Locita

Nirwan A. Arsuka, Antara Buku dan Ruang Permainan Si Anak Desa

Nirwan Arsuka di atas Perahu Pustaka (Foto: Nirwan Arsuka)

“Kritik dan eksperimentasi adalah tulang punggung, lebih tepat lagi: nyawa, dari ilmu pengetahuan. Dengan kritik, ilmu mengoreksi penalarannya, menyadari sekaligus memperluas batas-batas teorinya. Dengan eksperimentasi, ilmu bertanya jawab dengan alam semesta tentang hakekat-hakekatnya.”

Paragraf di atas adalah petikan pidato kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta 2015 oleh Nirwan Ahmad Arsuka. Pidato yang diberi judul Percakapan dengan Semesta ini dibacakan Nirwan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Nirwan merupakan budayawan sekaligus pionir dari Pustaka Bergerak yang kini telah memiliki 300 simpul relawan. Para relawan Pustaka Bergerak jumlahnya terus bertambah dari seluruh Indonesia. Mereka menjangkau anak-anak dari kampung ke kampung, dari lereng gunung, dari pulau ke pulau dengan berbagai cara.

Bagi Nirwan, hidup ini adalah permainan, game yang harus dijalani dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Baginya, orang tua yang terlalu serius dan memperlakukan anak-anaknya seperti kuda yang harus dipukul bokongnya agar berdisiplin, senasib dengan guru sebagai korban sistem pendidikan yang keliru.

“Pendidikan kita cenderung memusuhi permainan, kenapa? karena pendidikan kita maunya menghasilkan orang yang gampang diatur, mungkin buat industri, buat birokrasi dan militer,” tutur Nirwan sambil sesekali meneguk air mineral di sampingnya saat ditemui oleh Aco’ Pamatte dan Ais Nurbiyah Al-Jum’ah dari Locita.co

Sebelum mendirikan Pustaka Bergerak pada 2014 lalu, Nirwan merupakan kurator Bentara Budaya Jakarta milik Kompas sejak 2001 hingga 2006. Pada 2012 sampai 2014, ia menjabat sebagai Direktur Freedom Institute. Pendidikan formalnya ialah Sarjana Teknik Nuklir, Universitas Gadjah Mada.

Seusai mengisi sebuah talkshow di Indonesia International Book Fair 2017 di Senayan, Jakarta. Kami mendapatkan waktu pas untuk bertemu dengannya.

Tepat beberapa jam sebelum Hari Aksara Internasional, Nirwan yang mengenakan kaos hitam bertuliskan nama band punk asal Bogor, “The Kuda” dan celana pendek selutut menemui kami di bawah temaram lampu taman dan bau bacin sungai yang membelah Epicentrum. Dia mengungkapkan kegusarannya terhadap minimnya buku-buku yang tersebar bagi anak-anak Indonesia.

Lelaki yang rambutnya mulai keperakan itu membincangkan banyak hal kepada kami depan Epiwalk, kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (7/8). Simak petikan bincang-bincangnya:

Mengapa selama ini Pustaka Bergerak hanya membawa buku untuk anak-anak saja?

Anak-anak itu masih gampang menerima gagasan-gagasan baru, mereka juga rasa ingin tahunya sangat besar. Artinya pikirannya belum terdidik, dididik untuk fokus pada hal-hal tertentu dan dirusak oleh sekolah. Mereka masih sangat terbuka dengan segala macam hal. Juga karena memang masa depan ada di tangan anak-anak ini.

(Mengangkut Si Belang menuju Manokwari menumpang KM Dempo dari pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta. Foto: Nirwan Arsuka)

Ada yang salah pada sistem pendidikan kita selama ini di sekolah?

Sekolah itu kan dalam bentuk tertentu merusak perhatian. Nah, pendidikan kita itu tadi saya bilang cenderung memusuhi permainan. Kenapa, karena pendidikan kita maunya menghasilkan orang yang gampang diatur. Tentu saja disiplin tetap perlu. Namun, disiplin itu muncul tanpa diarahkan, kita akan disiplin karena kita mendapat hasil.

Nirwan menjelaskan sambil mengangkat tangannya, sesekali memandang lurus, memandang sungai di dekat kami berbincang.

Untuk memperbaiki sistem ini apa yang harus dilakukan?

Anak-anak tugasnya adalah bermain, dalam permainan itulah orang menyusun gagasan-gagasan baru, mencari perspektfi-perspektif baru. Temuan-temuan besar di dalam ilmu pengetahuan dan teknologi itu, sebagian besar bermula dari permainan. Dari pertanyaan pertanyaan yang main-main, bukan pertanyaan yang terlalu serius seperti bagaimana misalnya Hari Akhir.

Itu kan yang diajarkan para jenius di dunia seperti Leonardo Da Vinci dan Albert Einstein, khayalan itu katanya lebih penting daripada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan ini hasilnya saja, sumber-sumbernya itu pada imajinasi.

Bagaimana dengan buku-buku di Indonesia Anda menyebutnya ada kekosongan?

