Locita

Mimpi Kiyai Saleh

Sumber Foto: Merdeka.com

“Saya bermimpi, salah seorang diantara kalian masuk surga dan disambut oleh para malaikat dengan pelukan dan senyuman bahagia!” kata Kyai Saleh di akhir pengajian. Seluruh anggota pengajian terhenyak. Mimpi sang Kyai menggoda pertanyaan dari jamaah.

“Siapa, Kyai?”

“Saya tidak tahu, wajahnya buram. Tetapi perasaan saya, dia berasal dari kampung kita. Mungkin anggota majelis ini”

“Apa mungkin, yang Pak Kyai lihat diri Pak Kyai sendiri?”

“Bukan. Bukan saya! Itu orang lain”

Pengajian berakhir. Seluruh anggota pengajian bergerak maju, berebut mencium tangan Kyai Saleh.

Mimpi Kyai Saleh menjadi isu hangat di kampung. Siapa gerangan orang dalam mimpi Kyai Saleh? Mimpi itu menjadi candu menarik untuk diperbincangkan oleh warga Kampung.

“Ah, itu kan cuma mimpi!”

“Eh, jangan-ko ragukan mimpi seorang Kyai Saleh yang kita tahu semua paling saleh diantara kita”

“Siapa yang paling layak surga di antara kita selain Kyai Saleh?”

“Atau mungkin  Haji Kasing. Dermawan sekali orangnya. Masjid kita jadi megah karena dia. Selalu bikin buka puasa untuk anak-anak yatim”

“Atau Haji Borahima. Dia paling rajin salat jamaah. Liat-mi kalau subuh siapa kalah duluan. Bahkan Kyai Saleh kalah rajin”

Entah karena mimpi Kyai Saleh atau bukan, masjid kecil di sudut kampung lebih ramai dari biasanya. Sepertinya, mereka menunggu lanjutan mimpi Kyai Saleh.

“Kyai??” Tiba-tiba salah seorang mengacungkan jari.

Kyai Saleh menengadahkan wajah sembari mengangguk.

“Siapa orang dalam mimpi Pak Kyai?” Pertanyaan ini disambut ramai.

Kyai Saleh tersenyum.

“Ya…. Saya bertemu dengannya tadi malam. Saya sendiri kaget dan tak percaya”

“Siapa Kyai??”

Kyai Saleh semakin tersenyum, “Maaf. Saya tidak bisa bilang. Nanti orang yang saya sebut namanya merasa riya. Ibadahnya menjadi tidak ikhlas dan gara-gara itu dia tidak jadi masuk surga.”

“Ya.. Kyai. Ndak apa-apaji dibilang. Daripada kami mati penasaran”

“Baik… dalam dua minggu saya akan menyebutkannya”

Ah, jawaban Kyai Saleh semakin membuat penasaran. Perubahan terjadi. Masjid semakin ramai. Yang malas salat berjamaah mulai rajin. Mereka berlomba-lomba berdiri di shaf pertama. Mimpi surga membawa perubahan. Kyai Saleh tersenyum lebar.

Dua minggu kemudian. Masjid dipenuhi sesak oleh warga. Hari ini, rasa penasaran mereka akan terjawab. Sekaligus, menimbang-nimbang siapa tahu yang dimaksud adalah dirinya.

“Siapa Kyai?” Pertanyaan meluncur secepatnya dari mulut seorang jamaah, begitu Kyai Saleh menutup pengajian.

“Saya senang dengan perubahan kalian. Betapa hebatnya surga itu. Ribuan tahun lalu Alquran sudah mengabarkan bahwa setiap orang baik akan masuk surga tapi kalian tidak percaya. Kalian menganggapnya dongeng. Tetapi begitu surga terasa dekat dengan kalian, barulah kalian percaya”

Semua yang hadir tertegun. Lalu curiga. Jangan-jangan ini siasat Kyai Saleh agar orang lebih ramai salat berjamaah di masjid.

“Jadi orang dalam mimpi Pak Kyai tidak ada?” Salah seorang jamaah terdengar lesu.

“Ada. Saya tidak berbohong. Kalian akan tahu”

Kyai Saleh terdiam. Suasana menjadi hening. Mereka menanti dengan berdebar-debar. Siapa nama yang akan disebut oleh Kyai Saleh?

Keheningan pecah. Seorang perempuan datang dengan langkah tergopoh-gopoh. Lalu, berkata dengan suara lirih, “Kyai. Daeng Caddi meninggal dunia!”

Innalillah wa inna ilaihi rajiun.”

Kyai Saleh memejamkan mata dan merapalkan doa. Lalu berkata, “Itu lelaki yang ada dalam mimpi saya”

“Daeng Caddi?” semua yang hadir terkesiap. Tidak ada yang percaya. Daeng Caddi di mata mereka bukan orang yang layak dalam mimpi Kyai Saleh.

“Apa yang istimewa dari orang ini, Pak Kyai?”

Kyai Saleh bercerita. Dua minggu belakangan. Tanpa disadari oleh  para jamaah masjid, Kyai Saleh memerhatikan tingkah Daeng Caddi. Daeng Caddi sebenarnya selalu datang cepat terutama saat salat subuh.

Tetapi Daeng Caddi hanya duduk di teras, menunggu hingga semua jamaah datang. Ketika iqamat dikumandangkan barulah dia masuk. Bahkan kadang-kadang, Kyai Saleh sengaja datang terlambat salat subuh untuk memperhatikan lelaki yang ada dalam mimpinya itu.

“Mengapa engkau tidak pernah salat di shaf pertama, Daeng Caddi. Bukankah engkau punya kesempatan mendapatkan pahala yang besar shaf pertama?” Tanya Kyai Saleh, suatu saat.

“Saya malu, kyai?”

“Malu?”

“Saya merasa paling tidak mulia di sini. Saya tidak berilmu. Saya tidak berani duduk di shaf terdepan berhadapan dengan Tuhan. Saya takut dengan pandangan orang. Saya orang hina Kyai. Apalagi, Saya juga punya penyakit. Saya takut orang tidak khusyuk karena sakit yang saya derita. Cukuplah saya di bagian belakang, Kyai. Itu tempat saya”

Kyai Saleh manggut-manggut mendengar jawaban Daeng Caddi. Sakit yang disebut oleh Daeng Caddi itulah yang menjadi jalannya menuju kematian.

“Saudaraku, jamaah pengajian. Daeng Caddi menggunakan ilmu ikhlas dalam beribadah. Dia tidak butuh pendapat orang. Dia tidak butuh penilaian orang. Dia tidak butuh swafoto. Bahkan sepertinya dia tidak mengejar pahala.

Dia merasa tidak mulia. Dan justru karena ketawadhuannya itu sepertinya Tuhan mengangkat derajatnya. Tingkatan tertinggi dalam beribadah adalah keikhlasan. Dan ikhlas bisa dilakukan dengan banyak cara. Daeng Caddi memilih cara itu. Saudaraku, Surga itu sederhana. Ikhlas, tidak riya, dan rendah hati.”

Semua jamaah terhenyak.

“Mari kita urus jenazah Daeng Caddi!” Ajak Kyai Saleh.

Avatar

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Tentang Penulis

Avatar

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.