Locita

Magis Lafran Pane yang Menyelamatkan Seorang Pemuda

Lafran Pane

SEORANG mahasiswa semester dua datang ke sebuah Basic Training HMI setelah menelan mentah-mentah ucapan seniornya. Anak muda itu mengenakan kaos hitam Black Dahlia Murder, pikirannya hanyalah musik, novel, dan perihal hedonis lainnya.

Dia hanya menguap saat pemateri sibuk menjelaskan alam pikirannya dengan spidol. Istilah-istilah berat mereka pamerkan. Bayangkan, mereka lebih memilih “konstalasi” dibandingkan “tatanan”, “praksis” dibandingkan “tindakan”; dan masih banyak lagi isitilah-istilah lainnya berseliweran. Di pelatihan tersebut, dia juga sangat kesal dengan pembicara yang seakan ingin membongkar keyakinannya.

“Apa artinya bede ini pelatihan?” tuturnya dalam hati, melayangkan kemuakannya pada pelatihan tersebut.

Tidak ada yang masuk dalam pikirannya kecuali satu nama yang menyelamatkannya dari pengusiran di kelas tersebut. Di satu materi yang bernama “konstitusi” seorang pemateri akan mengevaluasi para peserta, bahkan pemateri tersebut akan mencoreti wajah para peserta dengan spidol saat tidak mampu menjawab pertanyaannya. Di salah satu pertanyaan pemateri yang terkenal galak itu adalah, “Sapa pendiri HMI?”

“Lafran Pane!” jawabnya tegas, setelah mendengar bisik-bisik contekan seniornya yang menjadi panitia. Dia selamat dari coretan itu, berkat nama tersebut. Nama itu menjadikan wajah gantengnya selamat dari coretan spidol.

Ah, berkat nama tersebut pula, dia dapat menikmati piknik-piknik sekaligus banyak bakti sosial yang organisasi tersebut lakukan. Pengalaman mengerjakan pasien juga dapat dia rasakan, jauh sebelum rekanan angkatannya mampu melakukan itu.

Oh ya, turut juga beberapa “orang dekat” yang datang dan pergi, tak lepas dari nama dan keterlibatan tidak langsung seorang Lafran Pane dan organisasinya.

Beberapa tahun berlalu. Dia melanjutkan kegiatan-kegiatan lainnya bersama organisasi tersebut. Pelatihan-pelatihan senantiasa dia ikuti. Rasa penasarannya akan pengetahuan membawanya melintasi banyak nama dari Marx hingga Muttahari, dari Sartre hingga Nurcholish Madjid. Sekalipun dia tidak segemilang rekanannya yang lebih gila dalam pusaran diskusi.

Dia mengikuti banyak diskusi-diskusi di pelataran kampus, hingga kamar-kamar kos filsuf dan aktivis kampusnya, Universitas Hasanuddin. Di sana tiada nama Lafran Pane, hingga di satu pelatihan lanjut memaksanya harus mendalami nama tersebut.

Berbekal contekan dan tuturan seorang rekannya yang polymath di audisi peserta pelatihan lanjut, dia ditanyakan soal kisah berdirinya organisasi ini. Alhamdulillah, seorang rekannya sudah menenternya dan memberi contekan kecil yang dapat dia buka secara sembunyi-sembunyi saat audisi.

Berkat pengetahuannya akan pendiri organisasi hijau-hitam itu, dia dapat lulus pelatihan, dan membuatnya tidak menjadi “bulan-bulanan” seniornya di fakultas yang sangat senioritas. Ya, wajarlah. Salah satu hal fardhu-ain dia dan rekan-rekannya adalah mengikuti pelatihan lanjut ini. Senior-seniornya dapat marah sehari semalam tanpa jeda bila mereka tidak mengikuti pelatihan yang cukup membosankan itu.

Setelah pelatihan itu dia mendapat ruang untuk masuk menjadi pendamping pemateri. Lafran Pane beberapa kali dia ucapkan untuk sekedar mendapatkan sanjungan dan kekaguman para peserta Basic Training. Salah satunya lewat omong kosong yang dia obral,

“Lafran Pane itu adalah pionir  Islam yang kontekstual hari ini. Bisa dibaca di buku karangannya, Menjemput Islam Masa Depan.” Sialnya, Lafran Pane belum pernah menerbitkan buku sama sekali. Namun dia menyadari kadangkala meyakinkan orang tidak perlu dengan kebenaran, cukup dengan agitasi.

Salah satu peserta cerdas dan tahu kebohongan kemudian membantahnya. Dia menjadi malu. Takut malu, dia memakai kesalahan berpikir, post hoc ergo propter hoc. Tekanan dengan pernyataan dia lontarkan.

“Buku apa sudah ko baca?!” bentaknya untuk memaksa diam. Untunglah si kritis itu tidak melanjutkan.

