Locita

Indonesia, Tanah yang Diberkati Dengan Harmoni

Ilustrasi (sumber foto: 4.bp.blogspot.com)

BERSEBELAHAN dengan masjid Istiqlal, gereja Katedral, keduanya berdiri megah. Tidak hanya di Jakarta, begitu pula di Malang. Masjid depan alun-alun Kota Malang, juga berdampingan dengan gereja.

Belum lagi di Bali, walau wilayahnya dikenal dengan sebutan pulau para dewa, tetap saja masjid mendapatkan tempat untuk beragama secara bebas. Muslim di Bali mengekspresikan keyakinan beragama tanpa halangan sama sekali.

Kondisi yang hampir sama terjadi bagi masyarakat Muslim di Minahasa, Maluku, dan seluruh tanah Papua. Masing-masing memberikan tempat bagi siapapun untuk beragama sesuai dengan pilihannya sendiri, tanpa mengajukan protes apalagi menghalangi.

Semakin ke timur, semakin toleran dan hidup berdampingan. Harmoni tidak sekadar dilafadzkan tetapi menjadi praktik keseharian. Di Nusa Tenggara Timur, Manado, Ternate, Ambon, Manokwari, sampai ke Merauke. Tak ada perselisihan karena rumah ibadah. Saling menghargai atas pilihan kepercayaan masing-masing.

Di Indonesia juga, menunggu berbuka puasa bukan hanya dilakukan masyarakat muslim saja. Pelbagai keyakinan dan agama datang di acara buka puasa. Mereka menanti tenggelamnya surya bersama kemudian merayakannya dengan makan malam.

Duduk berdampingan penganut Protestan, Katolik, Hindu, Konghuchu, dan Budha. Dengan tuan rumah seorang muslim yang mengundang untuk turut hadir. Walau mereka sejatinya tidak menjalankan puasa. Namun ada tujuan selain berbuka. Pertemuan dalam suasana kekelurgaan dan juga membangun pengertian satu sama lain.

Bahkan di Manado, sampai ke Merauke, terkadang dalam satu keluarga terdiri atas beberapa agama. Tokoh nasional seperti allahuyarham AA Baramuli. Dalam keluarganya tidak hanya muslim tapi juga Protestan.

Begitu pula dengan keluarga Velix Wanggai, di masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudoyono yang diamanahkan sebagai staf ahli. Bahkan keluarganya juga ada yang menganut Katolik.

Bagi masyarakat Fakfak, berbeda agama justru merupakan kesempatan untuk saling menguatkan. Bukan menjadi ajang untuk mencela dan memutus persaudaraan. Pilihan agama semata-mata keyakinan yang tidak memutus sama sekali hubungan persaudaraan.

Bagi masyarakat muslim, saat Natal justru kesempatan terbaik untuk membantu tetangga dan handai taulan untuk memasak. Sehingga ketika warga muslim lain datang untuk menghadiri acara keluarga tidak lagi was-was dengan peralatan masak dan bahan makanan.

Itu juga sebuah peluang masyarakat untuk menghampiri pimpinan pemerintahan untuk sekadar menyampaikan sapa dan salam.

Sampai ke Kaimana, festival dan perayaan dilaksanakan bersama. Ketika umat Islam melaksanakan musabaqah tilawatil quran, pemuda gereja ikut menjadi panitia dan menyumbangkan tenaga.

Mereka secara rutin berlatih, puncaknya saat pembukaan MTQ, pemuda gereja melantunkan shalawat dalam bahasa Irarutum.

Ketulusan itu terbayar. 2017 saat pelaksanaan PESPARAWI se-Tanah Papua, panitia yang berjibaku sebagian besar justru masyarakat muslim. Mereka juga turut menyukseskan acara dan berusaha memberikan layanan kepada para peserta dan pendamping yang hadir. Semuanya hanya soal kemanusiaan.

Sebelum itu pula, di Ambon, terlaksana perkemahan mahasiswa dari perguruan tinggi keagamaan Islam. Lagi-lagi, mahasiswa dari universitas Kristen juga turut hadir dan memeriahkan acara. Mereka bernyanyi bersama dan berusaha memberikan sumbangan untuk kesuksesan acara.

Siswa muslim menyelesaikan pendidikan di sekolah Kristen, sebagaimana Abraham Shamad menamatkan sekolah menengahnya. Demikian pula mahasiswa Protestan dan Katolik justru meraih gelar sarjana di Universitas Muhammadiyah Sorong, dan perguruan tinggi Muhammadiyah yang tersebar di Kupang, Manokwari, Aimas, dan Jayapura.

Termasuk juga Yayasan Pendidikan Islam di Tanah Papua (YAPIS) yang tidak membatasi akses hanya kepada warga muslim untuk menyelesaikan pendidikan di seluruh jenjang lembaga yang dikelola YAPIS. Mulai dari pendidikan anak usia dini sampai tingkat perguruan tinggi. Lembaga YAPIS menjadi pilihan dimana akreditasi dan jaminan mutu yang disandang sudah mendapatkan pengakuan lembaga nasional.

Sebelum kewajiban dalam undang-undang sistem pendidikan nasional termaktub, masyarakat Indonesia sudah saling mendukung untuk memberi kesempatan. Di Namatota, Kaimana, hampir 100% penduduknya muslim. Justru sekolah disediakan oleh yayasan Kristen. Bahkan guru agama Islam juga disediakan. Sepenuhnya gaji juga disiapkan yayasan.

Itu semua merefleksikan bahwa sesungguhnya keberkahan Indonesia terletak pada kemampuan hidup berdampingan. Walau terdapat jurang perbedaan yang teramat dalam, tetap saja tidak menjadikan itu sebagai persoalan.

Walau ada fragmen dalam kehidupan berbangsa yang kelam dimana konflik mendera. Ambon harus merasakan itu. Namun dengan persatuan, konflik diatasi dan akhirnya dapat terlalui.

Tantangannya, di era media sosial sekarang. Bangunan toleransi itu mendapatkan ancaman. Di mana tanpa verifikasi dan juga pemahaman yang utuh, kemudian menyebarkan informasi begitu saja.

Akhirnya yang muncul benih-benih perselisihan. Betapa kami mesti menyiapkan waktu secara khusus, untuk memberikan klarifikasi terhadap informasi yang sesungguhnya diunggah oleh individu yang tidak dikenal.

Belum lagi, pernyataan yang hanya merupakan kasus menjadi generalisasi. Padahal kondisi tanah air kita tidaklah dapat digambarkan hanya dengan satu akun di media sosial saja.

Perlu informasi yang komprehensif dan juga klarifikasi yang memadai untuk menjelaskan sebuah keadaan.

Olehnya, Indonesia bisa bertahan sampai sekarang salah satunya karena perbedaan itulah yang menopang perjalanan kebangsaan. Tentu tanpa menafikan kadang ada hal-hal yang menjadi kerikil dalam hubungan tersebut. Tetapi tidak bisa menjadi alasan bahwa bangsa kita dalam keadaan terancam.

Justru saatnya untuk saling menguatkan dan memberi kesempatan. Indonesia masih tetap relevan untuk terus diperjuangkan sebagai bangsa.

Avatar

Ismail Suardi Wekke

STAIN Sorong

Tentang Penulis

Avatar

Ismail Suardi Wekke

STAIN Sorong

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.