Locita

Agamawan dan Kenyinyiran Kita

Mahatma Gandhi (Sumber foto: biography.com)

Takbir Idul Adha berkumandang dan membawa saya pada sebuah ingatan. Beberapa waktu lalu saya mendapat tamparan keras dari seorang perempuan yang telah saya lupakan namanya.

Beberapa menit setelah dia memperkenalkan namanya di depan Mrs. Shobhana Radhakrishna, Chief Functionary, Gandian Forum for Ethical Corporate, India.

Dia bersama saya dan 80 peserta lainnya sedang mengikuti  public lecture di Universitas Indonesia (UI) oleh Gandian Forum. Hari itu mungkin menjadi hari yang sangat menyebalkan sekaligus hari paling berkesan selama saya tinggal di Jakarta.

Kekesalan karena harus menunggu ojek online berjam-jam dan tak bersahabatnya harga ojek konvensional.

Namun tamparan yang diberikan perempuan itu tentu bukanlah dalam bentuk fisik melainkan melalui kata-kata yang harus saya renungkan kembali hingga saya merampungkan tulisan ini.

***

Jika saya berkesempatan dipertemukan dengan Mohandas Karamchand Gandhi alias Mahatma Gandhi. Mungkin saya akan bersujud di depannya menjelaskan betapa bahagianya saya bertemu dengannya langsung.

Saya mungkin akan memanggilnya dengan Cak Gandhi, Habib Gandhi, Gus Gandhi, atau mungkin Anre Gurutta Gandhi.

Tapi mari kita melupakan hal itu, tanpa harus menyesali kalimat saya selanjutnya ini. Seperti halnya Gus Dur, saya mengambil banyak nilai-nilai kehidupan pada perjalanan hidup Gus Gandhi (selanjutnya saya akan menyebutnya Gus Gandhi).

Seperti yang dikatakan oleh Gus Gandhi, “Jika kamu Hindu dan memiliki teman yang muslim maka buat dia menjadi muslim yang lebih taat. Jika dia Nasrani maka buat dia menjadi Nasrani yang lebih taat dengan begitu maka kamu akan menjadi Hindu yang jauh lebih taat.”

Dengan begitu tidaklah dibenarkan adanya penamaan Islam moderat atau Kristen moderat. Karena pada dasarnya agama adalah menerima dan yakin.

Tapi bagaimanakah jika seorang perempuan yang memilih jalan untuk tak beragama tapi mampu menemukan sisi spiritual di dalam dirinya? Kata-kata Gus Gandhi yang paling kita kenal, God Has No Religion, sungguh memberikan pertanyaan besar siapakah para agamawan itu.

Apakah tak ada spiritual jika tak ada agama? Hal ini sekaligus menambah kegelisahan saya saat mendengarkan pemaparan perempuan yang saya temui tiga hari lalu,

“Saat ini saya tak memiliki agama. Saya lebih memilih menjadi manusia yang berspiritual dibandingkan manusia yang beragama. Agama bagi saya bullshit.

Sebagai perempuan yang dengan bangga mengaku muslim. Saya jelas harus marah dengan pernyataan itu. tapi tunggu dulu mari kita mencernanya baik-baik. Sang penyair populer hingga abad milenial, Jalaluddin Rumi pernah berkata,

“Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi, Aku bukanlah orang Majusi, dan Aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Sehingga kita dapat bertemu pada ‘suatu ruang murni’ tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah.”

Ruang murni yang dimaksud Rumi mungkin saja adalah jalan pilihan yang ditemukan oleh perempuan yang mengaku tak beragama tadi. Ruang murni yang tidak dia dapatkan saat menjumpai sekat-sekat dalam beragama.

Saat manusia dalam hidupnya hanyalah memiliki visi beribadah dengan khusyuk agar masuk surga dan hidup bahagia bersama bidadari-bidadari bermata indah.

Seperti ruang murni yang didapatkan seorang lelaki tua dalam film The Little Prince yang amat setia merawat cita-cita masa kecilnya menerbangkan balon udara. Menembus batas-batas langit dan dirinya. Kehidupan sederhana yang menurutnya mampu membawanya pada Tuhan.

Ruang murni itu juga didapatkan seorang perempuan dengan cara  menjadi vegetarian seperti dalam novel Han Kang. Perempuan yang bahkan ingin menjadi pohon.

Ruang spiritual mereka tentu tidak lagi karena amanah ekologis tapi juga proses kosmologis. Penyatuan dengan alam yang tentu dengan menanggalkan jasad dan penciptaannya sebagai manusia.

Bagi saya Gandhi tidak hanya pejuang kemanusiaan dan perdamaian. Tapi dia juga bisa melampui dirinya sebagai hamba Tuhan. Ia mampu mengemban amanah ekologi, keluhuran, dan tentunya spiritualitas yang hari ini  terasa semakin kering kita rasakan sebagai bangsa yang hidup di Nusantara.

***

Dan public lecture yang menampilkan Gus Gandhi itu berakhir. Tapi kalau boleh dan jika diberi kesempatan untuk bertemu dengan perempuan itu lagi.

Sungguh saya ingin mansehatinya dengan beberapa hal. Pertama untuk tidak terlalu serius menggaungkan itu di ruang publik. Kedua, nontonlah ceramah setiap pagi di televisi.

Dengan begitu kamu akan sadar, jalan pikiran sepertimu itu tergolong sesat. Apakah kamu tidak menyadari untuk menjadi perempuan yang solehah saja kita harus menjaga marwah dengan tidak boleh bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahram saat proses salam-salaman di penutup acara. Begitu.

Meskipun saya ingin sekali berendah hati. Jika jalan spiritual yang saya temukan dan mungkin kalian juga pernah dapatkan seringkali tidak melalui sabda-sabda kaum agamawan yang nyinyir menjelaskan langkah-langkah  masuk surga dan petuah-petuah agar tidak masuk neraka.

Apakah tidak boleh saya mengatakan. Jika saya jauh lebih mengingat Tuhan setelah membaca buku-buku Romo Mangunwijaya, Leo Tolstoy, Tagore, Mo Yan, Carlos Maria Dominguez yang memiliki Tuhan yang berbeda dengan saya.

Atau bahkan tak ber-Tuhan sekalipun. Apakah salah jika jalan spiritual itu kita dapatkan melalui musik, atau saat kita mencuci pakaian, menuangkan susu kedelai ke dalam gelas, mengibadahkan kaki untuk membeli mie ayam di warung. Atau saat kau telah selesai membaca tulisan ini.

Satu hal yang pasti, jalan spiritual adalah jalan Ibrahim. Jalan yang penuh pengorbanan, setiap dari kita memiliki Ismail yang perlu disembelih. Dan Gus Gandhi sudah melewati itu.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.