual besi, kayu dan termasuk juga minyak kepada Muslim Mesir (Saracen of Egypt). Padahal alat yang mereka jual tersebut dijadikan peralatan perang bagi Muslim Mesir untuk menyerang umat Kristen.

The Cambridge Medieval History volume II yang terbit tahun 1913 berjudul The Rise of The Saracens and The Foundation of the Western Empire juga memuat tiga seri tulisan mengenai Saracen (baca: Muslim), meskipun tidak menjelaskan asal muasal istilahnya.

Pada Chapter ke-X AA Bevan menulis Mahomet and Islam (Muhammad dan Islam). Dalam tulisan tersebut Bevan menceritakan kondisi Arab pra Islam, doktrin Islam sampai kepada kehidupan Nabi Muhammad.

Pada bagian yang lain terdapat dua buah tulisan CH Becker berjudul The Expansion of The Saracens-The East (Ekspansi Saracen ke Timur) dan The Expansion of The Saracens- Africa and Europe (Ekspansi Saracen ke Afrika dan Eropa). Tulisan pertama berisi mengenai persoalan sejarah Islam seperti kekhalifahan Abu Bakar sampai dengan Ali, serta dinasti Umayyah dan Abbasiyah.

Sementara tulisan setelahnya bercerita pendudukan Alexandria oleh Muslim, penguasaan Afrika Utara dengan berdirinya dinasti Idrisiyah dan Fatimiyah sampai kepada kemunduran kekuatan Islam di Sisilia, Spanyol.

Dapat dikatakan bahwa semenjak abad pertengahan, istilah Saracen digunakan untuk menyebut umat Islam yang hadir untuk menyaingi dominasi Kristen. Tentu saja yang masih menjadi pertanyaan adalah, apakah istilah ini digunakan murni sebagai identitas saja, atau malah mendiskreditkan Muslim sebab mempunyai konsepsi yang berbeda mengenai agama. Ada kemungkinan menyatakan Islam sebagai agama pagan pada waktu itu merupakan bentuk pertahanan diri oleh umat Kristen.

Dengan adanya kemenangan yang silih berganti antara pasukan Islam dan Kristen dalam perang salib semakin mengentalkan istilah Saracen. Terminologi itu lalu menjadi oposisi dari Crusader yang mewakili kelompok Kristen. Fakta ini banyak dijumpai dalam sejarah. Misalnya saja David Nicholle dan Angus Mcbride yang dengan apik mencatat kronologis peristiwa berdarah antar umat beragama dalam karya mereka Saladin and Saracens.

Beberapa catatan sejarah diatas tidaklah salah kalau dalam game Age of Empires kekuatan Saracen sangat luar biasa. Begitu pula hadirnya Saracen kontemporer dalam bentuk jaringan yang memproduksi konten ujaran kebencian dan hoax tidak dapat menghapus kebesaran namanya dalam sejarah. Hanya saja Saracen kontemporer tidaklah seberani Saracen yang legendaris itu. Mereka hanya berjuang dibalik layar, bersembunyi dan memaki.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.