Locita

Bayang-Bayang Corona di Tengah Ramadan

Ilustrasi (foto: tribun)

“Setiap sesuatu yang ada kemudian tidak ada, pasti dirindukan..”

Ramadan sudah mulai lagi, seluruh umat manusia tak terkecuali Islam tengah menghadapi wabah virus Corona atau Covid-19. Jika melihat belahan dunia lain, banyak negara telah melakukan Lockdown untuk memutus sebaran virus ini. Negara +62 jelas tak mau ketinggalan dong, sejumlah wilayah mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan sebagian sudah mulai diberlakukan seperti di Jakarta, misalnya.

Jika PSBB di suatu wilayah diberlakukan, aktivitas masyarakat untuk keluar rumah, berkumpul atau yang lainnya dibatasi. Contohnya Salat Terawih yang biasanya digelar di Masjid-masjid ataupun Musala, sekarnag cukup di rumah aja. Keterbatasan umat Islam untuk beribadah di luar rumah dikuatkan dengan pernyataan resmi lembaga keagamaan, dari MUI hingga PBNU sudah memberikan acuan kepada masyarakat tentang ibadah di Bulan Ramadan tahun ini.

Tentu saja pemberlakuan PSBB dan juga himbauan dari lembaga-le­mbaga keagamaan ini tidak salah, tapi sepertinya akan banyak yang dirindukan dari ramadan sebelumnya. Aktivitas semacam terawih tiap malam dan dilanjut dengan suara speaker berisi tadarus, mungkin tahun ini hampir tidak ada. Well, semoga aja enggak punah deh, karena pas kondisi normal aja kayaknya banyak orang yang males-malesan ngisi masjid.

Oia, kalau sore biasanya kita suka muter-muter cari takjil atau bahasa gaulnya ngabuburit. Tahun sepertinya bakal sepi. Kalian bayangin aja seluruh aktivitas dibatasi, jangan keluar rumah jika tidak penting-penting amet, kalau maksa ada sanksi yang menunggu. Ngabuburit itu kerjaan paling gak penting banget jika dilihat dari sisi kemanfaatan yang mainstream. Mana ada kegiatan muter-muterin jalan itu bermanfaat, iyakan? Yang bermanfaat ya ngaji di rumah masing-masing.

Selain ngabuburit nih ya, kita sering mendapat undangan buat buka bareng (Bukber) dari teman, keluarga, atau juga kolega. Tapi yang banyak ngajak bukber biasanya teman kelas aja sih, dari teman kelas satu SD hingga kelas akhir kuliah, hehe. Kadang juga membuat reuni angkatan dibungkus dengan bukber. Mungkin karena jarang ketemu kali ya, makanya saking banyaknya agenda bukber yang mau nentuin jadwal bukber agak kerepotan.

Bukber biasanya diagendakan dengan berbagai macam acara dan tempat, ada yang di sekolahan kalau temanya dibuat berbarengan dengan reuni angkatan, ada di Cafe pula. Pokoknya dari acara resmi hingga acara yang penting makan-makan aja. Dengan adanya pembatasan sosial ya susah dong. Lah jangankan Bukber, di daerah PSBB lagi, wong gak PSBB dan masih Zona hijau kalau kumpul-kumpul di Cafe sering diusir Polisi. Cafe dan Resto dibatasi jam bukanya.

Tapi mungkin cuma di Indonesia aja kali ya, pas ramadan pada suka Bukber? Entahlah, meski sering terjadi janjian sejak sebelum ramadan hingga selesai salat Ied tak tereksekusi, yang jelas Bukber bagi sebagian orang pasti dirindukan. Karena sebagian orang yang kita kenal, atau mereka yang pernah dekat dengan kita susah ketemu di hari biasa, biasanya di bulan ramadan bisa. Bukber itu ya semacam ritual pelepas rindu tahunan gitu, ceilee…

Terus biasanya juga saudara kita yang merantau pada pulang kampung, dan di desa-desa, kampung-kampung akan ramai dengan mereka. Tapi tahun ini mudik makin susah, bahkan bagi mereka yang di Jakarta sepertinya dilarang. Tidak ada lagi cerita keseruan mereka dari tanah rantau, tak ada lagi duit angpao bagi anak-anak kecil. Kerinduan kepada saudara tak tertepi di tahun ini. Paling cukup dengan telfon, mentok-mentok video call kalau kangen mereka.

Tapi kita tak boleh bersedih dong, bagaimanapun ramadan itu bulan penuh berkah. Mungkin kita tidak bertemu dengan saudara yang di kampung, tapi kesibukan kita terhadap pekerjaan dikurangi. Yang dulunya jarang bukber sama anak dan istri, tahun ini quality time dengan keluarga lumayan banyak. Tak ada lagi drama Istri minta waktu suami untuk curhat, pun juga tak ada anak yang bersedih pengen belajar dan bermain bareng kedua orang tuanya.

Biasanya lebaran identik dengan sesuatu yang baru. Mulai dari baju baru, sandal baru, asal jangan nambah istri baru deh. Dan kabar gembiranya untuk para suami, tahun ini pusat perbelanjaan banyak yang tutup lho… Jadi tak perlu risau kalau anak dan istri minta baju lebaran, cukup sampaikan saja, Mall, toko bajunya tutup. hehehehe

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Add comment

Tentang Penulis

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.