Locita

Fenomena Hewan Liar dan Pengabaian Narasi Ekologis

Sekawanan ular kobra gegerkan warga kampung pada penduduk di Jember dan mengusik kehidupan warga di lingkungan sekitar. Hal ini dianggap sebagai sebuah terror terhadap aktivitas manusia di lingkungan tersebut. Kecemasan warga melanda yang menyebabkan ketakutan terhadap hewan liar ini.

Fenomena ular kobra masuk rumah bukanlah berita baru tentang hewan-hewan liar yang masuk ke pemukiman warga. Sebelumnya, kabar tentang gajah yang masuk pemukiman warga pun membuat warga ketar-ketir dibuatnya. Fenomena lain, misalnya tentang harimau di kabupaten lahat batu utara yang masuk pemukiman warga sehingga membuat warga cemas.

Tidak harmonisnya hubungan antara manusia dan hewan liar bukan semata-mata disebabkan oleh sifat alamiah hewan liar yang buas di alam liar tetapi lebih kepada ekosistem alam liar yang semakin tergerus oleh eksploitasi manusia terhadap alam sehingga menyebabkan lingkungan hewan-hewan liar tersebut semakin menyempit dan hewan-hewan itu pun tidak memiliki wilayah yang cukup untuk hidup.

Relasi hubungan antar makhluk tidak dapat diabaikan begitu saja. Keberagaman makhluk hidup, terutama manusia sebagai makhluk berakal, seharusnya dapat menjembatani hubungan yang lebih baik dan tidak menggusur kehadiran makhluk lainnya. Manusia sebagai makhluk berbudaya tentu saja memiliki akal untuk menanggulangi segala bentuk dampak buruk dari hubungan yang tidak kondusif antara manusia dengan alam. Pesatnya perkembangan kebudayaan semenjak bangkitnya ilmu pengetahuan pada abad pencerahan seharusnya diikuti dengan semakin ramahnya manusia terhadap alam. Yang terjadi adalah keharmonisan itu hanyalah berada pada tataran konsep. Struktur sosial masyarakat luput merumuskan pentingnya menjaga keharmonisan itu, kecuali masyarakat adat yang menaruh perhatian lebih pada lingkungannya.

Pola perilaku manusia terhadap organisme lain mempengaruhi segala bentuk ekosistem lainnya sehingga perlu upaya untuk memandang persoalan antara makhluk hidup yang satu dengan yang lainnya dalam perspektif ekologi budaya.

Ekologi Budaya

Ekologi budaya seringkali luput menjadi perbincangan di ruang publik. Padahal, pendekatan ini jika ditelaah lebih dalam maka wawasan tentang relasi antara manusia dan makhluk hidup lainnya dapat saling menaggapi satu sama lain. Merujuk kepada Julian Steward (1955) yang menggunakan istilah ini pada hubungannya antara manusia dan lingkungannya memiliki keterkaitan dalam bagaimana mempertahankan kelangsungan hidup dari faktor budaya.

Manusia seharusnya memiliki kemampuan adaptasi tentang Ekologi hewan sebagai organisme hidup. Sebaliknya, hewan yang dalam hal ini tidak memiliki wawasan terkait ekologi manusia tentu tidak dapat berbuat apa pun terkait adaptasi yang harus dilakukan hewan terhadap eksistensi manusia di lingkungan.

Penyerobotan lahan untuk kepentingan pertanian adalah perkebunan yang tidak berbasis ekologi hewan tentu saja menyebabkan tergusurnya hewan-hewan yang mendiami kawasan tertentu.

Alih fungsi lahan hutan alam dan gambut di Papua menjadi lahan sawit adalah contoh bagaimana tidak ramahnya manusia terhadap ekologi hewan yang ada di sana. Potensi hewan-hewan endemik ataupun hewan lainnya yang tersisihkan dari lingkungannya sangat tinggi.

Lantas bagaimana manusia bertanggung jawab dalam penyediaan ekosistem terhadap hewan-hewan tersebut. Pembukaan areal perkebunan tanpa meninjau wilayah hidup hewan merupakan bentuk kesewenang-wenangan manusia terhadap hak hidup hewan.

Hak Hidup Satwa Liar

Hak hidup hewan merupakan kewenangan hewan untuk dapat hidup dan mendiami. Hak asasi hewan diatur secara hukum melalui KUHP pasal 302 dan UU No.18 tahun 2019 tentang peternakan dan Kesehatan Hewan. Namun, hukum tersebut belum sepenuhnya dapat menerjemahkan tentang persoalan ekologi hewan. Hukum tersebut hanya mempersoalkan bagaimana seharusnya hewan diperlakukan tetapi abai terhadap ekologinya.

Manusia yang menduduki puncak rantai makanan dapat saja menikmati hak hidup hewan tanpa perlu adanya persetujuan dari hewan tersebut. Praktik ini pada dasarnya adalah perampasan terhadap hak hidup mereka dan cenderung mengarah pada kekerasan. Misalnya pada suatu tradisi adat tertentu yang menggunakan hewan sebagai objek ritualnya.

Lalu, Bagaimana?

Memahami ekologi hewan seharusnya diikuti dengan pemahaman tentang ekologi tumbuhan, dan ekologi manusia. Dengan ketiga pemahaman ini, manusia dapat berinteraksi dengan lingkungan dengan arif dan bijak sehingga tidak lagi terjadi peristiwa manusia merasa cemas atau bahkan bertindak sadis terhadap hewan. Manusia dapat hidup berdampingan dengan memahami ekologi masing-masing.

Pendekatan ekologis yang seringkali hanya menjadi materi diskusi ilmiah sudah waktunya untuk mengambil tempat di panggung diskusi akar rumput dan di tataran aristokrat.

 

Muhammad Fadli Muslimin

Muhammad Fadli Muslimin

Tertarik pada isu-isu pendidikan dan sosial.
Saat ini masih berada di luar lingkaran kesusastraan

Tentang Penulis

Muhammad Fadli Muslimin

Muhammad Fadli Muslimin

Tertarik pada isu-isu pendidikan dan sosial.
Saat ini masih berada di luar lingkaran kesusastraan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.