Di sini Nirwan menampakkan wajah sedih, mimik mukanya berubah seusai mendengar pertanyaan saya

Buku anak-anak lebih mudah didapat, ketimbang buku untuk orang dewasa. Tapi buku yang baik, seperti memuat permainan yang merangsang pemikiran dan daya khayal tidak banyak beredar. Buku anak-anak kita banyak berisi instruksi, ceramah. Tidak mengajak anak anak untuk menjelajah lebih jauh. Dongeng-dongeng kita saja, misal Malin Kundang menakut nakuti anak kita untuk menjelajah. Terlalu cepat menghukum cerita-cerita kita ini.

Tujuan dari Pustaka Bergerak ke desa itu apa?

Gerakan literasi itu ujungnya menulis  dan membaca. Menyebarkan buku itu tahapan awal saja, kalau misalnya semua desa punya satu saja penulis, kan luar biasa kayanya kita ini.

Jadi ketika sudah lahir penulis di tiap desa berarti gerakan literasi ini sudah digolongkan berhasil?  

Yang jelas kalau orang menulis itu kan penciptaan, Kalau setiap desa bisa melahirkan penulis desa itu pasti juga bisa melahirkan ekonom, pengusaha yang baik penemu yang bagus, efeknya luas, dan itu harus melalui pengetahuan tidak ada cara lain.

Apa harapan dari Anda untuk anak-anak desa ini nantinya?

Tentu tidak semua akan jadi penulis, tapi kalau mereka bisa menulis tentang kampungnya, dan itu dia sebar sangat bagus. Kita maunya begitu, tentu tidak semua anak menulis tentang desanya saja, sedikit imajinatif tapi intinya jangan sampai pedesaan itu hilang dalam sastra Indonesia, karya kontemporer kita kan didominasi oleh kota. Itu tidak salah, karena bagian dalam realitas kita, tapi jangan sampai desa-desa itu kabur dalam karya sastra indonesia.

Di sini Ais sesekali mengibas-ngibaskan tangan mengusir nyamuk yang dari tadi mengitari kami.

(Nirwan Arsuka bersama Kuda Pustaka memasuki sekolah untuk sebagai perpustakaan bergerak. Foto: Nirwan Arsuka)

Berapa kali Anda berkeliling dengan Kuda Pustaka sekarang?

Kalau maunya saya sih selalu mau keliling. Tapi kan kita ini tidak punya donatur yah. Duit ini kita usahakan sendiri relawan-relawan kita itu juga demikian, seperti yang bikin kuda pustaka itu harus ngojek bendi atau tambal ban dulu, kalau ada sisa baru keliling. Tapi ini yang membuat kawan-kawan mungkin lebih militan, karena mereka tidak tergantung pada donasi, memang sulit tapi mereka punya harga diri.

Obrolan ini mulai serius, soal duit. Nirwan cerita jika saja tabungannya masih tebal dia mau terus jalan dengan Pustaka Bergerak. Kini dia juga punya program sendiri menulis panjang

Mengapa kawan-kawan Pustaka Bergerak tidak mencoba mengakses bantuan untuk mendapatkan mobil atau motor misalnya agar memudahkan mengantar buku-buku?

Di sini tiba-tiba Nirwan mengedarkan pandangannya dan memandang mobil yang lalu lalang, sejurus kemudian dia menunjuk sebuah mobil Xenia putih.

Alat kita itu dengan hal-hal yang sederhana saja, ketimbang mobil mungkin bagus, efisien. Tapi (mobil) itu ‘dingin’ karena kita tidak ada hubungan emosional dengannya. Dia datang dibuat orang lain bukan hasil keringat kita sendiri, gerobak itu buatan sendiri, ada unsur bermain juga. Walaupun belum tentu semua kawan bisa paham karena itu tadi, mereka terlalu lama dididik oleh sistem pendidikan kita.

Nirwan menceritakan beberapa relawan Pustaka Bergerak di daerah, mengunjungi desa-desa dengan berbagai macam cara.

Sejauh ini apa harapan terdekat Anda sambil menunggu cita-cita melihat penulis dari desa lahir?

Dulu Kita kan sangat terlambat menemukan bahan bacaan berkualitas. Nah, jangan sampai adik-adik kita juga terlambat, tentu akan ada selalu yang terlambat itu soal interest juga kan. Tapi, jangan sampai keterlambatan itu terjadi karena bukunya tidak ada. Yang terjadi banyak anak-anak tidak beruntung dapat bacaan, sementara game dan narkoba sudah datang duluan.

Nirwan bercerita Pustaka Bergerak adalah proyek bayar utangnya, karena dulu tidak bisa mengakses buku bacaan sehingga kerap membawa pulang buku dari sekolah. Kami bertiga kemudian tertawa mendengar kejahilannya, menyembunyikan buku dari perpustakaan.

Anda optimis bahwa gerakan ini akan menemukan jalan terang dan menjadi sebuah gerakan yang lebih besar?

Iya, kita sebenarnya punya sumber daya, seperti dana. Kita hanya perlu mengkoordinasikan untuk bicara dengan banyak pihak. Lebih penting butuh jaringan untuk mempertemukan ini, contohnya hari pengiriman buku gratis tiap bulan di tanggal 17 yang sudah disetujui oleh Presiden Jokowi.

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.