Locita

Saat Facebook Mencontoh WeChat

Sumber Gambar: Theverge.com

Saat Facebook yang berguru kepada WeChat, jerih payah investasi data dan AI oleh Tiongkok mulai terbayarkan

Artikel terbaru Mark Zuckerberg tentang masa depan Facebook telah menarik perhatian luas. Rencana-rencananya untuk Facebook diyakini sebagai “platform pesan dan jejaring sosial yang berfokus pada privasi” yang terinspirasi oleh WeChat dan bertujuan menjadikan Facebook sebagai aplikasi super yang serupa. Kenyataan bahwa ia juga mengomentari sebuah postingan ulang artikel dari tahun 2015, membuktikan bahwa ia seharusnya belajar dari WeChat yang sebelumnya telah mengembangkan teori ini.

Bukan saja ini sebuah haluan baru bagi raksasa internet yang menguasai media sosial dan budaya yang lebih luas, ini adalah pertama kalinya taipan teknologi dari Silicon Valley mengakui bahwa ekosistem digital Tiongkok memang layak dipelajari dan ditiru.

Tapi ini bukan kali pertama Facebook meniru WeChat. Pada 2016, Facebook meluncurkan “Game Instan” di Messenger. Game sudah ada di WeChat untuk beberapa waktu sebelum itu dan Tencent, ‘orangtua’ WeChat, adalah salah satu perusahaan game terbesar di dunia, meskipun baru-baru ini mengalami kemunduran.

Ada beberapa momen kunci ketika sebuah penemuan atau produk merevolusi masyarakat: telepon; mobil; televisi; pesawat terbang; komputer pribadi; smartphone.

Sekarang, adalah momen ekosistem digital. Facebook adalah salah satu ekosistem tersendiri – platform dengan banyak fungsi yang selalu digunakan orang-orang, lagi dan lagi. Bagi sebagian orang, ia berfungsi sebagai internet mini, sedemikian rupa sehingga mereka tidak menyadari bahwa Facebook beroperasi melalui internet. Orang dapat mengirim pesan pribadi ke teman, memposting foto yang dapat dilihat siapa saja yang memiliki akun Facebook, mencari tahu tentang acara lokal, mempromosikan bisnis mereka, dan lainnya dalam satu situs.

Facebook juga memiliki streaming langsung, Facebook Watch untuk serial TV dan Facebook Marketplace untuk berjual beli. Ia memiliki WhatsApp dan Instagram, juga bagian dari ekosistemnya, dan telah meniru fungsi populer dari Snapchat dan lainnya.

Facebook adalah ekosistem digital dominan di Barat. Sementara WeChat adalah ekosistem digital yang dominan di Tiongkok.

Sejak 2013 dan seterusnya, semesta digital Tiongkok meningkat pesat. Pembayaran seluler melonjak dan perusahaan baru muncul membawa e-commerce yang praktis, sistem pembayaran seluler yang berfungsi sama cepatnya secara online maupun offline, dan layanan on-demand tersedia hanya dengan mengklik beberapa tombol. Menghubungkan semuanya bersama dalam sebuah aplikasi super WeChat, dengan perkiraan 1 miliar lebih akun aktif.

Bernama Weixin di Tiongkok, ia telah mendominasi media sosial negara itu. Eksklusifitas interface-nya yang berbahasa Tiongkok dan hanya dapat diunduh dari dalam negeri dengan nomor telepon berbasis Tiongkok. Ia memiliki lebih banyak fungsi dan kemampuan daripada versi internasional. Dapat digunakan untuk berbelanja, memesan taksi, memesan makanan, membeli tiket pesawat, check-in penerbangan, membuat janji temu dokter, membayar tagihan listrik, dan bahkan mengajukan permohonan perceraian di beberapa kota. Tanpa perlu meninggalkan aplikasi.

Ketika melihat pernyataan yang dibuat Zuckerberg dan inisiatif yang diperjuangkan perusahaannya, tampaknya satu tujuan yang ia miliki untuk Facebook adalah membuatnya menjadi internet versi lebih kecil dan lebih mudah dikelola sehingga orang-orang tidak perlu meninggalkan aplikasi… Sama seperti WeChat sekarang di Tiongkok.

Dalam beberapa hal, Facebook dapat dikatakan telah sukses. Namun masih ada beberapa penghalang selama bertahun-tahun, terutama terhadap inisiatif Free Basics, yang menawarkan akses internet gratis di negara-negara berkembang untuk beberapa situs, dimana Facebook menjadi salah satunya.

Di dalam Tiongkok, pencapaian WeChat ini bukan hanya karena pembatasan akses (dengan pengecualian pesaing seperti Alibaba dan situs yang sudah diblokir oleh pemerintah Tiongkok) tetapi dengan menciptakan lebih banyak jalur. Ia belum membuat internet yang lebih kecil, tetapi yang lebih terhubung, tersedia di satu tempat, berpusat pada kebutuhan pribadi dan penggunaan sehari-hari.

Kemajuan digital Tiongkok juga dapat dilihat dari aplikasi TikTok. Aplikasi video pendek ini adalah platform terkemuka di Asia, AS, dan seluruh dunia. Ia telah mencapai 500 juta pengguna aktif bulanan secara global dan merupakan aplikasi non-game paling banyak diunduh di Apple Store pada kuartal pertama tahun 2018.

Dua minggu lalu, Google meluncurkan platform gaming cloud-nya, Stadia, bergabung dengan Microsoft dan Tencent dalam arena gaming. Silicon Valley kini bergeser menghadap ke timur. Demikian juga Berkshire Hathaway. Pada pertemuan pemegang saham tahunan perusahaan pada Mei 2018, Charlie Munger menyebut WeChat sebagai cloud potensial di cakrawala bagi perusahaan kartu kredit seperti American Express.

Selama bertahun-tahun, globalisasi memiliki arti sebagai adopsi global cara-cara Barat. Sekarang jelas bahwa Tiongkok telah mengambil alih peran utama dan memposisikan dirinya di depan panggung dunia. Menurut laporan McKinsey, sebagian besar investasi keluar Tiongkok berfokus pada manufaktur, AI, dan internet. Dalam dekade terakhir, raksasa internet Tiongkok telah membangun laboratorium AI mereka sendiri dan berinvestasi secara agresif di perusahaan AI di seluruh dunia.

Fokus dan investasi data Tiongkok yang tiada henti kini telah terbayar. Dengan populasi lebih banyak daripada tempat lain di dunia dan kumpulan data yang sangat besar, ia memiliki keuntungan besar dalam bidang ini dan menggunakannya untuk penelitian dan pengembangan yang sangat mahal, serta memberi solusi industri dan medis.

Pemerintah Tiongkok terus melanjutkan ” Belt and Road Initiative “, membangun infrastruktur, berinvestasi di berbagai negara dan organisasi, dan berpacu maju dalam teknologi 5G. Huawei, yang mengklaim memiliki solusi komersial 5G tercepat di dunia, akan menggunakan jaringan telekomunikasi 5G yang sangat cepat pertama di dunia di stasiun kereta api Shanghai.

======

Diterjemahkan dari “As Facebook looks to WeChat, Tiongkok’s digital world is wowing the West, and globalisation is no longer a one-way street” oleh Ashley Galina Dudarenok, pakar pemasaran, wiraswasta, dan vlogger Tiongkok. Ia adalah pendiri agensi media sosial Alarice dan perusahaan pelatihan pemasaran ChoZan. South Tiongkok Morning Post 1 April 2019.

farraaziza

Tentang Penulis

farraaziza

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.