Setelah kegiatan itu dia menyadari kesalahannya, dan berpikir bahwa Lafran Pane di atas langit sana marah, sehingga mengutus titisannya dalam bentuk seorang anak yang kritis. Setidaknya lelaki itu menyadari bahwa berbohong dengan menggunakan topeng intelektual adalah tidak baik. Lafran Pane membawanya untuk belajar jujur.

Hampir sembilan tahun berlalu di bangku kuliah, dan dia belum bisa menyelesaikan studinya. Wajarlah, dia bukanlah orang yang pintar, apalagi rajin. Di tahun itu lelaki itu hampir mencapai titik nadir di studinya.

Namun di salah satu acara seminar bertajuk untuk menjadikan Lafran Pane sebagai pahlawan, dia turut menjadi panitia di sana. Di acara tersebut, dia dipertemukan dengan dosen-dosen yang selama ini interaksinya hanya sebatas hubungan dosen-mahasiswa–segan karena sering bermuka masam di lingkup akademik.

Berkat nama itu, dia dapat berinteraksi lebih cair dengan dosen-dosennya itu. Interaksi itu kemudian menjadi api semangat kakak-kakak kepada seorang adiknya. Senior-senior tersebut memberikan titik terang utnuk pemuda yang hampir depresi karena akademik itu. Ya, lagi-lagi nama itu menjadi pahlawan baginya untuk menyelesaikan studi. Beberapa bulan setelahnya, dia menyelesaikan studi dan memiliki gelar dokter gigi di depan namanya.

Setengah tahun setelah kelulusan, lelaki itu memilih merantau ke ibukota. Di sana dia hendak melepaskan identitas HMI-nya. Turut pula dia diperhadapkan dengan lingkungan yang lebih keras dan menuntut segala macam cara untuk terus survive. Saat itu dia belum memiliki pekerjaan sama sekali, di satu siang—atas arahan senior dan rekanannya, dia melenggangkan kaki ke sebuah cafe, tempat nongkrong para senior-seniornya di HMI dan kampus dulu.

Lagi-lagi Lafran Pane menunjukkan tajinya untuk menyelamatkannya dari perut keroncongannya di siang itu. Di situ, diskusi tentang Pak Tua dari Sipirok dan alasan mendirikan organisasi dwi warna itu menjadi pembuka pembicaraan mereka. Topik pembahasan kemudian bergulir dari tema satu ke tema lainnya. Hingga seniornya itu berucap,

“Pesan, Dinda.” Ucapan itu mengakhiri bebunyian di perutnya.

Sekitar akhir tahun 2016, dia dikenalkan dengan seorang perempuan. Komunikasi dengan perempuan itu hanya dilakukannya via telepon, terkait jarak. Salah satu yang mengawali pembicaraannya adalah kebencian perempuan tersebut kepada organisasi dan Pak Tua dari Sipirok yang berkali-kali menyelamatkannya.

Di tahun itu, organisasi itu sedang disorot dan selalu diidentikkan dengan intelektual necis bin anarkis nan pandir. Pengalaman-pengalamanya membantunya mencerdaskan lisannya untuk menjawab. Dengan gegas, dia membalas bantahan-bantahan tersebut, dengan segenap kemampuan dan pengetahuan.

Nyatanya, hal itulah yang membuat perempuan itu terkesan dan menyukainya. Kelanjutannya? Silahkan tebak sendiri.

Beberapa bulan lalu, dia mengikuti salah satu tes bahasa Inggris IELTS. Tes itu adalah kali kedua, setelah sebelumnya gagal. Di sesi speaking test, sang examiner mempertanyakan dalam selembar kertas,

“Jelaskan salah satu tokoh penting di negaramu, dan apa yang membuat dia menjadi terkenal.”

Dia diberi waktu dua menit untuk menjelaskannya. Sebenarnya dia memiliki banyak idola. Dia bisa saja menyebut Chrisye, Joko Widodo, Yockie Suryoprayogo, Jason Ranti, Seno Gumira Ajidarma, Clara Ng, Nurcholish Madjid, atau idola-idola “kids jaman now” lainnya.

Creative Grafis Lafran Pane [Gambar: HMI Cabang Bandar Lampung]
Entah mengapa justru saat itu yang terlintas dalam pikirannya adalah Lafran Pane—sosok yang bisa dibilang tidak dia idolakan sama sekali. Nyatanya, berkat Pak Tua dari Sipirok itu, dia dapat menembus nilai yang diprediksinya buruk. Salah satu yang paling tidak dia sangka adalah nilai speaking-nya–menurutnya saat itu dia banyak kesalahan secara gramatikal dan gugup.

“Bapak yang satu ini memang ajaib di,” batinnya.

Dua hari yang lalu, di gawainya ramai tentang nama magis itu. Ya, Lafran Pane akan dikukuhkan menjadi pahlawan nasional. Di situ dia juga melihat para “kanda-kandanya” duduk bersama Presiden Joko Widodo. Lelaki itu hanya tersenyum tipis, pasalnya Lafran Pane telah menjadi pahlawannya jauh sebelum itu.

Dan pemuda itu bernama Dhihram Tenrisau.

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.